Market Outlook W2 Oktober 2026: BTC Masih Sideways? 5 Hal Ini Wajib Diwaspadai

Pasar

08 Oct 2026

9 menit

Ditulis oleh: Karin Hidayat

Pattern 1
Article

Pasar kripto memasuki pekan kedua Oktober 2026 dengan kondisi yang masih penuh tanda tanya. Bitcoin (BTC) belum berhasil melanjutkan breakout dan masih bergerak sideways di kisaran US$83,8 ribu-US$87,3 ribu. Di saat yang sama, arus dana ETF mulai terpecah, yield obligasi Amerika Serikat (AS) melonjak ke level tertinggi sejak 2002, dan pasar masih memperhatikan arah kebijakan Federal Reserve (Fed).

Menariknya, data terbaru justru menunjukkan kondisi yang agak berlawanan. Payroll AS September hanya bertambah 29 ribu, jauh di bawah rata-rata 12 bulan sebesar 45 ribu. Kondisi ini membuat peluang kenaikan suku bunga Fed pada 28 Oktober turun tajam menjadi sekitar 22%, dari sebelumnya 54-55%.

Tapi jangan buru-buru menganggap ini sebagai sinyal bahwa Fed sudah berubah menjadi dovish. Minutes FOMC September masih menunjukkan bahwa sebagian besar pejabat melihat kemungkinan kenaikan suku bunga lanjutan hingga akhir tahun.

Jadi, apa artinya buat BTC dan aset kripto lainnya?

BTC Masih Sideways, Belum Berhasil Tembus US$87,3 Ribu

Per 7 Oktober 2026, Bitcoin berada di sekitar US$83.759. Angka ini turun sekitar 2,9% dibandingkan sehari sebelumnya yang berada di US$86.281.

Dalam sepekan terakhir, BTC bergerak dalam rentang sekitar US$83,8 ribu hingga US$87,3 ribu. Upaya breakout pada 2 Oktober belum berhasil membawa harga bertahan di atas area tersebut.

Kondisi ini cukup menarik karena pada minggu sebelumnya pasar sempat mengantisipasi kemungkinan koreksi lebih tajam. BTC sebelumnya dinilai sudah cukup overbought dan berpotensi mengalami unwind setelah rilis data ekonomi serta options expiry senilai US$16,6 miliar.

Namun, yang terjadi justru berbeda.

BTC tidak mengalami koreksi tajam. Harga malah berkonsolidasi dalam rentang yang relatif sempit. Artinya, pasar memang masih menunjukkan kerentanan, tetapi belum ada konfirmasi bahwa koreksi besar sedang terjadi.

Untuk trader, beberapa level harga menjadi penting untuk diperhatikan.

Support BTC berada di sekitar US$83,5 ribu, kemudian US$82,3 ribu. Jika tekanan jual berlanjut, level berikutnya berada di sekitar US$79,4 ribu dan US$75,1 ribu.

Sementara itu, resistance berada di US$86,7 ribu dan US$87,3 ribu. Jika BTC berhasil melewati area tersebut dengan momentum yang kuat, US$89 ribu menjadi level berikutnya yang perlu diperhatikan.

Namun, volume perdagangan yang masih tipis membuat breakout perlu dikonfirmasi terlebih dahulu. Jangan sampai kenaikan sesaat langsung dianggap sebagai awal tren baru.

Payroll AS Lemah, Tapi Fed Belum Tentu Berbalik Dovish

Salah satu faktor terbesar yang sedang diperhatikan pasar adalah kebijakan suku bunga Fed.

Data Nonfarm Payrolls September menunjukkan penambahan pekerjaan hanya 29 ribu. Angka ini jauh lebih rendah dibandingkan ekspektasi pasar dan rata-rata 12 bulan sebesar 45 ribu.

Tingkat pengangguran berada di 4,2%, sementara upah per jam hanya naik 0,1% secara bulanan dan 3,0% secara tahunan.

Selain itu, data payroll bulan sebelumnya juga mengalami revisi. Data Juli direvisi menjadi minus 10 ribu dari sebelumnya plus 21 ribu, sedangkan Agustus direvisi menjadi 133 ribu dari 162 ribu. Secara total, revisi tersebut mengurangi 60 ribu pekerjaan dari data sebelumnya.

Data tenaga kerja yang melemah kemudian membuat pasar menurunkan ekspektasi kenaikan suku bunga pada pertemuan Fed 28 Oktober.

Peluang kenaikan suku bunga tersebut turun menjadi sekitar 22%, sementara peluang Fed mempertahankan suku bunga berada di sekitar 78%.

Sekilas, ini terdengar positif untuk aset berisiko seperti kripto.

Masalahnya, minutes FOMC September memberikan gambaran yang lebih kompleks.

Kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin ke kisaran 3,75–4,00% sebelumnya didukung secara bulat. Sebagian besar peserta juga masih melihat kemungkinan kenaikan suku bunga tambahan hingga akhir tahun sebagai sesuatu yang tepat.

Hampir seluruh peserta juga melihat risiko inflasi masih condong ke atas.

Jadi, pasar sebenarnya belum sepenuhnya meninggalkan skenario suku bunga tinggi.

Peluang setidaknya satu kali kenaikan suku bunga hingga akhir tahun masih berada di kisaran 80-85%. Dengan kata lain, pasar lebih banyak menggeser waktu kenaikan suku bunga daripada benar-benar membatalkan skenario tersebut.

Karena itu, data CPI inti AS pada 14 Oktober menjadi sangat penting. Data tersebut bisa menjadi salah satu penentu apakah peluang kenaikan suku bunga pada Oktober atau Desember kembali meningkat.

Yield Obligasi AS Jadi Beban Tambahan untuk Aset Risiko

Selain kebijakan Fed, investor juga perlu memperhatikan pergerakan yield US Treasury.

Yield US Treasury 10 tahun sempat menyentuh 5,365%, sedangkan yield 30 tahun mencapai 5,732%. Keduanya menjadi level tertinggi sejak 2002.

Yield kemudian turun ke sekitar 5,27% setelah lelang US Treasury 10 tahun senilai US$39 miliar mendapat permintaan yang kuat.

Kenapa yield penting untuk pasar kripto?

Secara sederhana, ketika imbal hasil obligasi AS naik dan dolar AS menguat, aset berisiko bisa menghadapi tekanan lebih besar karena investor memiliki alternatif aset dengan imbal hasil yang relatif menarik.

Dolar AS juga masih kuat dengan DXY sekitar 102,2, mendekati level tertinggi dalam 18 bulan. Kondisi ini menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan oleh investor aset berisiko, termasuk kripto.

Namun, penting untuk tidak langsung menyimpulkan bahwa kenaikan yield adalah satu-satunya penyebab pergerakan BTC. Hubungan antara keduanya dalam laporan ini masih bersifat korelasi, bukan hubungan sebab-akibat yang sudah terbukti.

Arus Dana ETF BTC dan ETH Mulai Berbeda

Pergerakan ETF juga menunjukkan perubahan sentimen investor.

Untuk BTC spot ETF AS, arus dana terlihat lebih moderat dibandingkan pekan sebelumnya. Pada 30 September terjadi outflow US$148,7 juta, kemudian inflow US$102,7 juta pada 1 Oktober, outflow US$90 juta pada 5 Oktober, dan kembali inflow US$118,9 juta pada 6 Oktober.

Angka inflow pada 6 Oktober memang terlihat positif. Namun, nilainya jauh lebih kecil dibandingkan rentetan inflow yang sebelumnya mencapai lebih dari US$2,3 miliar dalam satu pekan.

Artinya, jangan hanya melihat satu hari inflow dan langsung menyimpulkan bahwa tren bullish sudah kembali.

Situasinya bahkan lebih berbeda pada ETF Ethereum.

ETF spot ETH mencatat outflow selama enam sesi berturut-turut dengan total sekitar US$408 juta. Pada 6 Oktober saja, outflow mencapai US$201,9 juta, seluruhnya berasal dari ETHA.

Ini berbanding terbalik dengan periode 21-25 September ketika ETF ETH mencatat inflow sekitar US$690 juta.

Karena itu, kondisi ETF BTC dan ETH saat ini perlu dibaca secara terpisah. Inflow BTC tidak otomatis berarti ETH akan mengikuti arah yang sama.

Strategy Mulai Mengurangi Pembelian BTC

Perusahaan Strategy juga menjadi salah satu perhatian pasar.

Pada periode 1-4 Oktober, Strategy membeli 334 BTC dengan nilai sekitar US$28,7 juta. Harga rata-rata pembeliannya sekitar US$85.838,80 per BTC.

Dengan tambahan tersebut, total kepemilikan Strategy mencapai 848.000 BTC dengan biaya rata-rata sekitar US$75.440,70.

Namun, ada perubahan yang cukup menarik dalam penggunaan dana perusahaan.

Pada periode 28 September-4 Oktober, Strategy juga membeli kembali sekitar 1,7 juta saham preferred STRC senilai sekitar US$176 juta.

Jumlah tersebut sekitar enam kali lebih besar dibandingkan dana yang digunakan untuk membeli BTC pada pekan yang sama.

Kondisi ini belum tentu berarti Strategy berhenti mengakumulasi Bitcoin. Tetapi, investor tetap perlu memperhatikan apakah perlambatan tersebut hanya bersifat sementara atau menunjukkan perubahan prioritas pendanaan perusahaan.

Terlebih lagi, premi mNAV Strategy dilaporkan menyempit menjadi sekitar 1,06x berdasarkan satu agregator dan belum diverifikasi melalui filing resmi.

CLARITY Act Belum Memberikan Katalis Baru

Dari sisi regulasi AS, CLARITY Act juga belum memberikan perkembangan besar.

Posisi di Senat belum berubah setelah cloture motion to proceed gagal dengan suara 49-50 pada 15 September. Angka tersebut masih jauh dari ambang 60 suara yang dibutuhkan.

Sementara itu, RUU tersebut sebelumnya telah lolos DPR dengan suara 294-134 pada 17 Juli 2025.

Belum adanya jadwal voting baru membuat pasar sebaiknya tidak terlalu mengandalkan pengesahan CLARITY Act sebagai katalis harga kripto dalam waktu dekat.

Jalur regulasi justru mulai bergeser ke lembaga seperti SEC dan CFTC. CFTC telah mengirim rancangan aturan ke OIRA, sementara SEC membuka periode komentar untuk Regulation Crypto Assets hingga 20 Oktober.

Jadi, untuk sementara, lebih aman melihat perkembangan regulasi melalui langkah konkret lembaga terkait daripada mengasumsikan bahwa undang-undang tersebut pasti segera disahkan.

Harga Minyak dan Konflik Hormuz Masih Jadi Risiko

Faktor geopolitik juga belum selesai.

Selat Hormuz dilaporkan masih tertutup dan harga minyak tetap tinggi. Pada 7 Oktober, Brent berada di sekitar US$100,20 per barel dan WTI sekitar US$88,28.

Di sisi lain, G7 dan sejumlah mitra berencana melepas hingga 100 juta barel cadangan minyak darurat selama empat bulan untuk membantu menahan tekanan pasokan.

Harga minyak yang tinggi tetap menjadi perhatian karena dapat memperbesar tekanan inflasi global. Jika inflasi kembali tinggi, ruang bagi bank sentral untuk menurunkan suku bunga menjadi semakin terbatas.

Untuk pasar kripto, kondisi ini menjadi salah satu faktor makro yang perlu dipantau bersama dengan yield dan kebijakan Fed.

Bagaimana Kondisi Pasar Indonesia?

Dari dalam negeri, BI-Rate masih berada di 5,75% dan sudah bertahan dalam tiga kali keputusan terakhir. Rapat Dewan Gubernur berikutnya dijadwalkan pada 20-21 Oktober.

Sementara itu, rupiah ditutup di kisaran Rp17.875-Rp17.887 per dolar AS pada 7 Oktober. Posisi tersebut menunjukkan rupiah masih berada di bawah tekanan dibandingkan rentang pekan sebelumnya.

IHSG juga ditutup di 6.146,72 pada 7 Oktober, turun sekitar 3,6% dibandingkan posisi 23 September di 6.374,91. Pada hari tersebut, investor asing mencatat net sell sekitar Rp871 miliar.

Kondisi pasar domestik ini penting diperhatikan karena pergerakan dolar AS, yield global, rupiah, dan pasar saham dapat ikut memengaruhi sentimen investor di Indonesia.

Data yang Perlu Dipantau Pekan Ini

Kalau kamu mengikuti pasar kripto minggu ini, jangan cuma fokus melihat grafik BTC.

Ada beberapa agenda penting yang layak masuk radar.

Pada 8 Oktober, pasar akan memperhatikan initial jobless claims AS, minutes ECB, serta Indeks Keyakinan Konsumen Indonesia September.

Pada 9 Oktober, fokusnya adalah apakah BTC mampu bertahan di atas area US$83,5 ribu sekaligus melihat arah flow ETF.

Pada 12 Oktober, pasar obligasi AS tutup karena Columbus Day. Kondisi likuiditas yang lebih tipis bisa membuat pergerakan harga menjadi kurang representatif.

Namun, tanggal yang paling penting adalah 14 Oktober ketika data CPI inti September AS dirilis.

Jika inflasi lebih panas dari ekspektasi, peluang kenaikan suku bunga pada Oktober atau Desember bisa kembali meningkat. Kondisi ini berpotensi menambah tekanan terhadap BTC yang saat ini sedang menguji area support US$83,5 ribu.

Sebaliknya, jika CPI lebih jinak, narasi bahwa peluang kenaikan suku bunga Oktober rendah bisa kembali menguat.

Jadi, Apa yang Harus Dilakukan Trader dan Investor?

Untuk trader pemula, kondisi seperti sekarang bukan waktu yang ideal untuk mengambil posisi besar hanya karena melihat satu indikator.

Salah satu pendekatan yang bisa dipertimbangkan adalah menunggu data CPI 14 Oktober. Jika tetap ingin masuk pasar, pembagian posisi menjadi beberapa tahap dapat membantu mengurangi risiko masuk sekaligus.

Yang juga penting, jangan menganggap payroll yang lemah otomatis berarti Fed akan berubah dovish. Minutes FOMC masih menunjukkan risiko kenaikan suku bunga hingga akhir tahun.

Untuk swing trader, area US$83,5 ribu bisa menjadi trigger risiko yang perlu diperhatikan, dengan US$82,3 ribu sebagai level invalidasi. Sementara itu, area US$86,7-87,3 ribu menjadi resistance yang perlu ditembus jika BTC ingin menguji level lebih tinggi.

Sementara untuk investor jangka panjang, perhatian bisa diarahkan ke perkembangan Strategy, terutama laporan 8-K berikutnya, perbandingan buyback preferred dengan pembelian BTC, serta perkembangan regulasi SEC dan CFTC.

Jangan lupa juga bahwa kondisi pasar bisa berubah cepat. Data ekonomi, keputusan bank sentral, arus ETF, geopolitik, dan likuiditas global bisa membuat sentimen berubah dalam waktu singkat.

Kesimpulan

Pasar kripto pekan kedua Oktober 2026 masih berada dalam fase menunggu katalis baru.

BTC memang belum mengalami koreksi tajam dan masih bertahan di atas beberapa level support penting. Namun, harga juga belum berhasil menembus resistance US$87,3 ribu.

Di sisi makro, payroll AS yang lemah membuat peluang kenaikan suku bunga Fed pada 28 Oktober turun menjadi sekitar 22%. Meski begitu, minutes FOMC masih menunjukkan bahwa kenaikan suku bunga hingga akhir tahun tetap menjadi kemungkinan yang diperhitungkan pasar.

Di saat yang sama, yield US Treasury masih tinggi, dolar AS masih kuat, flow ETF BTC mulai melambat, ETF ETH mengalami outflow enam sesi berturut-turut, dan Strategy mengurangi laju pembelian BTC.

Karena itu, satu hal yang perlu diingat adalah jangan mengambil kesimpulan hanya dari satu indikator.

Untuk pekan ini, CPI inti AS pada 14 Oktober menjadi salah satu data terpenting. Pergerakan BTC di sekitar US$83,5-87,3 ribu juga perlu diperhatikan untuk melihat apakah pasar akan melanjutkan konsolidasi atau mulai memasuki fase koreksi yang lebih dalam.

FAQ

Apakah BTC sedang bearish?

Belum ada konfirmasi bahwa BTC memasuki tren bearish. Saat ini BTC masih bergerak sideways di kisaran US$83,8-87,3 ribu. Breakdown di bawah area US$82,3-83,5 ribu baru menjadi risiko yang perlu diperhatikan lebih serius.

Kenapa data payroll AS penting untuk BTC?

Payroll memberikan gambaran mengenai kondisi pasar tenaga kerja AS. Data yang lebih lemah dapat memengaruhi ekspektasi pasar terhadap kebijakan suku bunga Fed. Dalam laporan ini, payroll September yang hanya bertambah 29 ribu membuat peluang kenaikan suku bunga 28 Oktober turun menjadi sekitar 22%.

Kapan data penting berikutnya untuk pasar kripto?

Salah satu agenda terpenting adalah rilis CPI inti AS pada 14 Oktober. Data tersebut berpotensi memengaruhi ekspektasi pasar terhadap kebijakan Fed.

Apakah inflow ETF BTC berarti BTC pasti naik?

Nggak. Inflow ETF merupakan salah satu indikator sentimen dan permintaan institusional, tetapi bukan jaminan harga akan naik. Pada 6 Oktober BTC ETF memang mencatat inflow US$118,9 juta, tetapi arus dana tersebut perlu dilihat bersama indikator lain.

Apa yang harus diperhatikan investor jangka panjang?

Selain harga BTC, investor dapat memantau kebijakan suku bunga, yield US Treasury, flow ETF, perkembangan Strategy, regulasi aset kripto AS, serta kondisi geopolitik dan harga minyak.

Market Outlook ini disusun untuk memberikan informasi mengenai kondisi pasar. Data dan kondisi pasar dapat berubah sewaktu-waktu, sehingga setiap keputusan investasi tetap perlu mempertimbangkan profil risiko dan kondisi masing-masing.

Download aplikasi FLOQ di Play Store atau App Store; FLOQ aplikasi aset digital telah berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Baca Juga: Market Outlook W1 Oktober 2026: BTC Mulai Mendingin? Waspadai 5 Hal Ini

Disclaimer: Seluruh informasi yang disampaikan disusun oleh mitra industri dengan tujuan memberikan edukasi kepada pembaca. Kami menyarankan Anda untuk melakukan riset secara mandiri dan mempertimbangkan dengan matang sebelum melakukan transaksi.

Loading...
Blur 2

Belajar, Investasi, dan Tumbuh Bersama Kami

Jadilah bagian dari FLOQ. Mulai perjalanan investasimu dengan platform terpercaya dari hari pertama.

Google PlayApp Store
Blur 2Blur 2Device