Market Outlook W2 Juli 2026: Bitcoin Diapit Perang dan Inflasi. Grafik Hijau Cuma Ilusi?

Pasar

10 Jul 2026

7 menit

Ditulis oleh: Team FLOQ

Pattern 1
Article

Kalau kamu sempat melihat harga Bitcoin melonjak di awal Juli, mungkin kamu langsung berpikir kalau bull market akhirnya kembali. Warna hijau mulai mendominasi grafik, sentimen pasar membaik, dan harapan investor kembali tumbuh.

Sayangnya, optimisme itu tidak bertahan lama.

Belum sempat menikmati kenaikan harga, pasar kembali dihantam kabar buruk. Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali memanas. Dampaknya bukan hanya terasa di pasar saham atau harga minyak, tetapi juga menyeret Bitcoin dan altcoin turun dalam waktu singkat.

Situasi seperti ini sering membuat investor bingung. Haruskah membeli saat harga turun? Atau justru menunggu sampai kondisi lebih jelas?

Jawabannya tentu tidak sesederhana melihat grafik harian. Ada banyak faktor besar yang sedang saling memengaruhi, mulai dari kebijakan suku bunga The Fed, konflik geopolitik, arus dana ETF Bitcoin, hingga perkembangan regulasi kripto di Amerika Serikat.

Supaya kamu tidak salah mengambil keputusan, yuk pahami apa saja yang sebenarnya terjadi pada market minggu kedua Juli 2026.

Bitcoin Sempat Bangkit, Tapi Belum Aman

Awal Juli menjadi periode yang penuh kejutan.

Pada 1 Juli, Bitcoin sempat jatuh hingga menyentuh level US$58.278. Ini merupakan harga terendah dalam hampir dua tahun terakhir. Banyak investor mulai khawatir bahwa tren bearish masih akan berlanjut.

Namun hanya dalam hitungan hari, Bitcoin berhasil bangkit.

Pada 7 Juli, harganya naik hingga US$64.034 atau sekitar 6,27% dalam satu pekan. Kenaikan ini dipicu oleh data tenaga kerja Amerika Serikat yang jauh lebih lemah dari perkiraan.

Jumlah lapangan kerja baru hanya mencapai sekitar 57 ribu, padahal pasar sebelumnya memperkirakan sekitar 110 ribu pekerjaan baru. Mengapa data ini penting? Karena data tersebut membuat investor berharap The Fed tidak akan terlalu agresif menaikkan suku bunga.

Semakin kecil peluang kenaikan suku bunga, semakin besar pula minat investor untuk kembali membeli aset berisiko seperti Bitcoin. Namun jangan terburu-buru menyimpulkan bahwa The Fed sudah berubah menjadi lebih longgar.

Faktanya, peluang kenaikan suku bunga memang turun, tetapi belum hilang sepenuhnya. Sebelum data tenaga kerja dirilis, peluang kenaikan suku bunga September sempat berada di kisaran 70–80 persen. Setelah data keluar, peluangnya turun menjadi sekitar 54 persen.

Artinya, pasar masih berada dalam kondisi yang penuh ketidakpastian.

Konflik AS-Iran Mengubah Arah Pasar

Saat pasar mulai optimistis, muncul kabar yang langsung membalikkan keadaan. Iran menyerang beberapa kapal komersial di Selat Hormuz. Amerika Serikat membalas dengan serangan terhadap puluhan target militer Iran.

Situasi ini membuat pasar global langsung berubah menjadi mode risk-off. Investor memilih mengurangi aset berisiko dan memindahkan dana ke instrumen yang dianggap lebih aman. Bitcoin pun ikut terkena dampaknya.

Harga yang sebelumnya sudah mendekati US$64.000 kembali turun ke kisaran US$62.000. Yang menarik, penurunan ini bukan disebabkan oleh masalah di industri kripto. Justru faktor utamanya berasal dari kondisi makro global.

Ketika konflik meningkat, harga minyak ikut melonjak. Minyak Brent naik mendekati US$79 per barel, sedangkan WTI bergerak di atas US$74. Harga minyak yang lebih tinggi berpotensi mendorong inflasi kembali naik.

Jika inflasi meningkat, ruang bagi The Fed untuk menurunkan suku bunga menjadi semakin sempit. Inilah alasan mengapa perang di Timur Tengah bisa ikut memengaruhi harga Bitcoin.

Altcoin Kembali Menjadi Korban

Saat pasar sedang panik, altcoin biasanya menerima tekanan yang lebih besar dibandingkan Bitcoin. Hal ini kembali terlihat minggu ini.

Solana yang sebelumnya sempat naik hingga sekitar US$84 akhirnya kehilangan hampir seluruh kenaikannya dan kembali turun ke kisaran US$77. Beberapa altcoin lain seperti JUP, ETHFI, dan PUMP juga terkoreksi cukup dalam.

Data likuidasi menunjukkan sebagian besar posisi yang terkena margin call justru berasal dari altcoin. Fenomena ini sebenarnya bukan hal baru. Ketika ketakutan mulai menyebar, investor biasanya menjual aset yang risikonya lebih tinggi terlebih dahulu.

Karena itu, kalau kamu masih baru berinvestasi di kripto, jangan mudah tergoda membeli altcoin hanya karena melihat kenaikan sesaat.

Fear Masih Tinggi, Tapi Ada Sinyal Menarik

Walaupun Bitcoin sempat naik lebih dari 6 persen, indikator Fear and Greed masih berada di level Extreme Fear.

Artinya, mayoritas investor masih belum percaya bahwa kenaikan ini benar-benar awal bull market. Di sisi lain, data on-chain justru menunjukkan sesuatu yang menarik. Lebih dari separuh pasokan Bitcoin saat ini berada dalam posisi rugi setelah harga sempat turun di bawah US$60.000.

Dalam beberapa siklus sebelumnya, kondisi seperti ini sering muncul mendekati akhir fase bear market. Selain itu, tercatat lebih dari 270 ribu BTC berhasil diakumulasi di sekitar area US$59.000 dalam dua minggu terakhir.

Artinya, ketika sebagian investor memilih panik, sebagian investor lain justru mulai mengumpulkan Bitcoin secara perlahan. Meski begitu, kondisi ini belum cukup untuk memastikan bahwa bull market sudah dimulai.

Beberapa analis masih menilai kenaikan yang terjadi saat ini baru sebatas relief bounce atau pantulan sementara setelah tekanan jual yang panjang.

ETF Bitcoin Mulai Menunjukkan Harapan

Setelah mencatat rekor outflow sebesar US$4,5 miliar sepanjang Juni, ETF Bitcoin akhirnya kembali mencatat inflow pada awal Juli.

Dana yang masuk memang belum terlalu besar, tetapi setidaknya menjadi sinyal bahwa minat investor institusi mulai kembali muncul. Namun ada satu hal yang perlu diperhatikan. Arus dana tersebut belum terjadi secara merata.

Beberapa produk ETF masih mengalami outflow, sementara produk lain justru mencatat inflow cukup besar. Artinya, institusi belum benar-benar kompak kembali masuk ke pasar Bitcoin.

Kalau tren inflow ini mampu bertahan selama beberapa minggu ke depan, peluang pemulihan pasar akan menjadi jauh lebih kuat. Sebaliknya, jika hanya berlangsung beberapa hari, kenaikan harga kemungkinan masih bersifat sementara.

Regulasi Kripto Masih Jadi PR Besar

Selain faktor ekonomi dan geopolitik, investor juga masih menunggu kepastian regulasi di Amerika Serikat. Salah satu yang paling menjadi sorotan adalah CLARITY Act.

RUU ini diharapkan bisa memberikan kepastian hukum bagi industri kripto. Kalau aturan ini disahkan, investor institusi akan lebih percaya diri untuk masuk ke pasar. Sayangnya, harapan itu belum terwujud.

Target pembahasan pada awal Juli gagal tercapai. Hingga pekan kedua Juli, belum ada jadwal pasti untuk pemungutan suara di Senat. Artinya, pasar masih harus menunggu.

Masalahnya bukan sekadar soal waktu. Ada beberapa isu yang masih diperdebatkan, mulai dari aturan etika pejabat yang memiliki aset kripto, kewenangan penegak hukum, hingga aturan mengenai stablecoin.

Akibatnya, peluang CLARITY Act lolos tahun ini ikut menurun. Bagi investor, ini menjadi pengingat bahwa regulasi masih menjadi salah satu sumber ketidakpastian terbesar bagi pasar kripto. Karena itu, jangan membangun strategi investasi hanya berdasarkan asumsi bahwa aturan tersebut pasti segera disahkan.

Strategy Mulai Mengubah Cara Bermain

Kabar menarik lainnya datang dari Strategy, perusahaan yang selama ini dikenal sebagai pemegang Bitcoin terbesar di kalangan perusahaan publik.

Selama bertahun-tahun, Strategy identik dengan strategi membeli dan menyimpan Bitcoin dalam jangka panjang. Namun kini arah tersebut mulai berubah. Perusahaan mengumumkan kerangka kerja baru yang memungkinkan penjualan sebagian cadangan Bitcoin hingga sekitar US$1,25 miliar.

Dana hasil penjualan akan digunakan untuk memperkuat likuiditas, melakukan buyback saham, dan membayar dividen. Perubahan ini cukup penting. Bukan karena jumlah Bitcoin yang dijual, melainkan karena strategi perusahaan mulai bergeser dari sekadar mengoleksi menjadi lebih aktif mengelola aset.

Meski begitu, pasar merespons langkah tersebut dengan cukup positif. Harga saham Strategy berhasil pulih setelah sempat mengalami tekanan cukup besar pada akhir Juni. Buat investor, perubahan strategi ini layak dipantau. Jika pola penjualan Bitcoin terus berlanjut, persepsi pasar terhadap Strategy sebagai "proxy Bitcoin" bisa ikut berubah.

Pasar Indonesia Masih Menghadapi Tantangan

Di dalam negeri, kondisi ekonomi juga belum sepenuhnya nyaman. Bank Indonesia telah menaikkan BI Rate menjadi 5,75 persen untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.

Kebijakan ini memang membantu menahan pelemahan rupiah, tetapi di sisi lain membuat biaya pinjaman menjadi lebih mahal. Sektor yang bergantung pada pembiayaan biasanya akan lebih terdampak.

Di tengah kondisi tersebut, IHSG justru masih mampu bertahan. Dari sisi valuasi, banyak analis menilai pasar saham Indonesia saat ini sudah jauh lebih menarik dibanding beberapa bulan sebelumnya. Meski begitu, investor tetap perlu memperhatikan perkembangan global.

Kalau harga minyak terus naik akibat konflik di Timur Tengah, tekanan terhadap rupiah bisa kembali meningkat. Selain itu, perkembangan kebijakan perdagangan Amerika Serikat terhadap Indonesia juga layak dipantau karena berpotensi memengaruhi sentimen pasar.

Agenda Penting yang Perlu Kamu Pantau

Minggu-minggu berikutnya akan menjadi periode yang sangat menentukan. Ada beberapa agenda besar yang berpotensi menggerakkan pasar kripto.

  • Pertama, kembalinya Senat Amerika Serikat dari masa reses akan menjadi penentu apakah pembahasan CLARITY Act kembali berjalan atau tidak.
  • Kedua, data inflasi Amerika Serikat akan menjadi perhatian utama investor. Jika inflasi kembali meningkat, peluang kenaikan suku bunga bisa naik lagi. Sebaliknya, jika inflasi melambat, pasar berpotensi merespons positif.
  • Selanjutnya, perkembangan konflik AS-Iran juga tidak boleh diabaikan. Selama ketegangan masih tinggi, volatilitas pasar kemungkinan tetap besar.

Menjelang akhir Juli, perhatian investor akan tertuju pada rapat Federal Open Market Committee (FOMC). Keputusan The Fed akan menjadi salah satu katalis terbesar bagi Bitcoin bulan ini.

Strategi Menghadapi Pasar yang Masih Penuh Ketidakpastian

Kalau kamu masih baru di dunia kripto, fokuslah pada manajemen risiko. Jangan mudah panik saat harga turun. Metode investasi bertahap atau dollar cost averaging (DCA) masih menjadi pilihan yang masuk akal selama kamu menggunakan dana yang memang siap diinvestasikan.

Hindari keputusan impulsif hanya karena melihat harga naik dalam satu atau dua hari. Kalau kamu seorang trader, disiplin terhadap level support dan resistance menjadi jauh lebih penting dibanding mengejar setiap pergerakan harga.

Pasar saat ini masih sangat sensitif terhadap berita. Satu headline tentang perang atau data ekonomi saja bisa mengubah arah pasar dalam hitungan menit.

Sementara itu, bagi investor jangka panjang, fokuslah pada fundamental. Data on-chain masih menunjukkan adanya akumulasi Bitcoin di area harga yang lebih rendah. Selama fundamental tidak berubah, volatilitas jangka pendek seharusnya tidak mengubah strategi investasi secara drastis. Yang terpenting adalah tetap menjaga alokasi aset dan tidak mengambil risiko berlebihan.

Minggu kedua Juli 2026 menjadi bukti bahwa pasar kripto masih sangat dipengaruhi oleh faktor eksternal. Bitcoin memang sempat bangkit berkat harapan bahwa The Fed akan melunak. Namun optimisme tersebut langsung tertahan oleh meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah. Di sisi lain, masih ada beberapa sinyal positif yang layak diperhatikan.

ETF Bitcoin mulai kembali mencatat arus dana masuk. Investor jangka panjang juga terlihat kembali melakukan akumulasi. Meski begitu, pasar masih membutuhkan konfirmasi lebih kuat sebelum bisa mengatakan bahwa bull market benar-benar dimulai.

Untuk saat ini, pendekatan terbaik adalah tetap disiplin, tidak terburu-buru mengambil keputusan, dan terus mengikuti perkembangan ekonomi global, regulasi, serta data on-chain.

Dalam kondisi pasar seperti sekarang, kesabaran sering kali menjadi aset yang nilainya jauh lebih besar daripada keberanian.

Baca Juga: Tips Mengelola Emosi Saat Trading Kripto

Apa yang harus dipantau minggu depan?

Fokus pada data inflasi Amerika Serikat, perkembangan konflik AS-Iran, pembahasan CLARITY Act, dan keputusan The Fed. Keempat faktor ini berpotensi menjadi penentu arah pasar kripto dalam jangka pendek.

Kalau setelah membaca market outlook ini kamu ingin mulai membangun portofolio aset kripto, pastikan kamu menggunakan platform yang aman dan tepercaya. FLOQ telah berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK), sehingga kamu bisa bertransaksi aset kripto dengan lebih tenang.

Tak hanya itu, FLOQ juga menawarkan tampilan aplikasi yang sederhana, proses transaksi yang mudah, serta berbagai fitur yang dirancang untuk membantu investor, baik yang baru memulai maupun yang sudah berpengalaman.

Yuk, mulai perjalanan investasimu bersama FLOQ. Download aplikasi FLOQ sekarang juga di Google Play Store atau App Store.

Disclaimer: Seluruh informasi yang disampaikan disusun oleh mitra industri dengan tujuan memberikan edukasi kepada pembaca. Kami menyarankan Anda untuk melakukan riset secara mandiri dan mempertimbangkan dengan matang sebelum melakukan transaksi.

Loading...
Blur 2

Belajar, Investasi, dan Tumbuh Bersama Kami

Jadilah bagian dari FLOQ. Mulai perjalanan investasimu dengan platform terpercaya dari hari pertama.

Google PlayApp Store
Blur 2Blur 2Device