
Automated Market Maker
Apa Itu Automated Market Maker?
Sahabat Floq, dalam dunia keuangan tradisional, aktivitas jual beli aset biasanya membutuhkan perantara seperti broker atau market maker manusia. Namun, di dunia decentralized finance (DeFi), hadir konsep inovatif bernama Automated Market Maker (AMM)—sebuah sistem algoritmik yang memungkinkan perdagangan aset crypto berlangsung secara otomatis, tanpa harus bergantung pada pihak ketiga.
AMM menggantikan peran buku order (order book) dengan liquidity pool, di mana harga ditentukan bukan oleh permintaan dan penawaran secara langsung, tapi melalui rumus matematika yang sudah diprogram sebelumnya.
Bagaimana Cara Kerja AMM?
1. Liquidity Pool sebagai Sumber Aset
Daripada mencocokkan pembeli dan penjual, AMM menyediakan likuiditas dari pengguna lain yang menyetorkan aset ke dalam pool likuiditas. Setiap pasangan token (misalnya ETH/USDT) berada dalam satu pool.
2. Rumus Penentuan Harga Otomatis
Harga token di dalam AMM ditentukan menggunakan formula matematika. Salah satu rumus paling umum adalah:
x * y = k
Dalam rumus ini:
- x = jumlah token A dalam pool
- y = jumlah token B dalam pool
- k = konstanta tetap
Saat seseorang membeli token A, maka jumlah x menurun, dan y meningkat untuk menjaga agar hasil kali x dan y tetap sama. Inilah yang menyebabkan harga berubah secara otomatis.
3. Peran Liquidity Provider (LP)
Pengguna yang menyetor token ke dalam pool disebut Liquidity Provider (LP). Sebagai imbalannya, mereka mendapat bagian dari biaya transaksi yang dihasilkan dari aktivitas trading dalam pool tersebut.
Keunggulan Automated Market Maker
- Tanpa Perantara
Kamu bisa melakukan transaksi crypto secara langsung melalui smart contract, tanpa perlu menunggu konfirmasi dari penjual atau pembeli lain.
- Terbuka 24/7
Karena sistemnya otomatis dan berbasis blockchain, AMM berjalan nonstop tanpa downtime.
- Siapa Pun Bisa Menyediakan Likuiditas
Dengan menyetor aset ke pool, Kamu dapat ikut serta dalam ekosistem dan meraih pendapatan pasif dari biaya transaksi.
- Mendorong Inklusi Finansial
AMM memungkinkan siapa saja untuk mengakses perdagangan aset digital, bahkan tanpa akun bank.
Risiko Menggunakan AMM
Meskipun praktis dan efisien, Sahabat Floq juga perlu memahami risikonya:
- Impermanent Loss: Kerugian sementara yang terjadi saat harga token dalam pool berubah drastis.
- Risiko smart contract: Bug atau celah keamanan dalam kontrak pintar dapat dieksploitasi oleh pihak tak bertanggung jawab.
- Slippage: Perubahan harga akibat volume transaksi besar dalam pool yang likuiditasnya rendah.
Automated Market Maker Mengubah Cara Dunia Bertransaksi
Automated Market Maker (AMM) telah menjadi jantung ekosistem DeFi dengan menghapus ketergantungan pada perantara dan menciptakan sistem perdagangan yang lebih terbuka, cepat, dan efisien. Untuk Sahabat Floq yang sedang menjelajah dunia crypto, memahami cara kerja AMM akan sangat membantumu dalam mengevaluasi strategi trading, staking, atau menyediakan likuiditas di platform DeFi.
Disclaimer: Seluruh informasi yang disampaikan disusun oleh mitra industri dengan tujuan memberikan edukasi kepada pembaca. Kami menyarankan Anda untuk melakukan riset secara mandiri dan mempertimbangkan dengan matang sebelum melakukan transaksi.
Bagikan melalui:

Kosakata Selanjutnya
Autonomous Economic Agent (AEA)
Entitas berbasis software yang mampu membuat keputusan ekonomi sendiri, bertransaksi, dan berinteraksi dengan sistem tanpa campur tangan manusia. Dikembangkan untuk mendukung ekosistem digital otonom.
Back-to-Back Letters of Credit
Dua surat kredit terpisah yang saling terhubung, digunakan dalam perdagangan internasional antara penjual perantara, pembeli, dan pemasok. Digunakan untuk memfasilitasi transaksi tanpa mengungkapkan identitas pihak akhir.
Backflush Costing
Metode akuntansi biaya yang menunda pencatatan biaya hingga produk selesai, lalu mengalokasikannya sekaligus berdasarkan output. Cocok untuk proses produksi berulang dengan kontrol inventaris otomatis.
Backlog
Jumlah pekerjaan, pesanan, atau permintaan pelanggan yang belum selesai diproses oleh perusahaan. Meningkatnya angka ini bisa menandakan permintaan tinggi atau masalah kapasitas produksi.
Backorder
Situasi di mana suatu produk tidak tersedia saat dipesan tetapi dijadwalkan untuk dikirim setelah stok kembali. Umumnya terjadi saat permintaan melebihi persediaan yang ada.


