Cari

Klik huruf yang tersedia untuk mengetahui daftar glossary

Pattern 1

Automated Market Maker

Apa Itu Automated Market Maker (AMM)? Kok Bisa Jual Beli Crypto Jalan Sendiri?

Pernah nggak kamu pesan makanan lewat aplikasi, lalu dalam hitungan menit pesanan langsung diproses tanpa perlu telepon restoran satu per satu?

Atau mungkin kamu pernah ambil uang di ATM tengah malam. Kamu nggak perlu menunggu teller datang, nggak perlu ngobrol dengan siapa pun, dan semuanya berjalan otomatis.

Nah, kurang lebih seperti itulah pengalaman yang ditawarkan oleh Automated Market Maker (AMM) di dunia crypto.

Lucunya, banyak orang yang sudah sering swap token di platform DeFi, tapi sebenarnya belum benar-benar paham apa yang terjadi di balik tombol "Swap" yang mereka klik.

Padahal setiap kali kamu menukar token, ada sistem yang bekerja diam-diam di belakang layar. Sistem inilah yang memastikan transaksi tetap bisa berjalan meski nggak ada pembeli atau penjual yang sedang online di saat yang sama.

Kalau kamu baru mulai belajar crypto atau lagi penasaran dengan dunia DeFi, memahami AMM bisa bikin banyak hal terasa lebih masuk akal. Karena setelah tahu cara kerjanya, kamu bakal sadar kalau teknologi ini sebenarnya cukup keren.

Jadi, AMM Itu Sebenarnya Apa Sih?

Kalau dijelaskan sesederhana mungkin, AMM adalah sistem yang memungkinkan orang membeli dan menjual aset crypto tanpa perlu perantara.

Nggak ada broker. Nggak ada market maker tradisional. Nggak ada pihak yang harus mempertemukan pembeli dan penjual. Semuanya diatur oleh program otomatis yang berjalan di blockchain. 

Makanya namanya Automated Market Maker. "Automated" karena semuanya berjalan otomatis. "Market Maker" karena sistem ini bertugas menjaga pasar tetap aktif dan transaksi tetap bisa dilakukan kapan saja.

Bayangkan ada sebuah mesin penjual minuman. Kamu memasukkan uang, pilih minuman yang diinginkan, lalu minuman keluar. Kamu nggak perlu menunggu pemilik mesin datang untuk menyerahkan minuman secara langsung. AMM bekerja dengan konsep yang mirip. Bedanya, yang ditukar bukan uang dan minuman, melainkan aset crypto.

Sebelum Ada AMM, Transaksi Crypto Gimana?

Supaya lebih mudah memahami kenapa AMM dianggap inovatif, kita mundur sedikit. Di banyak bursa tradisional, transaksi biasanya menggunakan sistem yang disebut order book.

Sederhananya begini. Ada orang yang mau jual. Ada orang yang mau beli. Kalau harga yang mereka inginkan cocok, transaksi terjadi. Kalau belum cocok? Ya tunggu. Masalahnya, sistem seperti ini sangat bergantung pada jumlah pengguna yang aktif.

Kalau pembelinya sedikit, transaksi bisa lebih sulit terjadi. Kalau penjualnya sedikit, harga bisa bergerak lebih ekstrem. Nah, AMM mencoba menyelesaikan masalah tersebut dengan cara yang berbeda. Alih-alih mempertemukan pembeli dan penjual, AMM menyediakan "tempat penyimpanan aset" yang bisa langsung digunakan untuk transaksi. Tempat penyimpanan itulah yang disebut liquidity pool.

Liquidity Pool: Kolam yang Jadi Tempat Nongkrong Aset Crypto

Nama "liquidity pool" memang terdengar teknis. Padahal kalau diterjemahkan secara santai, ini cuma kumpulan aset crypto yang disimpan dalam satu tempat.

Bayangkan ada kolam berisi dua jenis bola. Satu sisi berisi bola ETH. Satu sisi lagi berisi bola USDT. Saat seseorang membeli ETH, beberapa bola ETH keluar dari kolam. Sebagai gantinya, bola USDT masuk ke kolam. Begitu terus setiap hari. Makanya disebut pool atau kolam. Karena aset-aset tersebut dikumpulkan dalam satu wadah yang bisa digunakan siapa saja untuk bertransaksi.

Nah, Kalau Nggak Ada Orang yang Menentukan Harga, Harganya Ditentukan Siapa?

Ini pertanyaan yang sering muncul. Dan jujur saja, ini juga bagian yang biasanya bikin orang mulai mengernyitkan dahi. "Kalau nggak ada penjual yang menentukan harga, terus harga tokennya siapa yang ngatur?" Jawabannya: matematika.

Tapi tenang. Nggak seseram itu. AMM menggunakan rumus otomatis yang membuat harga berubah sesuai kondisi di dalam liquidity pool. Logikanya mirip seperti hukum persediaan barang. Kalau stok sebuah barang mulai menipis karena banyak dibeli orang, biasanya harga akan naik. Sebaliknya, kalau stoknya berlimpah, harga cenderung turun.

AMM melakukan hal yang sama secara otomatis. Semakin sedikit jumlah token yang tersisa di pool, semakin tinggi nilainya. Semakin banyak jumlah token yang tersedia, semakin rendah nilainya. Jadi harga bukan ditentukan oleh manusia, melainkan oleh kondisi aset yang ada di dalam pool.

Terus Siapa yang Mengisi Liquidity Pool?

Nah, ini bagian yang menarik. Karena jawabannya adalah: pengguna biasa. Termasuk kamu, kalau suatu hari memutuskan untuk ikut berpartisipasi. Orang yang menyimpan asetnya ke dalam liquidity pool disebut Liquidity Provider (LP). Mereka menyetorkan pasangan aset tertentu ke dalam pool agar bisa digunakan oleh trader lain. Sebagai gantinya, mereka mendapatkan bagian dari biaya transaksi yang terjadi di dalam pool tersebut.

Kalau diibaratkan, LP itu seperti orang yang menyewakan lapak di pasar. Lapaknya dipakai untuk aktivitas jual beli. Lalu setiap ada transaksi, pemilik lapak mendapat bagian keuntungan. Kurang lebih seperti itu konsep dasarnya.

Kenapa Banyak Orang Tertarik Jadi Liquidity Provider?

Karena manusia suka melihat asetnya menghasilkan sesuatu. Kalau ada uang menganggur, sebagian orang menaruhnya di deposito. Kalau punya rumah kosong, sebagian orang menyewakannya.Kalau punya saham, sebagian investor berharap mendapat dividen.

Di dunia DeFi, ada orang yang memilih memasukkan asetnya ke liquidity pool untuk mendapatkan bagian dari biaya transaksi. Secara psikologis, ini menarik karena memberi perasaan bahwa aset yang dimiliki tetap "bekerja". Tapi di sinilah jebakan yang sering terjadi. Banyak orang terlalu fokus pada potensi cuan, sampai lupa bertanya: "Risikonya apa?" Padahal pertanyaan itu justru yang paling penting.

Enaknya Pakai AMM Apa Saja?

Bisa Dipakai Kapan Saja

Crypto nggak mengenal jam buka dan jam tutup. Mau swap token jam 3 pagi? Bisa. Mau transaksi saat libur panjang? Bisa juga. AMM tetap berjalan.

Nggak Perlu Perantara

Semuanya dilakukan langsung lewat smart contract. Nggak perlu broker. Nggak perlu pihak ketiga. Nggak perlu menunggu orang lain menyetujui transaksi.

Lebih Terbuka

Salah satu alasan DeFi berkembang pesat adalah karena aksesnya relatif terbuka. Selama punya koneksi internet dan dompet crypto, siapa pun bisa ikut berpartisipasi.

Bisa Dapat Fee Tambahan

Kalau menjadi Liquidity Provider, kamu berpotensi mendapatkan bagian dari biaya transaksi yang terjadi di dalam pool. Makanya banyak orang tertarik menjelajahi ekosistem DeFi lebih jauh.

Tapi Jangan Lupa, Ada Risikonya Juga

Kalau ada satu aturan yang hampir selalu berlaku dalam dunia keuangan, itu adalah: Semakin menarik potensi hasilnya, semakin penting memahami risikonya. AMM juga begitu.

Impermanent Loss

Ini istilah yang sering membuat pemula langsung membuka Google. Sederhananya, impermanent loss adalah kondisi ketika nilai aset yang kamu simpan di liquidity pool menjadi lebih rendah dibandingkan jika aset tersebut hanya kamu simpan di wallet. Kedengarannya sederhana, tapi dampaknya bisa cukup signifikan kalau pergerakan harga aset sangat besar.

Risiko Smart Contract

Karena semua berjalan menggunakan kode program, selalu ada kemungkinan muncul bug atau celah keamanan. Memang tidak sering terjadi, tetapi tetap perlu diperhatikan. Makanya banyak investor memilih platform yang sudah memiliki reputasi baik dan audit keamanan yang jelas.

Slippage

Pernah lihat harga suatu barang Rp100 ribu, tapi saat checkout berubah jadi Rp102 ribu? Kurang lebih seperti itu. Di dunia crypto, kondisi ini disebut slippage. Biasanya terjadi ketika likuiditas rendah atau transaksi yang dilakukan cukup besar.

Jadi, Perlukah Memahami AMM?

Kalau kamu hanya membeli dan menyimpan crypto untuk jangka panjang, mungkin AMM bukan hal pertama yang perlu dipelajari. Tapi kalau mulai tertarik dengan DeFi, DEX, liquidity pool, yield farming, atau berbagai peluang lain di ekosistem blockchain, memahami AMM bakal sangat membantu.

Karena pada akhirnya, banyak layanan DeFi yang sebenarnya berdiri di atas konsep ini. Dan semakin kamu paham cara kerja sebuah sistem, semakin kecil kemungkinan kamu mengambil keputusan hanya karena ikut-ikutan tren. Di dunia crypto, itu adalah keuntungan yang sering kali lebih berharga daripada sekadar mengejar cuan sesaat.

 

Pelajari istilah kripto lainnya:

 

Disclaimer: Seluruh informasi yang disampaikan disusun oleh mitra industri dengan tujuan memberikan edukasi kepada pembaca. Kami menyarankan Anda untuk melakukan riset secara mandiri dan mempertimbangkan dengan matang sebelum melakukan transaksi.

Bagikan melalui:

Pattern 1Pattern 1Pattern 1Pattern 1Pattern 1
Blur 2

Belajar, Investasi, dan Tumbuh Bersama Kami

Jadilah bagian dari FLOQ. Mulai perjalanan investasimu dengan platform terpercaya dari hari pertama.

Google PlayApp Store
Blur 2Blur 2Device