Bitcoin Naik Setelah Inflasi AS Melandai, Kenapa Pasar Langsung Antusias?
Selama beberapa bulan terakhir, hampir semua pelaku pasar hanya fokus pada satu hal, yaitu inflasi Amerika Serikat.
Alasannya sederhana. Selama inflasi masih tinggi, bank sentral Amerika Serikat atau The Fed cenderung mempertahankan suku bunga tinggi. Ketika bunga tetap tinggi, aset berisiko seperti saham teknologi dan kripto biasanya menjadi kurang menarik karena investor lebih memilih instrumen yang memberikan imbal hasil lebih stabil.
Sebaliknya, ketika inflasi mulai turun, harapan bahwa suku bunga akan lebih longgar langsung meningkat. Inilah yang biasanya menjadi bahan bakar kenaikan aset berisiko. Itulah yang terjadi minggu ini.
Data Consumer Price Index (CPI) Amerika Serikat untuk Juni turun menjadi 3,5% secara tahunan, jauh lebih rendah dibanding 4,2% pada Mei. Ini menjadi penurunan tahunan terbesar sejak April 2020. Sementara itu, Producer Price Index (PPI) juga melambat dari 6,0% menjadi 5,5%, menandakan tekanan harga di tingkat produsen mulai berkurang.
Bagi pasar, dua data ini menjadi sinyal awal bahwa inflasi mungkin mulai bergerak ke arah yang lebih sehat. Reaksinya langsung terasa.
Pada 15 Juli, Bitcoin berhasil kembali merebut level psikologis US$65.000 setelah sempat bergerak di bawah area tersebut selama beberapa hari. Lonjakan harga ini juga memicu short squeeze dengan nilai likuidasi sekitar US$60–77 juta, di mana sekitar 90% berasal dari posisi short.
Artinya, sebagian besar trader sebelumnya justru bertaruh bahwa harga Bitcoin akan turun. Ketika harga bergerak naik lebih cepat dari perkiraan, mereka terpaksa membeli kembali Bitcoin untuk menutup posisi, sehingga kenaikan harga semakin kuat.
Bayangkan seseorang meminjam payung karena yakin hujan akan turun. Ternyata matahari justru bersinar terang dan semua orang mulai membeli payung. Karena takut rugi lebih besar, orang tadi akhirnya ikut membeli payung dengan harga lebih mahal hanya untuk mengembalikannya kepada pemilik awal.
Kurang lebih seperti itulah mekanisme short squeeze. Namun ada satu hal yang perlu kamu ingat. Reli yang didorong short squeeze biasanya terjadi sangat cepat, tetapi belum tentu bertahan lama apabila tidak didukung perubahan fundamental yang benar-benar kuat.
Jangan Terlalu Cepat Merayakan Inflasi yang Turun
Kalau hanya melihat angka CPI dan PPI, situasinya memang terlihat sangat positif. Namun, pasar sering kali lupa bertanya satu pertanyaan yang jauh lebih penting. Kenapa inflasi bisa turun? Inilah inti dari Market Outlook minggu ini.
Menurut Ketua The Fed, Kevin Warsh, pasar seharusnya tidak menganggap data inflasi Juni sebagai tanda bahwa tugas melawan inflasi telah selesai. Penurunan tersebut lebih banyak didorong oleh anjloknya harga energi selama periode gencatan senjata di Timur Tengah, bukan karena tekanan inflasi secara keseluruhan benar-benar menghilang.
Dengan kata lain, inflasi turun bukan karena seluruh harga barang menjadi lebih murah, melainkan karena salah satu komponen terbesar dalam perhitungan inflasi, yaitu energi, sedang berada pada fase yang sangat rendah.
Bayangkan kamu memiliki pengeluaran bulanan sekitar Rp8 juta. Suatu bulan total pengeluaran turun menjadi Rp7 juta hanya karena mobilmu tidak dipakai selama beberapa minggu sehingga hampir tidak membeli bensin. Apakah kondisi keuanganmu otomatis menjadi jauh lebih baik? Belum tentu. Begitu aktivitas kembali normal, biaya bensin akan kembali muncul dan pengeluaranmu ikut naik lagi.
Logika yang sama berlaku pada data inflasi. Masalahnya, kondisi yang membuat harga energi turun kini sudah berubah.
Konflik AS-Iran Kembali Memanas, Dampaknya Bisa Lebih Besar dari yang Diperkirakan
Di saat pasar sedang merayakan data inflasi yang lebih rendah, kondisi geopolitik justru bergerak ke arah yang berlawanan.
Konflik antara Amerika Serikat dan Iran kini memasuki hari kelima rangkaian eskalasi sejak 7 Juli. Pada 14 Juli, Amerika Serikat kembali memberlakukan blokade laut terhadap kapal-kapal yang terkait dengan Iran sekaligus mengenakan levy sebesar 20% untuk setiap kargo yang melewati Selat Hormuz sebagai biaya keamanan.
Sekilas berita ini mungkin terasa jauh dari kehidupan sehari-hari. Padahal dampaknya bisa sangat besar terhadap pasar global.
Selat Hormuz merupakan jalur yang dilewati sekitar seperlima perdagangan minyak dunia. Ketika distribusi energi terganggu atau biaya pengiriman meningkat, pasar biasanya langsung mengantisipasi kemungkinan berkurangnya pasokan. Akibatnya, harga minyak cenderung naik.
Jika harga minyak kembali melonjak, biaya transportasi, logistik, manufaktur, hingga harga kebutuhan pokok berpotensi ikut meningkat. Pada akhirnya, inflasi yang sempat melambat pada Juni bisa kembali memberikan kejutan pada data Juli.
Inilah alasan mengapa banyak analis mengingatkan agar investor tidak menganggap data inflasi Juni sebagai awal tren penurunan inflasi yang berkelanjutan. Justru sebaliknya, risiko oil-driven inflation kini kembali meningkat.
Pasar Mulai Mengurangi Ekspektasi terhadap The Fed
Meskipun data inflasi membawa angin segar, pasar sebenarnya belum benar-benar yakin bahwa era suku bunga tinggi sudah berakhir.
Data dari CME FedWatch menunjukkan peluang kenaikan suku bunga pada pertemuan September memang turun ke kisaran 54–63%, dari sebelumnya yang sempat berada di level 70–80%.
Artinya, peluang The Fed kembali menaikkan suku bunga memang mulai berkurang, tetapi belum hilang.
Di sisi lain, pasar masih memperkirakan sekitar 76% kemungkinan tidak ada pemangkasan suku bunga sama sekali sepanjang 2026. Angka ini menunjukkan bahwa ekspektasi kebijakan moneter masih relatif ketat. Sentimen investor juga belum sepenuhnya pulih.
Indeks Crypto Fear & Greed masih berada di level 29, yang berarti pasar masih berada dalam kategori Fear, meskipun Bitcoin telah memantul sekitar 29% dari titik terendah pada 5 Juli. Dengan kata lain, reli Bitcoin minggu ini lebih banyak dipandang sebagai relief rally daripada awal tren bullish baru.
Karena itu, level US$65.000 menjadi area yang sangat penting. Jika Bitcoin mampu bertahan di atas level tersebut dengan volume pembelian yang kuat, peluang melanjutkan kenaikan akan semakin besar. Namun apabila kembali kehilangan area US$62.000, tekanan jual berpotensi membawa harga turun menuju kisaran US$58.000 hingga US$59.000.
Arus Dana ETF Bitcoin Masih Naik Turun, Institusi Belum Sepenuhnya Yakin
Kalau kamu berharap kenaikan Bitcoin ke US$65.000 langsung diikuti oleh banjir dana dari investor institusi, kenyataannya belum seperti itu. Data minggu ini justru menunjukkan bahwa arus dana ke ETF Bitcoin spot di Amerika Serikat masih bergerak sangat fluktuatif.
Pada 13 Juli, ETF Bitcoin mencatat outflow sebesar US$424,7 juta, menjadi arus keluar terbesar sepanjang bulan Juli. Namun hanya sehari kemudian, pada 14 Juli, situasinya langsung berbalik dengan inflow sekitar US$181 juta, dipimpin oleh iShares Bitcoin Trust (IBIT) milik BlackRock yang menyumbang sekitar US$138,9 juta.
Pergerakan yang berubah drastis hanya dalam waktu 24 jam ini menunjukkan satu hal. Investor institusi belum memiliki keyakinan yang benar-benar kuat terhadap arah pasar.
Alih-alih membangun posisi secara konsisten, mereka masih bereaksi terhadap berita dan data ekonomi yang datang silih berganti. Tidak heran jika banyak analis menyebut arus dana ETF bulan Juli sebagai "choppy, not directional", yaitu bergerak naik turun tanpa tren yang jelas.
Bahkan secara year-to-date (YTD), total arus dana ETF Bitcoin masih mencatat outflow sekitar US$5,4 miliar. Artinya, reli Bitcoin saat ini belum sepenuhnya didukung oleh masuknya modal institusi dalam jumlah besar. Namun bukan berarti seluruh kabar dari investor institusi bernada negatif.
Di sisi lain, data on-chain justru menunjukkan akumulasi Bitcoin masih terus berlangsung. Aktivitas di centralized exchange (CEX) juga meningkat sekitar 15,3%, menjadi kenaikan volume pertama dalam lima bulan terakhir.
Ini memberikan gambaran menarik. Investor besar mungkin masih berhati-hati dalam membeli melalui ETF, tetapi sebagian pelaku pasar tetap memanfaatkan koreksi harga untuk mengakumulasi Bitcoin secara bertahap.
Jepang Diam-Diam Menjadi Katalis Positif yang Jarang Dibahas
Kalau sebagian besar perhatian pasar tertuju ke Amerika Serikat, ada satu perkembangan penting di Asia yang justru berpotensi memberikan dampak jangka panjang.
Pekan ini, komite di Majelis Tinggi Jepang menyetujui rancangan undang-undang yang akan mengklasifikasikan aset kripto sebagai instrumen keuangan.
Sekilas, berita ini mungkin tidak membuat harga Bitcoin langsung melonjak. Namun dalam jangka panjang, dampaknya bisa jauh lebih besar. Apabila regulasi ini benar-benar disahkan, Jepang berpotensi membuka jalan bagi ETF Bitcoin spot domestik sekitar tahun 2027, sekaligus menerapkan skema pajak flat sebesar 20% bagi investor kripto.
Kenapa ini penting? Karena Jepang merupakan salah satu negara dengan pasar keuangan terbesar di dunia. Regulasi yang lebih jelas biasanya membuat investor institusi merasa lebih nyaman untuk masuk ke aset digital.
Dengan kata lain, perkembangan di Jepang merupakan katalis struktural yang tidak bergantung pada kondisi politik Amerika Serikat. Saat pasar AS masih sibuk memperdebatkan suku bunga dan konflik geopolitik, Jepang justru mulai membangun fondasi regulasi yang lebih matang untuk industri aset digital. Bagi investor jangka panjang, ini adalah perkembangan yang layak dipantau.
CLARITY Act Masih Penuh Tantangan
Selain inflasi dan geopolitik, satu topik yang terus menjadi perhatian pelaku pasar kripto adalah CLARITY Act. RUU ini diharapkan dapat memberikan kepastian mengenai pembagian kewenangan antara SEC dan CFTC dalam mengawasi aset kripto di Amerika Serikat.
Semakin jelas regulasinya, semakin besar peluang perusahaan dan investor institusi untuk masuk ke industri kripto tanpa dibayangi ketidakpastian hukum. Sayangnya, perkembangan minggu ini belum terlalu menggembirakan.
Peluang CLARITY Act lolos menurut pasar prediksi Polymarket kembali turun menjadi sekitar 43%. Angka ini lebih rendah dibanding 48% pada minggu sebelumnya, bahkan jauh dari level sekitar 74% yang sempat terlihat pada musim semi.
Mengapa peluangnya terus menurun? Salah satu penyebab utamanya adalah padatnya agenda Senat Amerika Serikat. Target pembahasan di lantai Senat memang masih diarahkan pada pekan 20 Juli, tetapi jadwal tersebut harus bersaing dengan pembahasan National Defense Authorization Act (NDAA) yang memiliki prioritas politik lebih tinggi.
Selain itu, muncul persoalan baru terkait kekosongan kursi komisioner di SEC dan CFTC. Saat ini CFTC bahkan hanya memiliki satu komisioner aktif dari total lima kursi, sehingga muncul usulan agar beberapa aturan baru ditunda hingga struktur kepemimpinan kembali lengkap.
Semua faktor tersebut membuat peluang CLARITY Act semakin tidak pasti. Meski begitu, peluang lolosnya RUU ini belum sepenuhnya tertutup. Jika pembahasan benar-benar mendapat waktu sebelum masa reses Senat dimulai pada 7 Agustus, kejutan positif masih mungkin terjadi.
Karena itu, trader sebaiknya tidak mengambil keputusan hanya berdasarkan asumsi bahwa CLARITY Act pasti gagal.
Strategy Pilih Menjual Saham, Bukan Bitcoin
Satu kabar lain yang cukup menarik datang dari Strategy, perusahaan yang sebelumnya dikenal sebagai MicroStrategy. Minggu lalu, pasar sempat khawatir setelah perusahaan ini menjual sekitar US$216 juta Bitcoin pada awal Juli.
Banyak investor langsung bertanya-tanya, apakah Strategy mulai kehilangan kepercayaan terhadap Bitcoin? Jawabannya ternyata tidak. Minggu ini perusahaan justru mengambil langkah berbeda.
Alih-alih menjual Bitcoin lagi, Strategy memilih menjual saham MSTR senilai sekitar US$466,7 juta untuk memperkuat cadangan kas dalam dolar Amerika Serikat.
Hasilnya, cadangan kas perusahaan meningkat menjadi sekitar US$3 miliar, sementara kepemilikan Bitcoin tetap berada di angka 843.775 BTC. Keputusan ini penting karena mengirimkan sinyal bahwa Strategy masih berusaha mempertahankan kepemilikan Bitcoinnya.
Memang, saham MSTR sendiri masih mengalami tekanan dan turun sekitar 6,5% dalam sepekan menjadi US$94,64. Namun beberapa analis, termasuk dari Standard Chartered, menilai kondisi tersebut lebih berkaitan dengan komunikasi kepada investor dibanding masalah fundamental perusahaan.
Dengan kata lain, kekhawatiran bahwa Strategy akan terus menjual Bitcoin setiap kali membutuhkan dana tampaknya mulai mereda.
Bagaimana Dampaknya bagi Investor Indonesia?
Kalau kamu berinvestasi dari Indonesia, perkembangan global tadi tentu tetap memiliki pengaruh.
Bank Indonesia memang mempertahankan BI Rate di level 5,75%, tetapi nilai tukar rupiah justru kembali melemah ke kisaran Rp18.070–Rp18.140 per dolar AS, lebih lemah dibanding pekan sebelumnya yang berada di sekitar Rp17.963.
Pelemahan rupiah ini tidak lepas dari meningkatnya permintaan terhadap dolar AS di tengah eskalasi konflik Timur Tengah dan kekhawatiran terhadap harga energi global.
Menariknya, kondisi tersebut tidak langsung membuat pasar saham Indonesia ikut melemah. Sebaliknya, IHSG justru naik ke level 6.046, didukung keputusan S&P Global Ratings yang tetap mempertahankan peringkat kredit Indonesia di level BBB.
Meski demikian, S&P juga mengingatkan bahwa perubahan kebijakan global yang cepat serta meningkatnya ketidakpastian geopolitik tetap dapat memberikan tekanan terhadap arus modal dan nilai tukar rupiah. Artinya, investor Indonesia masih perlu memperhatikan perkembangan ekonomi global, bukan hanya kondisi domestik.
Jadi, Apa yang Sebaiknya Kamu Perhatikan Minggu Depan?
Beberapa hari ke depan berpotensi menjadi periode yang sangat menentukan bagi pasar kripto.
Pidato Presiden Donald Trump mengenai perkembangan konflik AS-Iran dapat memberikan gambaran apakah tensi geopolitik akan terus meningkat atau justru mulai mereda.
Pada 17 Juli, House Financial Services Committee juga dijadwalkan menggelar hearing mengenai CLARITY Act di New York. Meski belum menjadi voting resmi, pertemuan ini dapat memengaruhi sentimen menjelang target pembahasan Senat pada pekan 20 Juli.
Selanjutnya, perhatian pasar akan tertuju pada pertemuan FOMC tanggal 28-29 Juli. Tanpa proyeksi ekonomi baru maupun forward guidance yang kuat hingga September, setiap pernyataan pejabat The Fed akan menjadi katalis penting bagi pergerakan Bitcoin.
Semua agenda tersebut berpotensi menciptakan volatilitas tinggi dalam waktu singkat. Karena itu, jangan hanya fokus pada satu headline. Lihatlah bagaimana setiap peristiwa saling berkaitan.
Bitcoin Memang Menguat, Tapi Ujian Sebenarnya Baru Dimulai
Kembalinya Bitcoin ke level US$65.000 memang menjadi kabar yang menggembirakan. Data inflasi Amerika Serikat yang lebih rendah berhasil menghidupkan kembali optimisme bahwa tekanan ekonomi mulai mereda.
Namun jika melihat lebih dalam, reli kali ini masih dibayangi sejumlah risiko yang belum benar-benar hilang. Konflik AS-Iran kembali memanas, harga energi berpotensi naik, peluang inflasi kembali meningkat, dan arah kebijakan The Fed masih jauh dari pasti. Di sisi lain, arus dana ETF masih bergerak naik turun, sementara kepastian regulasi melalui CLARITY Act juga belum menemukan titik terang.
Meski begitu, bukan berarti prospek Bitcoin berubah menjadi negatif. Akumulasi on-chain masih berlanjut, Jepang mulai membangun fondasi regulasi yang lebih ramah terhadap aset digital, dan Strategy memilih mempertahankan seluruh kepemilikan Bitcoinnya.
Semua ini menunjukkan bahwa cerita jangka panjang Bitcoin belum berubah. Yang berubah hanyalah tingkat volatilitasnya. Kalau kamu seorang investor jangka panjang, fokuslah pada fundamental dan jangan mudah terbawa emosi oleh satu data ekonomi atau satu headline berita.
Kalau kamu seorang trader, disiplin terhadap manajemen risiko menjadi jauh lebih penting dibanding mencoba menebak arah pasar berdasarkan satu peristiwa. Pada akhirnya, pasar bukan hanya soal siapa yang paling cepat bereaksi, tetapi siapa yang mampu melihat gambaran besar di balik setiap pergerakan harga.
Kalau kamu sudah memahami peluang dan risikonya, sekarang saatnya mengambil langkah berikutnya. Download aplikasi FLOQ gratis di Playstore atau Appstore dan mulai trading kripto langsung dari satu aplikasi.
Baca Juga: Robot Trading: Strategi Cuan Otomatis atau Malah Bikin Duit Abis?
Disclaimer: Artikel ini disusun berdasarkan data dan informasi publik yang tersedia hingga 16 Juli 2026. Seluruh pembahasan bertujuan sebagai informasi dan edukasi, bukan merupakan ajakan, rekomendasi, atau nasihat investasi. Pasar aset kripto memiliki volatilitas yang tinggi dan dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk kondisi makroekonomi, regulasi, serta perkembangan geopolitik global yang dapat berubah sewaktu-waktu. Selalu lakukan riset mandiri (DYOR) dan sesuaikan setiap keputusan investasi dengan profil risiko serta tujuan keuangan kamu.







