Harta Warisan: Siapa yang Berhak Menerima?

Finansial

16 Oct 2026

11 menit

Ditulis oleh: Karin Hidayat

Pattern 1
Article

Apa Itu Harta Warisan? Sederhananya, harta warisan adalah harta kekayaan yang ditinggalkan seseorang setelah meninggal dunia dan dapat dialihkan kepada ahli waris sesuai ketentuan hukum yang berlaku.

Harta ini bisa berupa uang tunai, rumah, tanah, kendaraan, emas, deposito, hingga aset investasi. Namun, warisan tidak selalu berbentuk kekayaan. Dalam kondisi tertentu, kewajiban atau utang yang ditinggalkan pewaris juga perlu diperhitungkan sebelum harta dibagikan.

Dalam kehidupan sehari-hari, harta warisan sering menjadi hal yang sensitif. Apalagi jika jumlahnya besar atau melibatkan banyak anggota keluarga.

Ada keluarga yang bisa membagikan warisan dengan lancar. Namun, ada juga yang menghadapi konflik karena perbedaan pendapat, kurangnya komunikasi, atau ketidakjelasan mengenai hak masing-masing ahli waris.

Padahal, memahami aturan mengenai harta warisan sejak awal bisa membantu mengurangi risiko masalah tersebut.

Selain itu, warisan juga perlu dikelola dengan bijak. Mendapatkan rumah, tanah, atau uang dalam jumlah besar bukan berarti kamu harus langsung menggunakannya untuk memenuhi keinginan pribadi.

Jika dikelola dengan baik, harta warisan bisa membantu menjaga kestabilan keuangan keluarga, memenuhi kebutuhan jangka panjang, dan menjadi aset yang bermanfaat bagi generasi berikutnya.

Nah, supaya kamu lebih memahami cara mengelolanya, mari bahas pengertian, jenis, aturan pembagian, hingga tips mengelola harta warisan dengan tepat.

Jenis-Jenis Harta Warisan yang Perlu Kamu Ketahui

Harta warisan bisa berbentuk berbagai jenis aset. Setiap jenis memiliki karakteristik berbeda sehingga cara pengelolaannya juga tidak selalu sama.

Berikut beberapa contoh harta yang dapat menjadi bagian dari warisan.

1. Uang Tunai dan Tabungan

Uang tunai dan tabungan merupakan bentuk harta warisan yang relatif mudah dipahami.

Contohnya, seseorang meninggalkan uang tunai atau saldo tabungan di rekening bank. Setelah hak ahli waris dan kewajiban yang berkaitan dengan harta peninggalan diselesaikan, aset tersebut dapat dibagikan sesuai ketentuan yang berlaku.

Keuntungan dari warisan berbentuk uang adalah sifatnya yang likuid. Artinya, uang bisa digunakan untuk memenuhi kebutuhan tanpa harus melalui proses penjualan aset terlebih dahulu.

Namun, kamu tetap perlu mengelolanya secara hati-hati. Jangan sampai uang warisan habis hanya karena digunakan untuk belanja konsumtif atau memenuhi keinginan sesaat.

Sebaiknya, tentukan prioritas penggunaan uang tersebut sebelum memutuskan berapa banyak yang akan dibelanjakan, disimpan, atau dialokasikan untuk tujuan keuangan lainnya.

2. Rumah dan Tanah

Rumah dan tanah termasuk aset yang sering ditemukan dalam harta warisan.

Misalnya, orang tua meninggalkan rumah keluarga yang kemudian menjadi bagian dari harta peninggalan untuk ahli waris.

Aset properti memiliki karakteristik berbeda dari uang tunai. Nilainya bisa berubah seiring waktu, tetapi aset ini tidak selalu mudah dicairkan.

Jika rumah atau tanah diwariskan kepada beberapa orang, pembagian haknya perlu dilakukan dengan jelas.

Ada beberapa pilihan yang dapat dipertimbangkan sesuai kesepakatan dan ketentuan hukum, seperti mempertahankan properti sebagai kepemilikan bersama, mengalihkan kepemilikan kepada salah satu ahli waris dengan penyelesaian hak pihak lainnya, atau menjual aset dan membagikan hasilnya.

Setiap pilihan memiliki konsekuensi tersendiri. Karena itu, penting untuk mempertimbangkan nilai aset, biaya pemeliharaan, pajak, dan kebutuhan setiap ahli waris sebelum mengambil keputusan.

3. Emas dan Logam Mulia

Emas juga bisa menjadi bagian dari harta warisan. Bentuknya bisa berupa perhiasan, emas batangan, atau produk logam mulia lainnya.

Emas relatif mudah dipindahtangankan dan dapat dijual ketika pemiliknya membutuhkan dana. Meski begitu, nilai jualnya bisa berbeda dari harga saat pertama kali dibeli.

Jika emas diwariskan kepada beberapa ahli waris, nilainya perlu dihitung secara jelas. Hal ini membantu mengurangi potensi perbedaan pendapat mengenai pembagian aset.

Simpan pula bukti pembelian atau dokumen kepemilikan jika tersedia. Dokumen tersebut dapat membantu proses identifikasi dan pengelolaan aset.

4. Kendaraan

Mobil dan sepeda motor juga dapat menjadi bagian dari harta warisan.

Sebelum kendaraan dialihkan kepada ahli waris, periksa dokumen kepemilikannya, kondisi kendaraan, dan kewajiban yang mungkin masih melekat.

Jika kendaraan masih memiliki cicilan, misalnya, kewajiban tersebut perlu diperiksa berdasarkan perjanjian pembiayaan dan ketentuan hukum yang berlaku.

Jangan lupa mempertimbangkan biaya perawatan, pajak kendaraan, dan biaya administrasi pengalihan kepemilikan.

5. Investasi dan Aset Keuangan

Harta warisan juga dapat berupa deposito, obligasi, saham, reksa dana, atau aset keuangan lainnya.

Jenis aset ini memerlukan perhatian khusus karena setiap produk memiliki mekanisme pengalihan kepemilikan yang berbeda.

Ahli waris perlu memastikan jenis aset, nilai kepemilikan, dokumen pendukung, serta prosedur yang ditetapkan oleh lembaga terkait.

Untuk aset investasi, jangan terburu-buru menjualnya hanya karena belum memahami cara kerjanya.

Pelajari terlebih dahulu karakteristik aset, risiko, biaya, dan tujuan keuangan yang ingin dicapai. Jika diperlukan, konsultasikan dengan tenaga profesional yang kompeten.

Perlu diingat, nilai investasi bisa naik atau turun. Jadi, aset investasi yang diwariskan tidak otomatis memberikan keuntungan.

Bagaimana Aturan Pembagian Harta Warisan di Indonesia?

Pembagian harta warisan di Indonesia tidak selalu menggunakan aturan yang sama untuk setiap keluarga.

Ketentuan yang berlaku dapat bergantung pada agama pewaris, sistem hukum yang relevan, hubungan keluarga, serta kondisi khusus yang memengaruhi pewarisan.

Karena itu, penting untuk memahami aturan yang sesuai dengan situasi keluarga sebelum melakukan pembagian.

1. Pembagian Warisan Menurut Hukum Perdata

Bagi pihak yang tunduk pada ketentuan hukum waris perdata, pembagian warisan antara lain diatur dalam Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (KUHPerdata).

Dalam sistem ini, ahli waris berdasarkan hubungan keluarga dan perkawinan dapat memiliki hak atas harta peninggalan sesuai ketentuan yang berlaku.

Namun, menentukan siapa yang berhak menerima warisan tidak cukup hanya dengan melihat hubungan keluarga.

Kondisi perkawinan, keberadaan keturunan, wasiat, serta ketentuan mengenai bagian mutlak atau legitime portie juga dapat memengaruhi pembagian.

Oleh karena itu, jangan langsung menganggap semua anggota keluarga memperoleh bagian yang sama besar.

Jika terdapat perbedaan pendapat atau situasi keluarga yang rumit, konsultasi dengan ahli hukum dapat membantu memperjelas hak masing-masing pihak.

2. Pembagian Warisan Menurut Hukum Islam

Bagi umat Islam di Indonesia, pembagian warisan dapat mengacu pada ketentuan hukum waris Islam, termasuk Kompilasi Hukum Islam (KHI).

Dalam sistem ini, terdapat ketentuan mengenai ahli waris dan bagian yang menjadi hak masing-masing.

Besarnya bagian dapat dipengaruhi oleh hubungan kekerabatan, keberadaan ahli waris lain, serta kondisi keluarga yang ditinggalkan.

Sebagai contoh, bagian anak laki-laki dan anak perempuan dalam kondisi tertentu memiliki perbandingan yang berbeda. Namun, penerapannya harus melihat keseluruhan susunan ahli waris dan ketentuan yang relevan.

Sebelum pembagian dilakukan, perlu diperiksa pula harta yang benar-benar menjadi peninggalan pewaris, kewajiban yang harus diselesaikan, serta hak pihak lain yang mungkin berkaitan dengan harta tersebut.

Jika ada keraguan mengenai perhitungan bagian, kamu bisa meminta bantuan ahli waris Islam atau tenaga profesional yang memahami ketentuan hukum terkait.

3. Pembagian Warisan Berdasarkan Hukum Adat

Di sejumlah masyarakat Indonesia, hukum adat juga memiliki peran dalam pengaturan pewarisan.

Sistem pewarisan adat dapat berbeda antara satu komunitas dan komunitas lainnya.

Ada sistem yang memberikan perhatian khusus pada garis keturunan tertentu. Ada pula yang mempertimbangkan kedudukan anggota keluarga, jenis harta, dan kebiasaan yang berlaku di masyarakat.

Karena itu, pembagian warisan berdasarkan hukum adat perlu memperhatikan sistem adat yang relevan dan hubungannya dengan peraturan perundang-undangan.

Jika keluarga ingin menggunakan ketentuan adat, sebaiknya pastikan prosesnya tetap memperhatikan hak pihak terkait dan ketentuan hukum yang berlaku.

Intinya, jangan menentukan pembagian harta warisan hanya berdasarkan kebiasaan atau asumsi pribadi. Pahami terlebih dahulu aturan yang berlaku dalam situasi keluargamu.

Apa Saja yang Harus Diperiksa Sebelum Harta Warisan Dibagikan?

Sebelum membagikan harta warisan, ada beberapa hal penting yang perlu diperiksa.

Langkah ini membantu memastikan bahwa aset yang dibagikan memang menjadi bagian dari harta peninggalan dan prosesnya dilakukan dengan lebih tertib.

1. Identifikasi Semua Aset yang Ditinggalkan

Langkah pertama adalah mendata seluruh aset milik pewaris.

Buat daftar yang mencakup uang tunai, rekening bank, rumah, tanah, kendaraan, emas, investasi, dan aset lain yang diketahui.

Jika ada aset yang belum jelas status kepemilikannya, lakukan pemeriksaan lebih lanjut.

Misalnya, rumah yang digunakan bersama pasangan belum tentu seluruhnya merupakan harta pribadi pewaris. Ada kemungkinan rumah tersebut berkaitan dengan harta bersama dalam perkawinan.

Status kepemilikan perlu diperiksa sebelum menentukan berapa bagian yang benar-benar termasuk harta warisan.

2. Periksa Utang dan Kewajiban

Jangan hanya menghitung aset yang ditinggalkan. Periksa juga kewajiban pewaris yang belum diselesaikan.

Contohnya adalah pinjaman, cicilan, tagihan, atau kewajiban lain yang sah.

Keberadaan utang tidak berarti ahli waris otomatis harus menanggung seluruh kewajiban pribadi pewaris dengan harta mereka sendiri dalam setiap keadaan. Akibat hukumnya bergantung pada aturan yang berlaku dan kondisi kasusnya.

Karena itu, periksa dokumen utang serta ketentuan hukum yang relevan sebelum mengambil keputusan.

3. Pastikan Siapa Saja Ahli Warisnya

Identifikasi orang-orang yang memiliki hak atas warisan berdasarkan ketentuan yang berlaku.

Dokumen seperti akta kematian, kartu keluarga, akta kelahiran, buku nikah, dan dokumen lain yang relevan dapat membantu proses identifikasi.

Dokumen yang diperlukan bisa berbeda tergantung jenis aset, lembaga terkait, dan prosedur hukum yang digunakan.

Jika terdapat ahli waris yang belum diketahui keberadaannya atau hubungan keluarga yang masih diperselisihkan, selesaikan persoalan tersebut sebelum pembagian dilakukan.

4. Periksa Wasiat dan Dokumen Kepemilikan

Jika pewaris meninggalkan wasiat, periksa isi dan keabsahannya sesuai hukum yang berlaku.

Wasiat tidak selalu dapat dilaksanakan tanpa batas. Ada ketentuan hukum yang dapat membatasi pemberian melalui wasiat, bergantung pada sistem hukum yang digunakan.

Selain itu, pastikan dokumen kepemilikan aset tersedia dan sesuai.

Untuk properti, misalnya, periksa sertifikat dan status hukumnya. Untuk kendaraan, periksa dokumen kepemilikannya. Sementara itu, aset keuangan perlu diverifikasi melalui lembaga terkait.

Dengan begitu, proses pengalihan aset dapat dilakukan secara lebih terarah.

Cara Mengelola Harta Warisan agar Tidak Cepat Habis

Menerima warisan bisa memberikan kesempatan untuk memperbaiki kondisi keuangan. Namun, kesempatan ini juga datang dengan tanggung jawab.

Tanpa perencanaan yang tepat, harta yang seharusnya bermanfaat dalam jangka panjang justru bisa habis dalam waktu singkat. Berikut beberapa langkah yang bisa kamu pertimbangkan.

1. Jangan Terburu-buru Menggunakan Uang Warisan

Mendapatkan uang dalam jumlah besar mungkin membuatmu ingin membeli barang yang sudah lama diinginkan.

Misalnya, mengganti mobil, membeli gadget baru, atau pergi berlibur.

Tidak ada salahnya menikmati sebagian harta yang memang menjadi hakmu. Namun, jangan mengambil keputusan besar sebelum memahami kondisi keuangan secara keseluruhan.

Luangkan waktu untuk mengevaluasi kebutuhan, kewajiban, dan tujuan keuangan. Kamu juga perlu memastikan proses pembagian warisan telah selesai secara sah sebelum menggunakan aset yang diterima.

Dengan begitu, keputusan yang diambil tidak menimbulkan masalah baru bagi diri sendiri maupun keluarga.

2. Prioritaskan Kebutuhan dan Kewajiban Keuangan

Jika kamu menerima warisan berupa uang, periksa kembali kondisi keuangan pribadi.

Apakah kamu masih memiliki utang berbunga tinggi? Apakah dana darurat sudah tersedia? Apakah ada kebutuhan penting yang belum terpenuhi?

Jawaban dari pertanyaan tersebut dapat membantu menentukan prioritas penggunaan uang warisan.

Misalnya, jika kamu belum memiliki dana darurat, sebagian uang dapat dialokasikan untuk membangun cadangan keuangan.

Jika ada utang yang membebani arus kas bulanan, pertimbangkan pelunasannya setelah memperhitungkan biaya, ketentuan pinjaman, dan kebutuhan likuiditas.

Tidak semua uang warisan harus langsung diinvestasikan. Terkadang, memperkuat fondasi keuangan terlebih dahulu justru menjadi pilihan yang lebih masuk akal.

3. Tentukan Tujuan Keuangan

Harta warisan akan lebih mudah dikelola jika kamu memiliki tujuan yang jelas.

Contohnya, kamu ingin menggunakan sebagian dana untuk biaya pendidikan anak, membeli rumah, mempersiapkan pensiun, atau membangun usaha.

Setiap tujuan memiliki kebutuhan waktu dan tingkat risiko yang berbeda.

Dana untuk kebutuhan jangka pendek sebaiknya tidak ditempatkan seluruhnya pada instrumen yang nilainya mudah berfluktuasi.

Sebaliknya, dana yang memang disiapkan untuk tujuan jangka panjang bisa dipertimbangkan untuk dialokasikan ke instrumen investasi yang sesuai dengan profil risiko dan kebutuhanmu.

Pastikan kamu memahami cara kerja setiap instrumen sebelum menempatkan dana.

4. Jangan Menganggap Semua Warisan sebagai Uang Siap Pakai

Warisan berupa properti atau aset investasi tidak selalu bisa langsung digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Rumah, misalnya, memerlukan biaya perawatan, pajak, dan biaya lain yang mungkin muncul selama kepemilikan.

Jika rumah diwariskan bersama anggota keluarga lain, keputusan mengenai penggunaan atau penjualannya juga perlu memperhatikan hak seluruh pihak.

Sementara itu, aset investasi dapat mengalami penurunan nilai. Jadi, jangan hanya melihat nilai aset di atas kertas. Perhitungkan pula biaya, risiko, dan kemudahan pencairannya.

5. Diversifikasikan Aset Sesuai Kebutuhan

Jika nilai harta warisan cukup besar, kamu bisa mempertimbangkan diversifikasi.

Diversifikasi berarti membagi penempatan dana ke beberapa jenis aset agar seluruh kekayaan tidak bergantung pada satu instrumen saja.

Sebagai contoh, seseorang mungkin memilih menyimpan sebagian dana dalam tabungan, menempatkan sebagian pada instrumen pendapatan tetap, dan mengalokasikan bagian lainnya ke investasi yang sesuai dengan profil risikonya.

Namun, tidak ada komposisi yang cocok untuk semua orang.

Pilihan aset perlu disesuaikan dengan tujuan keuangan, jangka waktu, toleransi risiko, dan kebutuhan likuiditas.

Jangan pula berinvestasi hanya karena mengikuti rekomendasi teman atau tren di media sosial.

Pelajari risikonya terlebih dahulu dan pastikan penyedia layanan keuangan yang digunakan memiliki izin sesuai ketentuan yang berlaku.

6. Pisahkan Keuangan Pribadi dan Keuangan Keluarga

Jika warisan diterima bersama anggota keluarga lain, catat dengan jelas aset yang menjadi hak masing-masing pihak.

Jangan mencampur uang yang belum selesai dibagikan dengan uang pribadi.

Pencatatan ini membantu menjaga transparansi dan mengurangi risiko kesalahpahaman.

Jika ada kesepakatan mengenai penggunaan bersama, dokumentasikan kesepakatan tersebut dengan baik.

Untuk pembagian yang melibatkan properti, nilai aset besar, atau potensi sengketa, pertimbangkan bantuan notaris, advokat, atau tenaga profesional lain sesuai kebutuhan.

Kesalahan yang Harus Dihindari Saat Menerima Harta Warisan

Ada beberapa kesalahan yang bisa membuat proses pewarisan menjadi rumit atau merugikan ahli waris.

Berikut beberapa hal yang sebaiknya kamu hindari.

1. Membagi Warisan Tanpa Memeriksa Status Aset

Jangan langsung membagi aset hanya berdasarkan perkiraan atau kesepakatan lisan.

Pastikan terlebih dahulu siapa pemilik sah aset tersebut, apakah ada hak pihak lain, dan apakah terdapat kewajiban yang harus diselesaikan.

Hal ini penting terutama untuk rumah, tanah, dan aset yang berkaitan dengan perkawinan.

2. Mengabaikan Hak Ahli Waris Lain

Keinginan untuk segera menguasai aset bisa menimbulkan konflik jika hak ahli waris lain belum diperhitungkan.

Karena itu, lakukan identifikasi ahli waris dan pembagian berdasarkan ketentuan hukum yang relevan.

Jika terdapat perbedaan pendapat, jangan langsung mengambil tindakan sepihak. Cari penyelesaian yang sesuai dengan hukum dan kondisi keluarga.

3. Menjual Aset Tanpa Perhitungan

Menjual rumah atau tanah warisan memang bisa menjadi pilihan untuk membagi nilai aset.

Namun, keputusan tersebut perlu mempertimbangkan harga pasar, biaya transaksi, pajak yang relevan, dan kebutuhan setiap ahli waris.

Jangan terburu-buru menjual aset hanya karena membutuhkan uang tunai.

Jika memungkinkan, bandingkan beberapa pilihan sebelum mengambil keputusan.

4. Menggunakan Seluruh Uang untuk Konsumsi

Uang warisan bukan berarti uang yang harus segera dihabiskan.

Jika seluruhnya digunakan untuk memenuhi keinginan sesaat, kamu mungkin kehilangan kesempatan untuk memperkuat kondisi keuangan.

Sebaiknya, tentukan anggaran dan tujuan penggunaan dana sejak awal.

5. Tidak Menyimpan Dokumen dengan Baik

Dokumen kepemilikan, surat pembagian warisan, bukti transaksi, dan dokumen pendukung lainnya perlu disimpan secara aman.

Dokumen tersebut bisa dibutuhkan untuk pengalihan kepemilikan, pelaporan pajak, atau penyelesaian persoalan hukum di kemudian hari.

Pastikan pula dokumen digital memiliki salinan cadangan yang aman.

FAQ Seputar Harta Warisan

1. Apa yang dimaksud dengan harta warisan?

Harta warisan adalah harta kekayaan yang ditinggalkan seseorang setelah meninggal dunia dan dapat dialihkan kepada ahli waris sesuai ketentuan hukum yang berlaku.

Harta tersebut dapat berbentuk uang, rumah, tanah, kendaraan, emas, deposito, investasi, dan aset lainnya.

2. Apakah utang termasuk harta warisan?

Utang bukanlah aset atau kekayaan yang diwariskan, tetapi kewajiban pewaris dapat memengaruhi penyelesaian harta peninggalan.

Karena itu, utang dan kewajiban yang sah perlu diperiksa sebelum harta dibagikan. Tanggung jawab ahli waris terhadap kewajiban tersebut bergantung pada hukum yang berlaku dan kondisi kasusnya.

3. Siapa yang berhak menerima harta warisan?

Pihak yang berhak menerima warisan ditentukan berdasarkan sistem hukum yang berlaku dan kondisi keluarga pewaris.

Hubungan keluarga, perkawinan, keberadaan keturunan, dan faktor lainnya dapat memengaruhi penentuan ahli waris.

Karena itu, identifikasi ahli waris sebaiknya dilakukan berdasarkan dokumen dan ketentuan hukum yang relevan.

4. Apakah harta warisan harus dibagi sama rata?

Tidak selalu. Pembagian harta warisan bergantung pada ketentuan hukum yang berlaku, termasuk sistem hukum waris yang digunakan dan kondisi keluarga.

Pembagian sama rata bisa menjadi pilihan dalam situasi tertentu jika diperbolehkan oleh ketentuan yang berlaku dan dilakukan secara sah. Namun, hal tersebut tidak otomatis menjadi aturan untuk semua keluarga.

5. Apakah rumah warisan bisa langsung dijual?

Rumah warisan bisa dijual jika persyaratan hukum dan administrasi yang relevan telah dipenuhi.

Sebelum menjualnya, pastikan status kepemilikan, hak para ahli waris, dan dokumen pendukung sudah jelas.

Jika rumah menjadi hak beberapa ahli waris, penjualan perlu memperhatikan hak pihak terkait serta prosedur yang berlaku.

6. Apakah harta warisan dikenakan pajak?

Perlakuan pajak terhadap harta warisan bergantung pada jenis aset dan transaksi yang dilakukan.

Penerimaan warisan, pengalihan hak atas tanah atau bangunan, dan penjualan aset dapat memiliki konsekuensi perpajakan yang berbeda.

Karena itu, periksa ketentuan pajak yang berlaku dan konsultasikan dengan konsultan pajak jika diperlukan.

7. Bagaimana cara mengelola uang warisan agar tidak cepat habis?

Mulailah dengan mengevaluasi kondisi keuangan, memprioritaskan kebutuhan penting, dan menentukan tujuan keuangan.

Kamu bisa mempertimbangkan dana darurat, pelunasan utang, tabungan, atau investasi sesuai kebutuhan.

Hindari keputusan impulsif dan pastikan kamu memahami risiko sebelum menggunakan uang warisan untuk investasi.

8. Apa yang harus dilakukan jika terjadi sengketa harta warisan?

Jika terjadi sengketa, kumpulkan dokumen kepemilikan, dokumen keluarga, dan bukti lain yang relevan.

Cobalah menyelesaikan persoalan melalui komunikasi atau mediasi jika memungkinkan. Jika tidak tercapai kesepakatan, mintalah bantuan tenaga hukum untuk menentukan langkah yang sesuai dengan sistem hukum yang berlaku.

Jangan mengambil atau mengalihkan aset secara sepihak ketika hak kepemilikan masih diperselisihkan.

Kesimpulan

Harta warisan bukan sekadar kekayaan yang ditinggalkan seseorang. Ada hak ahli waris, kewajiban yang perlu diperiksa, dan aturan hukum yang harus diperhatikan sebelum pembagian dilakukan.

Karena itu, penting untuk memahami jenis aset, memastikan status kepemilikannya, mengidentifikasi ahli waris, dan menyelesaikan kewajiban yang berkaitan dengan harta peninggalan.

Setelah menerima warisan, jangan terburu-buru menggunakan seluruh aset untuk kebutuhan konsumtif. Susun rencana keuangan, tentukan prioritas, dan pertimbangkan pengelolaan aset yang sesuai dengan kebutuhan jangka pendek maupun jangka panjang.

Jika kamu ingin membangun literasi keuangan yang lebih baik, mulailah dengan memahami kondisi keuangan dan menentukan tujuan yang ingin dicapai.

Yuk, tingkatkan literasi keuanganmu bersama FLOQ. Download aplikasi FLOQ di Play Store atau App Store. FLOQ merupakan aplikasi aset digital yang telah berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Baca Juga: Wasiat Adalah: Pengertian, Jenis, dan Cara Membuatnya

Disclaimer: Seluruh informasi yang disampaikan disusun oleh mitra industri dengan tujuan memberikan edukasi kepada pembaca. Kami menyarankan Anda untuk melakukan riset secara mandiri dan mempertimbangkan dengan matang sebelum melakukan transaksi.

Loading...
Blur 2

Belajar, Investasi, dan Tumbuh Bersama Kami

Jadilah bagian dari FLOQ. Mulai perjalanan investasimu dengan platform terpercaya dari hari pertama.

Google PlayApp Store
Blur 2Blur 2Device