Menjelang hari raya, ada satu hal yang biasanya ditunggu para pekerja selain libur panjang, yaitu Tunjangan Hari Raya atau THR. Tambahan penghasilan ini bisa membantu memenuhi kebutuhan hari raya, mulai dari membeli keperluan keluarga hingga menyiapkan perjalanan mudik.
Namun, masih ada beberapa hal tentang THR yang belum dipahami semua orang. Misalnya, apakah karyawan baru berhak mendapatkan THR? Apakah pekerja kontrak juga mendapatkannya? Lalu, apakah THR sama dengan bonus dari perusahaan?
THR adalah tunjangan yang diberikan kepada pekerja menjelang hari raya keagamaan sesuai ketentuan yang berlaku. Pemberiannya bukan sekadar kebijakan sukarela perusahaan. Bagi pekerja yang memenuhi persyaratan, THR merupakan hak yang wajib dipenuhi oleh pemberi kerja.
Memahami ketentuan THR penting agar kamu mengetahui hak yang seharusnya diterima. Dengan begitu, kamu juga bisa mengantisipasi jika ada perhitungan yang kurang tepat atau pembayaran yang tidak sesuai aturan.
Apa Itu THR?
THR adalah singkatan dari Tunjangan Hari Raya Keagamaan. Tunjangan ini diberikan kepada pekerja atau buruh menjelang hari raya keagamaan sesuai dengan ketentuan ketenagakerjaan.
Di Indonesia, THR umumnya identik dengan Idulfitri. Namun, pemberiannya tidak terbatas pada hari raya tersebut. Pekerja yang memenuhi ketentuan juga menerima THR menjelang hari raya keagamaan lain sesuai agama yang dianutnya.
Contohnya meliputi Natal, Nyepi, Waisak, dan Tahun Baru Imlek.
Tujuan pemberian THR adalah membantu pekerja memenuhi kebutuhan menjelang hari raya. Meski begitu, penggunaannya tidak dibatasi hanya untuk keperluan perayaan. Pekerja bisa menggunakannya untuk berbagai kebutuhan sesuai kondisi keuangan masing-masing.
Hal yang perlu dipahami adalah THR berbeda dari gaji bulanan. Gaji merupakan pembayaran atas pekerjaan yang dilakukan secara rutin, sedangkan THR merupakan tunjangan keagamaan yang diberikan sesuai ketentuan.
THR juga berbeda dari bonus tahunan. Bonus biasanya berkaitan dengan kebijakan perusahaan, pencapaian kinerja, atau ketentuan lain dalam hubungan kerja. Sementara itu, THR memiliki aturan khusus mengenai siapa yang berhak menerima, besaran minimum, dan waktu pembayarannya.
Jadi, jangan sampai kamu menganggap THR hanya sebagai hadiah dari perusahaan. Jika memenuhi persyaratan, kamu memiliki hak atas tunjangan tersebut.
Siapa yang Berhak Mendapatkan THR?
Tidak semua orang yang bekerja otomatis menerima THR dengan ketentuan yang sama. Hak atas THR bergantung pada hubungan kerja dan persyaratan yang berlaku.
Berikut beberapa kelompok pekerja yang perlu memahami ketentuan ini.
1. Karyawan Tetap
Karyawan tetap atau pekerja dengan perjanjian kerja waktu tidak tertentu (PKWTT) berhak menerima THR jika memenuhi persyaratan yang ditetapkan.
Pekerja dengan masa kerja 12 bulan secara terus-menerus atau lebih pada umumnya berhak mendapatkan THR sebesar satu bulan upah.
Besaran tersebut mengikuti ketentuan perhitungan yang berlaku. Karena itu, kamu tetap perlu memeriksa komponen upah yang digunakan perusahaan saat menghitung THR.
2. Karyawan Kontrak
Karyawan kontrak juga berhak menerima THR jika memenuhi persyaratan.
Status sebagai pekerja dengan perjanjian kerja waktu tertentu (PKWT) bukan alasan untuk menghilangkan hak THR. Pekerja kontrak dengan masa kerja minimal satu bulan secara terus-menerus dapat memperoleh THR sesuai ketentuan.
Jika masa kerjanya belum mencapai 12 bulan, besaran THR dihitung secara proporsional berdasarkan masa kerja dan upah yang menjadi dasar perhitungan.
Artinya, kamu tidak harus berstatus karyawan tetap untuk mendapatkan THR.
3. Karyawan Baru
Baru bekerja beberapa bulan dan sudah mendekati hari raya? Kamu tetap berpotensi mendapatkan THR.
Ketentuannya, pekerja dengan masa kerja minimal satu bulan secara terus-menerus berhak menerima THR sesuai aturan yang berlaku.
Namun, pekerja yang masa kerjanya belum mencapai 12 bulan tidak otomatis mendapatkan THR sebesar satu bulan upah penuh. Besarannya dihitung secara proporsional.
Misalnya, seseorang baru bekerja selama empat bulan. THR yang diterima dihitung berdasarkan perbandingan masa kerja dengan 12 bulan, kemudian dikalikan satu bulan upah sebagai dasar perhitungan.
Karena itu, jangan langsung menganggap kamu tidak berhak menerima THR hanya karena belum lama bergabung dengan perusahaan.
4. Pekerja Harian Lepas
Pekerja harian lepas juga dapat memperoleh THR jika memenuhi persyaratan dalam ketentuan yang berlaku.
Perhitungannya memiliki karakteristik tersendiri karena penghasilan pekerja harian bisa berubah dari satu bulan ke bulan berikutnya.
Untuk pekerja dengan masa kerja 12 bulan atau lebih, dasar upah bulanan umumnya menggunakan rata-rata upah selama 12 bulan terakhir sebelum hari raya.
Sementara itu, bagi pekerja yang masa kerjanya belum mencapai 12 bulan, dasar perhitungan upah bulanan menggunakan rata-rata upah selama masa kerja.
Perhitungan selanjutnya disesuaikan dengan masa kerja dan ketentuan THR yang berlaku.
Jika kamu bekerja dengan sistem harian, simpan catatan penghasilan dan informasi masa kerja. Data tersebut bisa membantu saat memeriksa perhitungan THR.
Apa Dasar Hukum THR di Indonesia?
Pemberian THR bukan hanya kebiasaan perusahaan menjelang hari raya. Ada peraturan yang menjadi dasar pelaksanaannya.
Salah satu aturan utamanya adalah Peraturan Menteri Ketenagakerjaan Nomor 6 Tahun 2016 tentang Tunjangan Hari Raya Keagamaan bagi Pekerja/Buruh di Perusahaan.
Peraturan tersebut mengatur sejumlah hal penting, termasuk pekerja yang berhak menerima THR, besaran tunjangan, dan waktu pembayarannya.
Secara umum, ada beberapa ketentuan yang perlu kamu pahami.
Pertama, THR merupakan hak pekerja yang memenuhi persyaratan. Pekerja dengan masa kerja minimal satu bulan secara terus-menerus dapat memperoleh THR sesuai ketentuan.
Kedua, besaran THR bergantung pada masa kerja. Pekerja dengan masa kerja 12 bulan atau lebih pada umumnya menerima THR sebesar satu bulan upah. Sementara itu, pekerja dengan masa kerja minimal satu bulan tetapi kurang dari 12 bulan menerima THR secara proporsional.
Ketiga, THR wajib dibayarkan tepat waktu. Pengusaha wajib membayarkan THR paling lambat tujuh hari sebelum hari raya keagamaan pekerja.
Keempat, THR wajib dibayarkan penuh. Pengusaha tidak diperbolehkan mencicil pembayaran THR yang menjadi kewajiban sesuai ketentuan.
Ketentuan teknis dan kebijakan pelaksanaan dapat diperbarui. Karena itu, kamu sebaiknya memeriksa informasi resmi dari Kementerian Ketenagakerjaan ketika mendekati hari raya.
Memahami dasar hukum ini bisa membantumu membedakan antara kebijakan internal perusahaan dan kewajiban yang memang sudah diatur oleh peraturan ketenagakerjaan.
Apakah THR Sama dengan Bonus?
THR dan bonus sama-sama bisa menambah penghasilan pekerja. Namun, keduanya memiliki dasar pemberian yang berbeda.
THR merupakan tunjangan keagamaan yang wajib diberikan kepada pekerja yang memenuhi persyaratan. Sementara itu, bonus dapat diberikan berdasarkan kebijakan perusahaan, pencapaian kinerja, keuntungan perusahaan, atau ketentuan dalam perjanjian kerja.
Perbedaan lainnya terletak pada waktu pemberian.
THR diberikan menjelang hari raya keagamaan pekerja sesuai ketentuan. Bonus tidak selalu diberikan pada waktu yang sama. Ada perusahaan yang memberikan bonus pada akhir tahun, setelah evaluasi kinerja, atau pada periode tertentu sesuai kebijakan yang berlaku.
Besaran keduanya juga tidak selalu sama.
THR memiliki ketentuan minimum yang harus dipenuhi. Adapun bonus bergantung pada dasar pemberiannya dan aturan yang berlaku di perusahaan.
Contohnya, seorang karyawan menerima THR sebesar satu bulan upah karena telah memenuhi persyaratan masa kerja. Pada periode yang sama, perusahaan juga memberikan bonus kinerja berdasarkan pencapaian target.
Dalam situasi tersebut, THR dan bonus merupakan dua pembayaran berbeda. Bonus tidak otomatis dapat menggantikan kewajiban perusahaan membayar THR.
Kalau kamu menerima keduanya, periksa rincian pembayaran agar bisa mengetahui komponen penghasilan yang diberikan perusahaan.
Bagaimana Jika THR Tidak Dibayarkan?
THR merupakan hak pekerja yang memenuhi persyaratan. Karena itu, perusahaan wajib memenuhi kewajiban pembayarannya sesuai aturan.
Jika THR belum diterima atau nominalnya terasa tidak sesuai, jangan langsung mengambil kesimpulan. Ada beberapa langkah yang bisa kamu lakukan.
1. Periksa Masa Kerja dan Komponen Upah
Langkah pertama adalah memastikan masa kerja dan dasar penghitungan THR.
Periksa tanggal mulai bekerja, status hubungan kerja, serta komponen upah yang digunakan dalam perhitungan.
Pekerja dengan masa kerja kurang dari 12 bulan memiliki perhitungan yang berbeda dari pekerja dengan masa kerja 12 bulan atau lebih.
Dengan memeriksa informasi tersebut, kamu bisa mengetahui apakah perbedaan nominal berasal dari perhitungan masa kerja atau ada hal lain yang perlu diklarifikasi.
2. Tanyakan kepada HR atau Perusahaan
Jika masih ada ketidaksesuaian, kamu bisa meminta penjelasan kepada bagian sumber daya manusia atau HR.
Sampaikan pertanyaan secara jelas. Misalnya, tanyakan dasar perhitungan THR, komponen upah yang digunakan, atau alasan pembayaran belum dilakukan.
Sebaiknya, simpan dokumen yang relevan, seperti perjanjian kerja, slip gaji, dan bukti komunikasi dengan perusahaan.
Dokumen tersebut dapat membantu memperjelas situasi jika masalah belum terselesaikan.
3. Cari Bantuan melalui Kanal Resmi
Jika masalah tidak menemukan penyelesaian melalui perusahaan, kamu dapat mencari bantuan dari dinas ketenagakerjaan setempat atau kanal pengaduan resmi Kementerian Ketenagakerjaan.
Jelaskan persoalan yang kamu hadapi dan siapkan dokumen pendukung jika diperlukan.
Pastikan kamu menggunakan kanal resmi agar mendapatkan informasi mengenai prosedur pengaduan yang sesuai.
Jangan ragu mencari penjelasan jika ada hak yang belum dipenuhi. Memahami aturan dan menyimpan bukti yang relevan bisa membantumu menyampaikan persoalan dengan lebih jelas.
Komponen Upah yang Digunakan untuk Menghitung THR
Salah satu hal yang sering menimbulkan pertanyaan adalah komponen upah yang digunakan untuk menghitung THR. Sebab, penghasilan pekerja tidak selalu terdiri dari satu jenis pembayaran.
Ada karyawan yang hanya menerima upah pokok. Ada juga yang memperoleh tunjangan tetap dan tunjangan tidak tetap setiap bulan.
Lantas, komponen mana yang digunakan?
Secara umum, dasar perhitungan THR adalah upah tanpa tunjangan atau upah bersih (clean wages), maupun upah pokok ditambah tunjangan tetap.
Tunjangan tetap merupakan pembayaran yang diberikan secara teratur dan tidak bergantung pada kehadiran atau pencapaian tertentu. Sementara itu, tunjangan tidak tetap bisa berubah sesuai kondisi yang ditentukan perusahaan.
Misalnya, seorang karyawan menerima upah pokok Rp5.000.000 dan tunjangan tetap Rp1.000.000 setiap bulan. Jika dasar perhitungan yang digunakan adalah upah pokok ditambah tunjangan tetap, maka satu bulan upahnya sebesar Rp6.000.000.
Jika masa kerjanya sudah mencapai 12 bulan atau lebih, THR yang menjadi haknya adalah Rp6.000.000.
Namun, perhitungan tersebut tetap perlu disesuaikan dengan komponen upah yang berlaku dalam hubungan kerjanya.
Karena itu, jangan hanya melihat jumlah uang yang masuk ke rekening setiap bulan. Periksa juga rincian slip gaji untuk mengetahui komponen upah yang menjadi dasar perhitungan THR.
Apakah THR Dikenakan Pajak?
Selain memahami besaran THR, kamu juga perlu mengetahui kemungkinan adanya potongan pajak.
THR merupakan tambahan penghasilan yang diterima pekerja. Dalam ketentuan perpajakan, tunjangan hari raya termasuk penghasilan yang dapat dikenakan Pajak Penghasilan atau PPh Pasal 21.
Namun, jumlah pajak yang dipotong tidak selalu sama untuk setiap orang.
Besarnya bergantung pada beberapa faktor, seperti total penghasilan, status perpajakan, dan ketentuan penghitungan PPh Pasal 21 yang berlaku.
THR yang diterima bersamaan dengan gaji juga dapat memengaruhi jumlah penghasilan bruto pada masa pajak tersebut. Akibatnya, potongan pajak pada bulan penerimaan THR bisa berbeda dibandingkan bulan biasa.
Contohnya, seorang karyawan biasanya menerima gaji bulanan tanpa penghasilan tambahan. Ketika THR dibayarkan, total penghasilannya pada bulan tersebut meningkat. Kondisi ini dapat memengaruhi penghitungan PPh Pasal 21 sesuai mekanisme yang berlaku.
Meski begitu, kamu tidak perlu langsung menganggap seluruh THR akan dipotong pajak dengan persentase tertentu. Perhitungannya perlu melihat kondisi penghasilan dan ketentuan perpajakan yang berlaku.
Untuk mengetahui jumlah bersih yang diterima, periksa slip gaji dan rincian pembayaran THR. Jika ada potongan yang belum dipahami, mintalah penjelasan dari bagian HR atau penggajian perusahaan.
Informasi ini penting agar kamu bisa memperkirakan uang yang benar-benar tersedia untuk digunakan.
Cara Memastikan THR yang Diterima Sudah Sesuai
Setelah memahami aturan THR, kamu juga perlu memastikan nominal yang diterima sesuai dengan hakmu.
Ada beberapa hal yang bisa diperiksa.
Pertama, pastikan data masa kerja sudah benar. Kesalahan pencatatan tanggal mulai bekerja dapat memengaruhi perhitungan masa kerja dan besaran THR.
Kedua, periksa komponen upah yang digunakan perusahaan. Pastikan dasar penghitungannya sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
Ketiga, perhatikan jumlah yang tercantum pada rincian pembayaran. Bedakan nominal THR sebelum potongan dengan jumlah bersih yang masuk ke rekening.
Keempat, simpan bukti pembayaran dan dokumen penggajian. Dokumen ini berguna jika kamu perlu meminta klarifikasi mengenai nominal yang diterima.
Terakhir, jangan ragu mengajukan pertanyaan kepada perusahaan apabila ada hal yang terasa janggal.
Memahami hak sebagai pekerja bukan berarti harus selalu berprasangka buruk terhadap perusahaan. Justru, pengetahuan tersebut bisa membantu kamu melakukan pemeriksaan secara objektif dan menyelesaikan kesalahpahaman dengan baik.
FAQ Seputar THR
1. THR adalah singkatan dari apa?
THR adalah singkatan dari Tunjangan Hari Raya Keagamaan. Tunjangan ini diberikan kepada pekerja yang memenuhi persyaratan menjelang hari raya keagamaan sesuai ketentuan ketenagakerjaan.
2. Apakah karyawan baru berhak mendapatkan THR?
Ya. Pekerja dengan masa kerja minimal satu bulan secara terus-menerus berhak mendapatkan THR jika memenuhi ketentuan yang berlaku. Jika masa kerjanya belum mencapai 12 bulan, besaran THR dihitung secara proporsional.
3. Apakah karyawan kontrak mendapatkan THR?
Ya. Pekerja dengan perjanjian kerja waktu tertentu (PKWT) berhak menerima THR apabila memenuhi persyaratan. Status sebagai karyawan kontrak tidak otomatis menghilangkan hak tersebut.
4. Berapa besaran THR yang diterima karyawan?
Pekerja dengan masa kerja 12 bulan atau lebih secara terus-menerus umumnya menerima THR sebesar satu bulan upah. Pekerja dengan masa kerja minimal satu bulan tetapi kurang dari 12 bulan menerima THR secara proporsional.
5. Kapan THR wajib dibayarkan?
THR wajib dibayarkan paling lambat tujuh hari sebelum hari raya keagamaan pekerja. Perusahaan juga diimbau untuk membayarkannya lebih awal.
6. Apakah perusahaan boleh mencicil THR?
Tidak. Berdasarkan ketentuan yang berlaku, THR wajib dibayarkan secara penuh dan tidak boleh dicicil.
7. Apakah THR sama dengan bonus tahunan?
Tidak. THR merupakan tunjangan keagamaan yang wajib diberikan kepada pekerja yang memenuhi persyaratan. Sementara itu, bonus biasanya diberikan berdasarkan kebijakan perusahaan, kinerja, atau ketentuan lain yang berlaku.
8. Apakah THR dikenakan pajak?
THR termasuk penghasilan yang dapat dikenakan PPh Pasal 21. Besaran pajaknya bergantung pada kondisi penghasilan dan ketentuan perpajakan yang berlaku.
9. Apa yang harus dilakukan jika THR belum dibayarkan?
Kamu bisa memeriksa kembali masa kerja dan ketentuan yang berlaku, kemudian meminta penjelasan kepada bagian HR atau perusahaan. Jika masalah belum terselesaikan, kamu dapat mencari bantuan melalui dinas ketenagakerjaan atau kanal pengaduan resmi Kementerian Ketenagakerjaan.
Kesimpulan
THR adalah Tunjangan Hari Raya Keagamaan yang menjadi hak pekerja yang memenuhi persyaratan ketenagakerjaan. Pemberiannya bukan sekadar kebijakan sukarela perusahaan, melainkan kewajiban yang memiliki dasar hukum.
Besaran THR bergantung pada masa kerja dan komponen upah yang digunakan sebagai dasar perhitungan. Pekerja dengan masa kerja 12 bulan atau lebih umumnya menerima satu bulan upah, sedangkan pekerja dengan masa kerja kurang dari 12 bulan menerima THR secara proporsional.
Selain memahami besaran dan waktu pembayarannya, kamu juga perlu mengetahui perbedaan THR dengan bonus serta potensi pajak yang dikenakan.
Dengan memahami ketentuan tersebut, kamu bisa memastikan hakmu terpenuhi dan merencanakan penggunaan penghasilan dengan lebih baik.
THR juga bisa menjadi kesempatan untuk memperbaiki kondisi keuangan. Kamu dapat menggunakannya untuk memenuhi kebutuhan, membayar kewajiban, atau menyisihkan sebagian uang untuk tujuan finansial jangka panjang.
Kalau ingin memperluas wawasan mengenai pengelolaan keuangan dan aset digital, kamu bisa mempelajari berbagai informasi melalui FLOQ.
Download aplikasi FLOQ di Play Store atau App Store. FLOQ merupakan aplikasi aset digital yang telah berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Baca Juga: Pajak THR: Cara Hitung dan Cek Potongannya







