Pernah dengar sukuk dan obligasi? Sekilas, keduanya memang terlihat mirip. Sama-sama bisa menjadi instrumen investasi. Sama-sama diterbitkan oleh pemerintah maupun perusahaan. Keduanya juga dapat memberikan penghasilan secara berkala kepada investor.
Tapi, sukuk dan obligasi sebenarnya punya konsep yang berbeda. Perbedaan paling mendasarnya ada pada prinsip penerbitan, struktur kepemilikan, sumber imbal hasil, dan penggunaan dana.
Sukuk menggunakan prinsip syariah. Sementara obligasi konvensional pada dasarnya merupakan surat pengakuan utang.
Otoritas Jasa Keuangan atau OJK juga menjelaskan bahwa sukuk bukan merupakan surat utang. Sukuk merupakan bukti kepemilikan bersama atas aset atau proyek tertentu. Sukuk juga membutuhkan underlying asset dan penggunaannya harus sesuai dengan prinsip syariah.
Nah, apa saja perbedaan sukuk dan obligasi secara lebih lengkap? Yuk, bahas satu per satu.
Apa Itu Sukuk?
Sebelum membahas perbedaan sukuk dan obligasi, kita perlu memahami sukuk terlebih dahulu. Sukuk adalah efek syariah berupa sertifikat atau bukti kepemilikan yang mewakili bagian tertentu dari aset yang menjadi dasar penerbitannya.
Aset tersebut disebut underlying asset.
Bentuknya bisa bermacam-macam. Misalnya tanah, bangunan, proyek pembangunan, jasa, atau hak manfaat atas suatu aset.
Karena menggunakan prinsip syariah, penerbitan sukuk juga melibatkan akad. Jenis akad yang digunakan dapat memengaruhi bagaimana struktur sukuk dan imbal hasilnya.
Imbal hasil sukuk dapat berupa imbalan, bagi hasil, atau margin. Jadi, istilahnya tidak selalu berupa bunga seperti pada obligasi konvensional. Penggunaan dana dari penerbitan sukuk juga harus sesuai dengan prinsip syariah.
Artinya, dana tersebut tidak boleh digunakan untuk kegiatan usaha yang bertentangan dengan prinsip syariah.
Apa Itu Obligasi?
Obligasi pada dasarnya merupakan surat pengakuan utang yang diterbitkan oleh suatu pihak. Pihak yang menerbitkan obligasi disebut penerbit atau issuer.
Investor yang membeli obligasi pada dasarnya memberikan dana kepada penerbit. Sebagai imbalannya, investor dapat menerima pembayaran kupon sesuai ketentuan obligasi.
Ketika jatuh tempo, pokok investasi juga akan dibayarkan sesuai ketentuan penerbitannya. Obligasi bisa diterbitkan oleh pemerintah maupun perusahaan.
Di pasar modal, obligasi menjadi salah satu instrumen yang dapat digunakan penerbit untuk memperoleh pendanaan dari investor. Jadi, kalau disederhanakan, obligasi lebih mudah dipahami sebagai instrumen utang.
Sementara sukuk menggunakan struktur yang didasarkan pada kepemilikan atas aset, manfaat aset, proyek, atau kegiatan tertentu sesuai akad syariah.
Perbedaan Sukuk dan Obligasi yang Paling Utama
Sekarang masuk ke bagian pentingnya. Ada beberapa perbedaan sukuk dan obligasi yang perlu kamu pahami sebelum mengenal lebih jauh kedua instrumen ini.
1. Prinsip Dasarnya Berbeda
Perbedaan pertama adalah prinsip dasar. Obligasi konvensional merupakan surat pengakuan utang. Artinya, penerbit memiliki kewajiban kepada investor sesuai dengan ketentuan obligasi.
Sementara itu, sukuk tidak menggunakan konsep surat utang sebagai struktur utamanya. Sukuk merepresentasikan kepemilikan bersama atas aset, manfaat aset, proyek, atau kegiatan investasi tertentu.
OJK secara khusus membedakan karakteristik tersebut dalam materi edukasi pasar modal syariah. Ini merupakan salah satu perbedaan sukuk dan obligasi yang paling mendasar.
2. Sukuk Menggunakan Prinsip Syariah
Sukuk merupakan salah satu efek syariah.
Karena itu, penerbitan dan mekanismenya harus sesuai dengan prinsip syariah di pasar modal. Ada akad yang digunakan dalam penerbitannya.
Penggunaan dana juga harus sesuai dengan prinsip syariah. Sementara itu, obligasi konvensional tidak menggunakan struktur akad syariah sebagai dasar penerbitannya.
Jadi, ketika kamu melihat produk sukuk, jangan hanya melihat nama produknya. Perhatikan juga akad dan struktur yang digunakan.
3. Adanya Underlying Asset
Ini juga menjadi pembeda yang cukup penting. Sukuk membutuhkan underlying asset sebagai dasar penerbitannya.
Underlying asset tersebut dapat berupa aset berwujud maupun tidak berwujud. Contohnya tanah, bangunan, proyek, jasa, atau hak manfaat atas aset.
Pada obligasi konvensional, underlying asset tidak menjadi persyaratan dengan konsep yang sama seperti pada sukuk.
Jadi, secara sederhana: Sukuk memiliki aset atau manfaat aset yang menjadi dasar struktur penerbitannya. Obligasi lebih berfokus pada hubungan utang antara penerbit dan investor.
4. Sumber Penghasilan Investor Berbeda
Perbedaan sukuk dan obligasi berikutnya ada pada sumber penghasilan. Pada obligasi konvensional, investor umumnya mendapatkan kupon atau bunga sesuai ketentuan penerbitan.
Sementara pada sukuk, investor dapat memperoleh imbalan, bagi hasil, atau margin, tergantung akad dan struktur sukuk yang digunakan. Karena itu, jangan langsung menyamakan imbal hasil sukuk dengan bunga obligasi.
Secara struktur, keduanya memiliki dasar yang berbeda.
5. Penggunaan Dana Berbeda
Penerbit juga memiliki ketentuan penggunaan dana yang berbeda. Dana hasil penerbitan sukuk harus digunakan untuk kegiatan yang tidak bertentangan dengan prinsip syariah.
Misalnya, dana tidak boleh diarahkan ke kegiatan usaha yang masuk kategori tidak sesuai dengan prinsip syariah. Pada obligasi konvensional, penggunaan dana tidak dibatasi oleh prinsip syariah dengan cara yang sama.
OJK mencantumkan penggunaan dana sebagai salah satu perbedaan utama antara sukuk dan obligasi.
6. Ada Pengawasan Aspek Syariah
Karena termasuk efek syariah, sukuk juga memiliki aspek kepatuhan syariah. Dalam ekosistem pasar modal syariah, terdapat peran Dewan Pengawas Syariah atau Tim Ahli Syariah sesuai struktur dan ketentuan yang berlaku.
Hal ini berbeda dengan obligasi konvensional yang tidak memiliki mekanisme pengawasan syariah. OJK mencantumkan pengawasan kesyariahan sebagai salah satu karakteristik yang membedakan sukuk dengan obligasi.
Persamaan Sukuk dan Obligasi
Meski memiliki banyak perbedaan, sukuk dan obligasi juga punya sejumlah persamaan.
- Pertama, keduanya sama-sama dapat menjadi instrumen investasi.
- Kedua, keduanya dapat diterbitkan oleh pemerintah maupun korporasi, tergantung jenis dan ketentuan penerbitannya.
- Ketiga, keduanya dapat memberikan pendapatan secara berkala kepada investor.
- Keempat, keduanya memiliki jangka waktu tertentu.
- Kelima, sukuk dan obligasi sama-sama memiliki risiko investasi.
Keduanya juga dapat memiliki mekanisme perdagangan di pasar sekunder. Harga yang terbentuk di pasar dapat berubah sebelum jatuh tempo.
Jadi, sukuk bukan berarti instrumen yang otomatis bebas risiko. Begitu juga obligasi bukan berarti selalu memiliki risiko yang sama untuk setiap penerbit dan setiap seri. Karakteristik masing-masing produk tetap perlu diperhatikan.
Jenis Sukuk yang Perlu Kamu Kenal
Sukuk memiliki beberapa jenis berdasarkan struktur dan akadnya. Salah satunya adalah sukuk yang menggunakan akad ijarah.
Secara sederhana, ijarah berkaitan dengan pemanfaatan atau penyewaan aset. Ada juga sukuk yang menggunakan akad seperti mudharabah, musyarakah, atau akad lain yang sesuai dengan ketentuan syariah.
Karena struktur setiap sukuk bisa berbeda, investor perlu membaca dokumen penerbitan sebelum membeli. Jangan hanya melihat besarnya imbal hasil. Perhatikan juga aset dasar, akad, tenor, penerbit, risiko, serta mekanisme pembayaran imbalannya.
Sukuk Pemerintah dan Sukuk Korporasi
Sukuk juga dapat dibedakan berdasarkan penerbitnya.
Ada sukuk pemerintah dan sukuk korporasi. Sukuk pemerintah diterbitkan oleh pemerintah untuk memperoleh pembiayaan sesuai mekanisme yang berlaku.
Di Indonesia, penerbitan Surat Berharga Syariah Negara atau SBSN memiliki landasan hukum melalui UU Nomor 19 Tahun 2008. Pemerintah Indonesia pertama kali menerbitkan SBSN pada 26 Agustus 2008.
Sementara itu, sukuk korporasi diterbitkan oleh perusahaan untuk memperoleh pendanaan. Keduanya sama-sama menggunakan prinsip syariah, tetapi karakteristik penerbit dan risikonya bisa berbeda.
Apakah Sukuk Lebih Aman daripada Obligasi?
Pertanyaan ini cukup sering muncul. Jawabannya tidak sesederhana itu. Sukuk memiliki underlying asset dan struktur syariah. Tetapi, hal tersebut bukan berarti setiap sukuk otomatis lebih aman daripada setiap obligasi.
Risiko tetap bergantung pada struktur produk dan penerbitnya. Ada risiko gagal bayar. Ada risiko perubahan harga. Ada risiko likuiditas. Pada sukuk, terdapat pula aspek kepatuhan terhadap prinsip syariah.
OJK juga menjelaskan bahwa sukuk memiliki risiko yang perlu diperhatikan, termasuk risiko yang berkaitan dengan pemenuhan prinsip syariah dan regulasi.
Jadi, jangan menggunakan label “sukuk” atau “obligasi” saja untuk menilai tingkat risiko sebuah produk. Lihat detail produknya.
Apakah Sukuk Sama dengan Obligasi Syariah?
Istilah ini sering bikin bingung. Sukuk memang kadang disebut sebagai obligasi syariah dalam konteks edukasi.
Namun, secara struktur, sukuk memiliki karakteristik yang berbeda dari obligasi konvensional. OJK menjelaskan bahwa sukuk bukan merupakan surat utang, tetapi merupakan bukti kepemilikan bersama atas aset atau proyek tertentu.
Jadi, menyebut sukuk sebagai “obligasi syariah” bisa membantu sebagai istilah sederhana. Tapi untuk memahami produknya dengan benar, kamu tetap perlu melihat struktur sukuknya.
Bagaimana Cara Memilih Sukuk atau Obligasi?
Tidak ada satu instrumen yang otomatis cocok untuk semua orang. Yang perlu dilakukan adalah memahami karakteristik produk dan menyesuaikannya dengan kebutuhan investasi.
Beberapa hal yang bisa kamu perhatikan antara lain:
Tujuan investasi. Tentukan dulu uang tersebut akan digunakan untuk apa.
Jangka waktu. Perhatikan apakah kamu membutuhkan dana dalam waktu dekat atau bisa menahannya sampai jatuh tempo.
Risiko. Kenali risiko penerbit, risiko harga, risiko likuiditas, dan risiko lainnya.
Imbal hasil. Jangan hanya melihat angka imbal hasil. Pahami juga dari mana imbal hasil tersebut berasal dan bagaimana mekanismenya.
Struktur produk. Untuk sukuk, pahami underlying asset dan akad yang digunakan.
Penerbit. Cari tahu siapa penerbitnya dan bagaimana kondisi serta rekam jejaknya.
Dengan begitu, keputusan investasi tidak hanya berdasarkan tren atau iming-iming imbal hasil.
Jadi, Apa Perbedaan Sukuk dan Obligasi?
Kalau diringkas, perbedaan sukuk dan obligasi terutama terletak pada struktur dan prinsipnya.
Sukuk merupakan efek syariah yang mewakili kepemilikan atas aset, manfaat aset, proyek, atau kegiatan tertentu. Sukuk membutuhkan underlying asset dan menggunakan akad yang sesuai prinsip syariah.
Obligasi merupakan instrumen utang. Investor memberikan dana kepada penerbit dan memperoleh hak pembayaran sesuai ketentuan obligasi, termasuk kupon dan pelunasan pokok.
Keduanya sama-sama bisa menjadi bagian dari portofolio investasi. Tapi mekanismenya berbeda. Karena itu, sebelum membeli, baca informasi produknya dengan teliti. Pahami penerbitnya. Pahami risikonya. Dan pastikan instrumen tersebut sesuai dengan tujuan serta profil risikomu.
FAQ Perbedaan Sukuk dan Obligasi
Apa perbedaan utama sukuk dan obligasi?
Perbedaan utamanya ada pada struktur. Obligasi merupakan instrumen utang, sedangkan sukuk merupakan efek syariah yang mewakili kepemilikan atas aset, manfaat aset, proyek, atau kegiatan tertentu sesuai akad.
Apakah sukuk menggunakan bunga?
Tidak. Sukuk menggunakan mekanisme imbalan, bagi hasil, atau margin sesuai akad dan struktur yang digunakan.
Apakah sukuk memiliki underlying asset?
Ya. Sukuk membutuhkan underlying asset sebagai dasar penerbitannya. Aset tersebut bisa berupa aset berwujud, jasa, proyek, atau hak manfaat atas aset.
Apakah obligasi memiliki underlying asset?
Obligasi konvensional tidak membutuhkan underlying asset sebagai persyaratan dengan konsep yang sama seperti sukuk.
Apakah sukuk dan obligasi sama-sama bisa memberikan penghasilan berkala?
Bisa. Keduanya dapat memberikan pendapatan secara berkala, tetapi istilah dan mekanisme penghasilannya berbeda. Pada obligasi umumnya berupa kupon, sedangkan pada sukuk dapat berupa imbalan, bagi hasil, atau margin.
Apakah sukuk bebas risiko?
Tidak. Sukuk tetap memiliki risiko investasi. Risiko tersebut dapat berasal dari penerbit, perubahan harga, likuiditas, struktur produk, maupun aspek kepatuhan syariah.
Apakah sukuk hanya diterbitkan pemerintah?
Tidak. Ada sukuk pemerintah dan sukuk korporasi.
Mana yang cocok untuk investor pemula, sukuk atau obligasi?
Keduanya perlu dipelajari terlebih dahulu. Jangan hanya melihat istilah atau imbal hasilnya. Pertimbangkan tujuan investasi, jangka waktu, risiko, penerbit, likuiditas, serta struktur produk.
Penutup
Memahami perbedaan sukuk dan obligasi penting sebelum kamu mulai berinvestasi di instrumen pendapatan tetap.
Sukuk menggunakan prinsip syariah dan memiliki underlying asset. Imbal hasilnya dapat berbentuk imbalan, bagi hasil, atau margin. Sementara obligasi merupakan instrumen utang dengan mekanisme kupon dan pembayaran pokok sesuai ketentuan penerbitan.
Keduanya punya karakteristik dan risiko masing-masing. Jadi, jangan terburu-buru memilih hanya karena melihat imbal hasil. Pelajari produknya. Baca informasi penerbitannya. Dan sesuaikan dengan tujuan investasimu.
Kalau kamu ingin mengenal lebih banyak instrumen dan aset digital, kamu juga bisa belajar lebih lanjut melalui ekosistem edukasi dan investasi yang tersedia di FLOQ.
Download aplikasi FLOQ di Play Store atau App Store; FLOQ aplikasi aset digital telah berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Baca Juga: Obligasi Syariah: Bukan Sekadar Investasi, Ini Cara Kerja dan Jenisnya







