Banyak pemilik UMKM merasa bisnisnya baik-baik saja karena penjualan terus masuk.
Setiap hari ada pelanggan.
Setiap minggu ada transaksi.
Bahkan omzet terlihat semakin besar.
Tapi, ada satu pertanyaan penting. Sebenarnya bisnis kamu untung atau cuma terlihat ramai?
Di sinilah laporan keuangan UMKM menjadi penting. Dengan laporan keuangan, kamu bisa melihat kondisi bisnis secara lebih jelas. Kamu bisa tahu berapa omzet, biaya, laba, utang, aset, sampai jumlah uang yang masih tersedia.
Tanpa pencatatan yang rapi, uang bisnis dan uang pribadi juga mudah tercampur. Akibatnya, pemilik usaha sering merasa punya banyak uang, padahal sebagian besar sebenarnya adalah modal atau uang untuk membayar biaya operasional.
Laporan keuangan bukan cuma untuk perusahaan besar. UMKM juga membutuhkannya. Bahkan, semakin cepat kamu mulai mencatat keuangan, semakin mudah kamu mengembangkan bisnis.
Apa Itu Laporan Keuangan UMKM?
Laporan keuangan UMKM adalah catatan yang menunjukkan kondisi keuangan sebuah usaha dalam periode tertentu.
Sederhananya, laporan ini membantu kamu menjawab beberapa pertanyaan penting.
- Berapa omzet bisnis?
- Berapa total pengeluaran?
- Apakah bisnis menghasilkan keuntungan?
- Berapa jumlah aset yang dimiliki?
- Apakah bisnis punya utang?
- Berapa uang yang tersedia?
- Apakah kondisi keuangan bisnis semakin sehat?
Catatannya tidak harus rumit. Untuk usaha kecil, kamu bisa memulainya dari pencatatan pemasukan dan pengeluaran harian. Setelah bisnis berkembang, pencatatan bisa dibuat lebih lengkap. Tujuannya bukan sekadar memiliki dokumen keuangan.
Tujuan utamanya adalah membantu pemilik UMKM mengambil keputusan berdasarkan angka, bukan sekadar perkiraan.
Kenapa Laporan Keuangan Penting untuk UMKM?
Ada alasan kenapa pencatatan keuangan tidak boleh dianggap sepele. Bisnis bisa memiliki omzet besar, tetapi belum tentu menghasilkan laba besar.
Misalnya, sebuah usaha mendapatkan omzet Rp30 juta dalam satu bulan. Kelihatannya besar. Namun, ternyata biaya bahan baku mencapai Rp15 juta. Biaya sewa Rp4 juta. Gaji Rp5 juta. Biaya listrik, internet, transportasi, dan biaya lainnya mencapai Rp3 juta.
Artinya, uang yang tersisa tidak sebesar omzetnya. Tanpa pencatatan, kondisi seperti ini sulit terlihat. Berikut beberapa manfaat laporan keuangan UMKM.
1. Mengetahui kondisi bisnis
Laporan keuangan membantu kamu melihat apakah bisnis sedang berkembang, stagnan, atau justru mengalami penurunan. Kamu tidak perlu menebak-nebak. Lihat angkanya.
2. Mengukur keuntungan
Omzet bukan keuntungan. Ini salah satu kesalahan yang sering terjadi dalam bisnis kecil. Keuntungan baru bisa diketahui setelah seluruh biaya diperhitungkan.
Rumus sederhananya: Laba = Pendapatan - Total Biaya
Dengan pencatatan rutin, kamu bisa mengetahui apakah margin bisnis masih sehat.
3. Mengontrol pengeluaran
Pengeluaran kecil sering dianggap tidak penting. Padahal, kalau terjadi setiap hari, jumlahnya bisa besar. Contohnya biaya transportasi, kemasan, biaya admin, langganan aplikasi, hingga pembelian perlengkapan. Laporan keuangan membantu menemukan pengeluaran yang sebenarnya bisa dikurangi.
4. Memisahkan uang pribadi dan bisnis
Ini sangat penting. Uang hasil penjualan sebaiknya tidak langsung dianggap sebagai uang pribadi. Pisahkan rekening atau setidaknya pencatatannya. Dengan begitu, kamu bisa mengetahui berapa uang yang benar-benar menjadi bagian dari bisnis.
5. Membantu mengambil keputusan
Mau membuka cabang? Membeli mesin baru? Menambah karyawan?Meningkatkan stok? Atau menjalankan promosi? Semua keputusan tersebut membutuhkan perhitungan. Laporan keuangan bisa menjadi salah satu dasar pertimbangannya.
Jenis-Jenis Laporan Keuangan UMKM
Laporan keuangan UMKM tidak harus langsung kompleks. Ada beberapa jenis laporan yang bisa digunakan sesuai kebutuhan dan skala bisnis.
1. Laporan Laba Rugi
Laporan laba rugi menunjukkan pendapatan dan biaya bisnis dalam periode tertentu. Dari sini, kamu bisa mengetahui apakah bisnis menghasilkan laba atau mengalami rugi.
Komponen sederhananya terdiri dari: Pendapatan - Beban = Laba atau Rugi
Misalnya:
Pendapatan: Rp20 juta
Total biaya: Rp14 juta
Maka laba bisnis adalah Rp6 juta. Angka ini jauh lebih berguna dibanding hanya mengetahui omzet Rp20 juta.
2. Laporan Arus Kas
Laporan arus kas mencatat uang yang masuk dan keluar. Ini berbeda dengan laporan laba rugi. Bisnis bisa saja mencatat keuntungan, tetapi mengalami masalah kas karena uang belum diterima dari pelanggan. Arus kas membantu kamu mengetahui apakah tersedia cukup uang untuk membayar kebutuhan operasional.
3. Neraca
Neraca memberikan gambaran mengenai posisi keuangan bisnis pada periode tertentu. Secara sederhana, neraca mencakup: Aset = Liabilitas + Ekuitas
Aset adalah sesuatu yang dimiliki bisnis. Contohnya kas, persediaan, peralatan, dan aset lainnya. Liabilitas adalah kewajiban atau utang bisnis. Sementara ekuitas menunjukkan bagian kekayaan yang menjadi hak pemilik setelah memperhitungkan kewajiban.
Untuk UMKM yang masih sangat kecil, pencatatan sederhana bisa menjadi langkah awal sebelum membuat laporan yang lebih lengkap.
4. Catatan Keuangan Sederhana
Tidak semua UMKM langsung membutuhkan sistem akuntansi yang kompleks. Kamu bisa mulai dengan catatan harian.
Misalnya: Hari ini menerima penjualan Rp500 ribu. Kemudian membeli bahan baku Rp200 ribu. Membayar ongkos kirim Rp50 ribu. Semua transaksi dicatat. Dari kebiasaan sederhana tersebut, data keuangan bisnis mulai terbentuk.
Apa Saja yang Harus Dicatat dalam Keuangan UMKM?
Kalau baru mulai, jangan membuat sistem yang terlalu rumit. Fokus pada transaksi yang paling penting.
Pendapatan
Catat seluruh uang yang diterima dari penjualan produk atau jasa. Jangan hanya mencatat penjualan besar. Transaksi kecil juga tetap perlu dicatat.
Pengeluaran
Catat semua biaya yang berkaitan dengan bisnis. Misalnya:
- Bahan baku
- Kemasan
- Sewa tempat
- Gaji
- Transportasi
- Listrik
- Internet
- Biaya pemasaran
- Biaya administrasi
- Pembelian peralatan
Utang
Kalau bisnis memiliki utang, catat jumlah dan jadwal pembayarannya. Jangan sampai utang terlupakan karena tidak pernah dicatat.
Piutang
Kalau pelanggan membeli secara tempo, catat juga. Piutang adalah uang yang menjadi hak bisnis tetapi belum diterima.
Aset
Catat aset yang dimiliki bisnis. Contohnya mesin produksi, kendaraan operasional, komputer, peralatan, atau persediaan.
Cara Membuat Laporan Keuangan UMKM
Tidak perlu menunggu bisnis besar untuk mulai membuat laporan. Kamu bisa mengikuti langkah berikut.
Langkah 1: Pisahkan uang bisnis dan pribadi
Ini fondasi pertama. Kalau memungkinkan, gunakan rekening yang berbeda. Jangan mengambil uang kas bisnis tanpa pencatatan. Kalau kamu mengambil uang untuk kebutuhan pribadi, catat sebagai pengambilan pribadi.
Langkah 2: Catat transaksi setiap hari
Jangan menunggu akhir bulan. Semakin lama ditunda, semakin besar kemungkinan ada transaksi yang lupa dicatat. Luangkan beberapa menit setiap hari. Catat pemasukan dan pengeluaran.
Langkah 3: Simpan bukti transaksi
Struk, invoice, nota, dan bukti transfer sebaiknya disimpan. Bukti transaksi membantu ketika kamu perlu mengecek kembali pencatatan.
Langkah 4: Kelompokkan transaksi
Pisahkan pendapatan berdasarkan sumbernya. Begitu juga dengan pengeluaran. Misalnya biaya bahan baku dipisahkan dari biaya pemasaran. Dengan begitu, kamu bisa mengetahui pos mana yang paling banyak menghabiskan uang.
Langkah 5: Buat laporan secara berkala
Buat rekap mingguan atau bulanan. Untuk tahap awal, laporan bulanan sudah cukup membantu. Dari sana, kamu bisa membandingkan kondisi bulan ini dengan bulan sebelumnya.
Langkah 6: Evaluasi hasilnya
Jangan berhenti setelah membuat laporan. Baca hasilnya. Kalau biaya meningkat, cari penyebabnya. Kalau penjualan turun, cari tahu alasannya. Kalau laba meningkat, lihat faktor yang mendorongnya. Inilah manfaat sebenarnya dari laporan keuangan. Bukan hanya mencatat. Tapi menggunakan angka untuk memperbaiki bisnis.
Contoh Laporan Keuangan UMKM Sederhana
Misalnya kamu memiliki bisnis makanan. Dalam satu bulan, total penjualan mencapai Rp25 juta.
Kemudian terdapat beberapa biaya: Bahan baku Rp9 juta. Gaji Rp4 juta. Sewa Rp3 juta. Pemasaran Rp1 juta. Listrik dan internet Rp1 juta. Biaya lainnya Rp1 juta. Total biaya menjadi Rp19 juta.
Maka laba sederhananya: Rp25 juta - Rp19 juta = Rp6 juta.
Dari contoh tersebut, kamu bisa melihat bahwa omzet Rp25 juta tidak sama dengan keuntungan Rp25 juta. Bisnis hanya menghasilkan laba Rp6 juta setelah biaya diperhitungkan. Perhitungan seperti ini membantu pemilik usaha membuat keputusan yang lebih realistis.
Kesalahan dalam Membuat Laporan Keuangan UMKM
Membuat laporan keuangan sebenarnya tidak terlalu sulit. Yang sering menjadi masalah justru konsistensinya. Berikut beberapa kesalahan yang sebaiknya dihindari.
Mencampur uang pribadi dan bisnis
Ini adalah salah satu masalah paling umum. Ketika semua uang masuk ke rekening yang sama, sulit mengetahui kondisi bisnis sebenarnya.
Hanya mencatat penjualan
Penjualan memang penting. Tapi pengeluaran juga harus dicatat. Kalau hanya melihat pemasukan, kamu tidak akan mendapatkan gambaran lengkap mengenai keuntungan.
Tidak mencatat transaksi kecil
Jangan meremehkan pengeluaran Rp10 ribu, Rp20 ribu, atau Rp50 ribu. Kalau dilakukan berkali-kali, jumlahnya bisa signifikan.
Tidak menyimpan bukti transaksi
Tanpa bukti, kamu akan lebih sulit melakukan pengecekan ketika menemukan angka yang tidak sesuai.
Membuat laporan hanya saat membutuhkan
Misalnya ketika ingin mengajukan pembiayaan atau mencari investor. Sebaiknya jangan begitu. Laporan keuangan harus dibuat secara rutin. Dengan begitu, data bisnis sudah tersedia ketika dibutuhkan.
Tips Membuat Laporan Keuangan UMKM Lebih Rapi
Ada beberapa kebiasaan sederhana yang bisa membantu.
Pertama, pilih satu metode pencatatan dan gunakan secara konsisten. Kamu bisa menggunakan spreadsheet, aplikasi keuangan, atau software akuntansi.
Kedua, buat jadwal khusus untuk mengecek keuangan. Misalnya setiap malam atau setiap akhir minggu.
Ketiga, jangan hanya melihat omzet. Perhatikan juga laba, arus kas, biaya, utang, dan aset.
Keempat, lakukan evaluasi setiap bulan. Cari tahu apakah ada biaya yang meningkat tanpa memberikan dampak pada penjualan.
Kelima, buat target keuangan. Misalnya target omzet, target laba, atau batas maksimal biaya operasional. Dengan target yang jelas, pengelolaan bisnis menjadi lebih terarah.
Laporan Keuangan UMKM Bisa Membantu Bisnis Berkembang
Ketika bisnis semakin besar, keputusan yang harus dibuat juga semakin banyak. Kamu mungkin perlu membeli peralatan baru. Merekrut karyawan. Membuka cabang. Menambah stok. Atau memperluas pemasaran. Semua membutuhkan modal.
Di titik ini, laporan keuangan menjadi semakin penting. Data keuangan bisa membantu kamu mengetahui apakah bisnis benar-benar mampu menanggung rencana tersebut.
Laporan yang rapi juga membuat kondisi bisnis lebih mudah dipahami ketika kamu berdiskusi dengan pihak eksternal. Jadi, jangan menganggap pencatatan keuangan sebagai pekerjaan administratif semata.
Laporan keuangan adalah alat untuk memahami bisnis.
Semakin baik kamu memahami angka bisnis, semakin baik pula keputusan yang bisa dibuat.
FAQ Laporan Keuangan UMKM
Apa yang dimaksud dengan laporan keuangan UMKM?
Laporan keuangan UMKM adalah pencatatan yang menunjukkan kondisi keuangan usaha. Isinya dapat mencakup pendapatan, pengeluaran, laba rugi, arus kas, aset, kewajiban, dan ekuitas.
Apakah UMKM wajib membuat laporan keuangan?
Kebutuhan dan kewajiban pencatatan dapat berbeda sesuai bentuk usaha dan ketentuan yang berlaku. Namun, secara praktis, setiap UMKM sangat disarankan memiliki pencatatan keuangan yang rapi untuk mengontrol bisnis.
Apa laporan keuangan yang paling sederhana untuk UMKM?
Kamu bisa mulai dari catatan pemasukan dan pengeluaran. Setelah bisnis berkembang, pencatatan dapat diperluas menjadi laporan laba rugi, arus kas, dan neraca.
Apa bedanya omzet dan laba?
Omzet adalah total pendapatan dari penjualan sebelum dikurangi biaya. Laba adalah keuntungan setelah pendapatan dikurangi biaya yang terkait dengan bisnis.
Seberapa sering laporan keuangan UMKM dibuat?
Untuk pencatatan transaksi, idealnya dilakukan setiap hari. Kemudian data tersebut bisa direkap dan dievaluasi secara mingguan atau bulanan.
Apakah laporan keuangan bisa dibuat sendiri?
Bisa. UMKM skala kecil dapat memulainya dengan spreadsheet atau aplikasi pencatatan keuangan. Ketika transaksi semakin kompleks, bantuan tenaga akuntansi juga bisa dipertimbangkan.
Kenapa uang pribadi dan uang bisnis harus dipisahkan?
Karena pencampuran keduanya membuat kondisi keuangan bisnis sulit diketahui. Pemisahan membantu kamu melihat berapa uang yang benar-benar berasal dari bisnis dan berapa yang digunakan untuk kebutuhan pribadi.
Kesimpulan
Laporan keuangan UMKM bukan sekadar kumpulan angka. Laporan ini membantu kamu memahami kondisi bisnis secara nyata.
Mulai dari omzet, pengeluaran, laba, arus kas, aset, sampai utang. Kamu juga tidak harus langsung membuat sistem yang rumit.
Mulai saja dari hal sederhana. Catat pemasukan. Catat pengeluaran. Simpan bukti transaksi. Pisahkan uang bisnis dan pribadi. Kemudian lakukan evaluasi secara rutin.
Ketika bisnis semakin berkembang, sistem pencatatan juga bisa ikut ditingkatkan. Pada akhirnya, bisnis yang sehat bukan cuma bisnis yang ramai pembeli.
Bisnis yang sehat adalah bisnis yang pemiliknya tahu ke mana uang masuk, ke mana uang keluar, dan berapa hasil yang benar-benar diperoleh.
Kelola Keuangan, Ambil Keputusan dengan Lebih Bijak
Setelah memahami kondisi keuangan bisnis, penting juga untuk mulai membangun kebiasaan mengelola keuangan dengan lebih terencana.
Kalau kamu ingin mengenal aset digital sebagai salah satu bagian dari literasi dan pengelolaan finansial, kamu bisa mempelajarinya melalui FLOQ. Download aplikasi FLOQ di Play Store atau App Store. FLOQ aplikasi aset digital telah berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Tetap pahami risiko dan lakukan riset sebelum mengambil keputusan finansial maupun investasi.
Baca Juga: Contoh Laporan Keuangan Sederhana: Bikin Sendiri dalam 10 Menit!







