Cara Menghitung Warisan dengan Benar!

Tips & Trick

16 Oct 2026

9 menit

Ditulis oleh: Karin Hidayat

Pattern 1
Article

Membagi harta peninggalan keluarga ternyata nggak sesederhana membagi uang dengan jumlah ahli waris. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan sebelum menentukan bagian setiap orang. Mulai dari menghitung total harta, mengurangi utang, hingga memahami aturan hukum waris yang berlaku.

Karena itu, memahami cara menghitung warisan menjadi hal penting, terutama ketika keluarga ingin membagikan rumah, tanah, tabungan, atau aset lainnya setelah seseorang meninggal dunia.

Kesalahan dalam menghitung warisan bisa memicu perselisihan keluarga. Apalagi kalau ada aset yang belum tercatat, utang yang belum dibayar, atau ahli waris yang memiliki hak berbeda.

Nah, supaya pembagiannya lebih jelas, kamu perlu memahami dasar perhitungan warisan terlebih dahulu. Prosesnya bisa berbeda tergantung pada hukum yang berlaku, agama pewaris, status perkawinan, dan hubungan keluarga dengan orang yang meninggal.

Dalam artikel ini, kamu akan mempelajari cara menghitung warisan, contoh perhitungannya, serta hal-hal penting yang perlu diperhatikan agar pembagian harta dilakukan secara tepat.

Apa Itu Warisan?

Warisan adalah harta atau hak yang ditinggalkan seseorang setelah meninggal dunia dan dapat dialihkan kepada pihak yang berhak menerimanya.

Harta warisan bisa berupa berbagai jenis aset, seperti:

  • Uang tunai dan tabungan.
  • Rumah, tanah, atau bangunan.
  • Kendaraan bermotor.
  • Emas dan barang berharga.
  • Saham atau investasi lainnya.
  • Hak atas aset tertentu yang dapat diwariskan menurut hukum.

Namun, perlu dipahami bahwa tidak semua harta yang terlihat dimiliki seseorang otomatis menjadi harta warisan yang bisa langsung dibagikan.

Misalnya, seseorang meninggal dunia dan meninggalkan rumah yang dibeli selama perkawinan. Jika rumah tersebut merupakan harta bersama, bagian pasangan yang masih hidup perlu diperhitungkan terlebih dahulu sesuai aturan yang berlaku.

Selain itu, utang pewaris dan kewajiban lain yang harus diselesaikan juga dapat memengaruhi nilai harta yang nantinya dibagikan.

Jadi, langkah pertama bukan langsung menentukan siapa mendapat berapa persen. Kamu perlu memastikan dulu aset apa saja yang benar-benar menjadi bagian dari harta peninggalan.

Apa Saja yang Perlu Diketahui Sebelum Menghitung Warisan?

Sebelum masuk ke rumus dan contoh perhitungan, ada beberapa hal yang perlu kamu pahami.

1. Total Harta yang Ditinggalkan

Catat seluruh aset yang dimiliki pewaris. Jangan hanya menghitung uang di rekening.

Kalau pewaris memiliki rumah, tanah, kendaraan, emas, deposito, atau investasi, semuanya perlu diidentifikasi.

Untuk aset yang nilainya bisa berubah, seperti properti dan investasi, tentukan nilai yang relevan berdasarkan kondisi dan ketentuan hukum yang berlaku.

Kamu juga perlu menyiapkan dokumen pendukung, seperti sertifikat tanah, bukti kepemilikan kendaraan, rekening, dan dokumen investasi.

Tujuannya agar nilai harta yang dihitung tidak hanya berdasarkan perkiraan.

2. Utang dan Kewajiban Pewaris

Utang merupakan salah satu hal yang perlu diperiksa sebelum harta dibagikan kepada ahli waris.

Contohnya, pewaris masih memiliki cicilan rumah, pinjaman pribadi, atau kewajiban pembayaran lainnya.

Jumlah utang dan kewajiban yang harus diselesaikan perlu diidentifikasi dengan jelas. Jangan sampai seluruh aset langsung dibagi, padahal masih ada kewajiban yang harus dipenuhi.

Dalam hukum waris Islam, misalnya, penyelesaian kewajiban pewaris menjadi bagian penting sebelum pembagian warisan kepada ahli waris. Pelaksanaannya tetap perlu mengikuti ketentuan hukum yang berlaku.

3. Status Harta Bersama dan Harta Pribadi

Status kepemilikan harta juga memengaruhi perhitungan warisan.

Dalam perkawinan, ada kemungkinan sebagian aset merupakan harta bersama pasangan. Ada pula aset yang termasuk harta pribadi, misalnya harta bawaan atau harta yang diperoleh melalui warisan maupun hibah, sesuai ketentuan hukum yang berlaku.

Karena itu, kamu perlu membedakan kedua jenis harta tersebut.

Contohnya, sebuah rumah senilai Rp1 miliar dimiliki sebagai harta bersama pasangan. Jika berdasarkan ketentuan yang berlaku masing-masing pasangan berhak atas setengah bagian, maka bagian pasangan yang masih hidup adalah Rp500 juta.

Bagian Rp500 juta milik pewaris kemudian diperhitungkan sebagai bagian dari harta peninggalan, setelah memperhatikan kewajiban lain yang relevan.

Perlu diingat, angka tersebut hanya ilustrasi. Penentuan bagian harta bersama yang sebenarnya bergantung pada status kepemilikan, perjanjian perkawinan jika ada, serta aturan hukum yang berlaku.

4. Siapa Saja Ahli Warisnya?

Ahli waris adalah orang yang memiliki hak untuk menerima warisan berdasarkan hukum yang berlaku.

Dalam hukum waris Islam, ahli waris dapat mencakup pasangan, anak, orang tua, dan anggota keluarga lain yang memenuhi ketentuan.

Sementara itu, hukum waris perdata memiliki ketentuan tersendiri mengenai golongan ahli waris dan hubungan keluarga.

Artinya, kamu tidak bisa langsung membagi warisan hanya berdasarkan jumlah anggota keluarga.

Misalnya, seseorang meninggalkan pasangan, dua anak, dan orang tua. Perhitungan bagiannya perlu mempertimbangkan hukum waris yang berlaku dan kondisi keluarga tersebut.

Karena itu, identifikasi ahli waris perlu dilakukan sebelum menghitung bagian masing-masing.

Cara Menghitung Warisan Langkah demi Langkah

Setelah memahami dasar-dasarnya, sekarang kita masuk ke cara menghitung warisan.

Secara umum, prosesnya dimulai dengan mendata aset, menentukan bagian harta yang benar-benar milik pewaris, menyelesaikan kewajiban, lalu menghitung bagian setiap ahli waris berdasarkan hukum yang berlaku.

Berikut langkah-langkahnya.

1. Hitung Total Nilai Aset

Langkah pertama adalah menghitung seluruh aset yang ditinggalkan.

Misalnya, seseorang meninggal dunia dan memiliki aset sebagai berikut:

  • Tabungan: Rp200 juta.
  • Rumah: Rp800 juta.
  • Kendaraan: Rp100 juta.
  • Emas: Rp50 juta.

Total nilai aset tersebut adalah Rp1,15 miliar.

Angka ini masih berupa nilai keseluruhan aset. Kamu belum bisa langsung membagikannya kepada ahli waris karena masih perlu memeriksa status kepemilikan dan kewajiban pewaris.

Pastikan setiap aset memiliki bukti kepemilikan yang jelas. Jika ada properti yang dimiliki bersama orang lain, jangan memasukkan seluruh nilainya sebagai harta pewaris.

2. Pisahkan Harta Pribadi dan Harta Bersama

Setelah menghitung total aset, tentukan bagian yang benar-benar menjadi milik pewaris.

Misalnya, dari total aset Rp1,15 miliar, terdapat rumah senilai Rp800 juta yang merupakan harta bersama dengan pasangan.

Untuk ilustrasi ini, anggap saja bagian masing-masing pasangan adalah 50%.

Dengan demikian, bagian rumah yang menjadi milik pasangan yang masih hidup adalah Rp400 juta. Sementara itu, Rp400 juta lainnya menjadi bagian pewaris.

Jika aset lainnya merupakan harta pribadi pewaris, perhitungannya menjadi:

Total aset yang tercatat: Rp1,15 miliar.

Dikurangi bagian pasangan dari rumah: Rp400 juta.

Sisa harta yang menjadi bagian pewaris: Rp750 juta.

Jadi, nilai awal harta peninggalan yang perlu diperhitungkan adalah Rp750 juta sebelum dikurangi kewajiban yang harus diselesaikan.

Perlu diingat, pembagian harta bersama tidak selalu otomatis 50:50 dalam setiap situasi. Perhitungannya perlu disesuaikan dengan status aset, perjanjian perkawinan jika ada, dan hukum yang berlaku.

3. Kurangi Utang dan Kewajiban

Langkah selanjutnya adalah menghitung kewajiban pewaris.

Misalnya, pewaris masih memiliki utang sebesar Rp50 juta. Selain itu, ada biaya pengurusan jenazah dan kewajiban lain yang sah sebesar Rp10 juta.

Dalam ilustrasi ini, total kewajibannya adalah Rp60 juta.

Perhitungannya menjadi:

Harta peninggalan awal: Rp750 juta.

Total kewajiban: Rp60 juta.

Sisa harta: Rp690 juta.

Dengan demikian, nilai Rp690 juta menjadi dasar ilustrasi pembagian berikutnya, setelah memperhitungkan kewajiban yang relevan.

Namun, perhitungan ini belum tentu sama untuk setiap kasus. Urutan penyelesaian kewajiban, biaya yang diperhitungkan, dan pelaksanaan wasiat harus mengikuti ketentuan hukum waris yang berlaku.

4. Tentukan Hukum Waris yang Digunakan

Setelah mengetahui nilai harta yang akan dibagikan, kamu perlu menentukan sistem hukum waris yang berlaku.

Di Indonesia, terdapat beberapa sistem hukum waris, termasuk hukum waris Islam, hukum waris perdata, dan hukum waris adat.

Masing-masing memiliki ketentuan berbeda mengenai siapa yang berhak menjadi ahli waris dan bagaimana bagian mereka dihitung. Karena itu, jangan menggunakan satu rumus untuk semua keluarga.

Jika menggunakan hukum waris Islam, pembagian dapat mengacu pada ketentuan faraid dan Kompilasi Hukum Islam (KHI).

Sementara itu, pembagian berdasarkan hukum waris perdata mengikuti ketentuan dalam Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (KUHPerdata).

Untuk hukum adat, aturan yang relevan perlu diperiksa sesuai sistem kekerabatan dan ketentuan adat yang berlaku.

Kamu bisa mempelajari penjelasan hukum waris melalui Halo JPN Kejaksaan RI atau sumber hukum resmi lainnya.

5. Hitung Bagian Setiap Ahli Waris

Tahap terakhir adalah menentukan bagian masing-masing ahli waris.

Untuk melakukannya, kamu perlu mengetahui siapa saja yang berhak menerima warisan, hubungan mereka dengan pewaris, serta ketentuan pembagian yang berlaku.

Sebagai contoh, dalam hukum waris Islam, bagian ahli waris dapat berbeda berdasarkan kedudukan dan hubungan keluarga.

KHI mengatur bahwa anak laki-laki dan anak perempuan yang mewaris bersama memperoleh bagian dengan perbandingan dua banding satu. Namun, ketentuan tersebut tidak bisa diterapkan secara terpisah tanpa memeriksa hak ahli waris lainnya.

Pasangan dan orang tua pewaris, misalnya, juga dapat memiliki bagian tertentu berdasarkan kondisi keluarga.

Karena itu, sebaiknya hitung seluruh bagian ahli waris secara bersamaan agar hasil akhirnya sesuai dengan ketentuan hukum yang digunakan.

Contoh Cara Menghitung Warisan Menurut Hukum Waris Islam

Supaya lebih mudah dipahami, mari gunakan contoh sederhana.

Misalnya, seorang suami meninggal dunia dan meninggalkan harta warisan bersih sebesar Rp600 juta.

Pewaris meninggalkan ahli waris berupa:

  • Seorang istri.
  • Seorang anak laki-laki.
  • Seorang anak perempuan.

Dalam contoh ini, diasumsikan tidak ada ahli waris lain yang memengaruhi pembagian dan seluruh kewajiban pewaris sudah diselesaikan.

Menurut ketentuan hukum waris Islam yang diatur dalam KHI, istri memperoleh seperdelapan bagian apabila pewaris meninggalkan anak.

Maka, perhitungannya sebagai berikut.

Bagian istri

Rp600 juta × 1/8 = Rp75 juta.

Setelah bagian istri diperhitungkan, sisa harta adalah:

Rp600 juta − Rp75 juta = Rp525 juta.

Sisa tersebut dibagikan kepada anak laki-laki dan anak perempuan dengan perbandingan 2:1.

Artinya, total ada tiga bagian. Anak laki-laki memperoleh dua bagian, sedangkan anak perempuan memperoleh satu bagian.

Bagian anak laki-laki

Rp525 juta × 2/3 = Rp350 juta.

Bagian anak perempuan

Rp525 juta × 1/3 = Rp175 juta.

Dengan demikian, berdasarkan asumsi dalam contoh ini, pembagiannya adalah:

  • Istri: Rp75 juta.
  • Anak laki-laki: Rp350 juta.
  • Anak perempuan: Rp175 juta.

Totalnya adalah Rp600 juta.

Perlu diperhatikan bahwa contoh tersebut hanya menggambarkan situasi keluarga tertentu. Jika pewaris juga meninggalkan orang tua, memiliki lebih dari satu pasangan yang sah, atau terdapat kondisi lain yang memengaruhi hak ahli waris, perhitungannya bisa berbeda.

Untuk kasus nyata, pastikan seluruh ahli waris sudah diidentifikasi sebelum menentukan pembagian akhir. Ketentuan yang relevan dapat dilihat dalam Pasal 176 dan Pasal 180 KHI.

Cara Menghitung Warisan Rumah dan Tanah

Pembagian warisan tidak selalu berupa uang tunai. Sering kali, aset terbesar yang ditinggalkan justru berupa rumah atau tanah.

Masalahnya, properti tidak mudah dibagi secara fisik kepada beberapa ahli waris.

Misalnya, seseorang meninggalkan rumah senilai Rp900 juta kepada tiga ahli waris. Jika berdasarkan ketentuan yang berlaku mereka masing-masing berhak atas sepertiga bagian, nilai hak setiap orang adalah Rp300 juta.

Namun, bukan berarti rumah tersebut harus langsung dipotong menjadi tiga bagian.

Ada beberapa pilihan yang dapat dibicarakan oleh para ahli waris, sepanjang sesuai hukum yang berlaku.

Pertama, menjual rumah dan membagi hasilnya.

Jika rumah dijual seharga Rp900 juta dan tidak ada biaya atau kewajiban lain yang perlu diperhitungkan, hasil penjualan dapat dibagikan sesuai hak masing-masing.

Dalam contoh tersebut, setiap ahli waris menerima Rp300 juta.

Kedua, salah satu ahli waris mengambil alih rumah.

Misalnya, salah satu ahli waris ingin menempati rumah tersebut. Ia dapat membicarakan kemungkinan mengambil alih kepemilikan dengan memberikan kompensasi kepada ahli waris lainnya sesuai nilai hak mereka.

Kesepakatan ini perlu dibuat secara jelas dan mengikuti prosedur hukum yang berlaku.

Ketiga, mempertahankan kepemilikan bersama.

Para ahli waris juga dapat mempertahankan rumah sebagai aset bersama jika memenuhi ketentuan hukum dan semua pihak menyetujuinya.

Namun, kesepakatan mengenai penggunaan rumah, biaya perawatan, pajak, dan keputusan jika properti akan dijual sebaiknya dibuat secara tertulis.

Khusus untuk rumah dan tanah, jangan lupa memeriksa sertifikat, status kepemilikan, serta dokumen yang diperlukan untuk proses peralihan hak.

Kesalahan yang Perlu Dihindari Saat Menghitung Warisan

Menghitung warisan membutuhkan ketelitian. Ada beberapa kesalahan yang sebaiknya kamu hindari.

1. Langsung Membagi Seluruh Aset

Kesalahan yang cukup umum adalah membagi seluruh aset tanpa memeriksa utang dan kewajiban pewaris.

Padahal, nilai harta yang terlihat belum tentu sama dengan nilai harta yang bisa dibagikan.

Karena itu, lakukan inventarisasi aset dan kewajiban terlebih dahulu.

2. Menganggap Semua Harta Pasangan Menjadi Warisan

Harta bersama dan harta pribadi perlu dibedakan.

Jika ada aset yang menjadi hak pasangan yang masih hidup, bagian tersebut tidak boleh begitu saja dianggap sebagai harta peninggalan pewaris.

Periksa status kepemilikan setiap aset sebelum melakukan perhitungan.

3. Menggunakan Rumus yang Tidak Sesuai

Pembagian warisan menurut hukum Islam tidak selalu sama dengan pembagian menurut KUHPerdata atau hukum adat.

Jangan menggunakan rumus pembagian dari keluarga lain tanpa memastikan bahwa kondisi dan hukum yang berlaku memang sama.

Jika ragu, mintalah bantuan ahli hukum atau pihak yang memahami hukum waris.

4. Mengabaikan Hak Ahli Waris

Pastikan seluruh pihak yang berhak menerima warisan sudah teridentifikasi.

Jangan menentukan pembagian hanya berdasarkan siapa yang tinggal bersama pewaris, siapa yang merawatnya, atau siapa yang selama ini mengelola aset keluarga.

Hal-hal tersebut perlu dibedakan dari hak waris yang ditentukan oleh hukum.

5. Tidak Membuat Dokumentasi yang Jelas

Kesepakatan lisan bisa menimbulkan perbedaan pemahaman di kemudian hari.

Sebaiknya, dokumentasikan hasil kesepakatan, daftar aset, nilai harta, dan pembagian yang disetujui.

Untuk aset seperti rumah dan tanah, pastikan dokumen serta proses peralihan hak dilakukan sesuai ketentuan yang berlaku.

FAQ Seputar Cara Menghitung Warisan

1. Bagaimana cara menghitung warisan secara sederhana?

Mulailah dengan mendata seluruh aset pewaris. Setelah itu, tentukan bagian harta yang benar-benar menjadi milik pewaris, hitung kewajiban yang perlu diselesaikan, lalu tentukan bagian setiap ahli waris sesuai hukum yang berlaku.

2. Apakah utang harus dikurangi sebelum warisan dibagikan?

Utang dan kewajiban pewaris perlu diperhitungkan sebelum pembagian warisan dilakukan. Penyelesaiannya harus mengikuti ketentuan hukum yang berlaku.

3. Bagaimana cara menghitung warisan jika ada rumah?

Tentukan nilai rumah dan pastikan status kepemilikannya. Jika rumah merupakan harta bersama, pisahkan bagian pasangan yang masih hidup sesuai ketentuan hukum. Setelah itu, perhitungkan bagian rumah yang menjadi harta peninggalan dan tentukan pembagiannya sesuai hak ahli waris.

4. Apakah anak laki-laki selalu mendapat warisan dua kali lebih besar daripada anak perempuan?

Tidak dalam semua sistem hukum waris. Perbandingan dua banding satu berlaku dalam kondisi tertentu menurut hukum waris Islam, ketika anak laki-laki dan anak perempuan mewaris bersama. Pembagian untuk setiap kasus tetap perlu mempertimbangkan seluruh ahli waris dan ketentuan yang berlaku.

5. Apakah warisan bisa dibagi tanpa surat wasiat?

Bisa. Jika pewaris tidak meninggalkan surat wasiat, pembagian tetap dapat dilakukan berdasarkan ketentuan hukum waris yang berlaku. Namun, tidak adanya wasiat bukan berarti keluarga bebas menentukan pembagian tanpa memperhatikan hak ahli waris.

6. Apakah pembagian warisan harus dilakukan melalui pengadilan?

Tidak selalu. Pembagian dapat diselesaikan melalui kesepakatan para ahli waris jika memungkinkan dan sesuai ketentuan hukum. Jika terjadi sengketa atau tidak ada kesepakatan, pihak yang berkepentingan dapat meminta penyelesaian melalui pengadilan yang berwenang.

Kesimpulan

Cara menghitung warisan bukan sekadar menjumlahkan aset lalu membaginya kepada anggota keluarga. Ada beberapa tahapan penting yang perlu dilakukan, mulai dari mendata aset, memisahkan harta pribadi dan harta bersama, memperhitungkan kewajiban, hingga menentukan ahli waris dan bagian masing-masing.

Hal terpenting adalah memahami bahwa aturan pembagian warisan dapat berbeda berdasarkan sistem hukum yang berlaku dan kondisi keluarga.

Jika nilai aset cukup besar, ada rumah atau tanah, atau terdapat potensi sengketa, sebaiknya konsultasikan perhitungannya dengan ahli hukum atau pihak yang berwenang. Dengan begitu, hak setiap ahli waris dapat diperhitungkan secara tepat dan risiko perselisihan bisa diminimalkan.

Di sisi lain, memahami pengelolaan aset juga penting untuk membantu kamu merencanakan kondisi keuangan keluarga ke depannya.

Ingin menambah wawasan tentang pengelolaan aset dan keuangan? Download aplikasi FLOQ di Play Store atau App Store. FLOQ adalah aplikasi aset digital yang telah berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Pastikan kamu memahami risiko setiap produk sebelum mengambil keputusan investasi.

Baca Juga: Wasiat Adalah: Pengertian, Jenis, dan Cara Membuatnya

Disclaimer: Seluruh informasi yang disampaikan disusun oleh mitra industri dengan tujuan memberikan edukasi kepada pembaca. Kami menyarankan Anda untuk melakukan riset secara mandiri dan mempertimbangkan dengan matang sebelum melakukan transaksi.

Loading...
Blur 2

Belajar, Investasi, dan Tumbuh Bersama Kami

Jadilah bagian dari FLOQ. Mulai perjalanan investasimu dengan platform terpercaya dari hari pertama.

Google PlayApp Store
Blur 2Blur 2Device