Harga Bitcoin (BTC) kembali tertekan pada Kamis (29/10/2026) setelah keputusan terbaru bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve (The Fed), mempertahankan suku bunga di tengah kekhawatiran inflasi yang masih tinggi. Tekanan pasar juga diperkuat oleh likuidasi posisi perdagangan berleverage yang memicu aksi jual di pasar kripto.
Berdasarkan data CoinMarketCap, Bitcoin turun 0,87% dalam 24 jam terakhir ke level US$80.084,78. Pelemahan tersebut sejalan dengan penurunan kapitalisasi pasar kripto secara keseluruhan sebesar 0,94%.
Pergerakan ini menunjukkan bahwa pasar kripto masih sensitif terhadap arah kebijakan moneter AS. Meski The Fed tidak menaikkan suku bunga pada pertemuan Oktober, sikap hati-hati terhadap inflasi membuat investor belum memiliki kepastian mengenai pelonggaran kebijakan dalam waktu dekat.
The Fed Tahan Suku Bunga, Bitcoin Tertekan
Dalam pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) pada 28 Oktober 2026, The Fed mempertahankan suku bunga acuan pada kisaran 3,75%–4,00%.
Namun, keputusan tersebut tidak sepenuhnya mencerminkan meredanya tekanan moneter. Berdasarkan pernyataan resmi The Fed, aktivitas ekonomi AS masih tumbuh kuat, sementara inflasi tetap berada di atas target jangka panjang sebesar 2%.
Keputusan tersebut disetujui melalui pemungutan suara 10–2. Dua pejabat, Lisa Cook dan Beth Hammack, berbeda pendapat karena menginginkan kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan tersebut.
Sikap tersebut memperkuat ketidakpastian mengenai langkah The Fed selanjutnya, termasuk kemungkinan kenaikan suku bunga pada Desember. Meski demikian, keputusan berikutnya masih bergantung pada perkembangan data ekonomi dan inflasi.
Bagi Bitcoin, prospek suku bunga yang bertahan tinggi dapat menjadi hambatan bagi penguatan harga. Imbal hasil instrumen keuangan berbasis dolar yang relatif menarik berpotensi mengurangi minat investor terhadap aset berisiko, termasuk kripto.
Tekanan inflasi juga belum sepenuhnya mereda. Data Biro Statistik Tenaga Kerja AS (BLS) menunjukkan inflasi tahunan berdasarkan Consumer Price Index (CPI) mencapai 3,7% pada September 2026, naik dari 3,4% pada Agustus.
Kondisi ini membuat arah kebijakan moneter AS menjadi salah satu faktor utama yang perlu dicermati investor Bitcoin dalam jangka pendek.
Baca juga: Bitcoin Terancam Tutup Oktober di Zona Merah, 4 Sinyal Bullish Ini Masih Bikin Harapan
Likuidasi Posisi Long Tambah Tekanan Jual

Dilaporkan Crypto.news, selain faktor makroekonomi, pelemahan Bitcoin turut diperkuat oleh likuidasi di pasar derivatif kripto.
Data yang menjadi acuan artikel ini mencatat nilai likuidasi posisi Bitcoin meningkat 201,72% dalam 24 jam menjadi US$94,47 juta. Dari jumlah tersebut, posisi long atau taruhan terhadap kenaikan harga menyumbang US$51,96 juta.
Likuidasi terjadi ketika posisi perdagangan ditutup secara paksa karena tidak lagi memenuhi persyaratan margin. Dalam kondisi pasar yang melemah, penutupan posisi long dapat menambah tekanan jual dan mempercepat penurunan harga.
Fenomena ini menunjukkan bahwa penggunaan leverage dapat memperbesar volatilitas Bitcoin. Ketika harga turun melewati level teknikal penting, likuidasi beruntun berpotensi memperdalam koreksi dalam waktu singkat.
Dengan demikian, pelemahan Bitcoin tidak hanya berkaitan dengan sentimen terhadap kebijakan The Fed, tetapi juga kondisi posisi investor di pasar derivatif.
Analisis Harga Bitcoin: US$80.000 Jadi Level Kunci
Dari sisi teknikal, level US$80.000 menjadi area penting yang perlu diperhatikan dalam pergerakan Bitcoin hari ini.
Selama harga mampu bertahan di atas level tersebut, peluang pemulihan menuju area US$80.800 masih terbuka. Level tersebut berada di sekitar indikator Exponential Moving Average (EMA) 50 hari yang menjadi salah satu acuan untuk menilai momentum harga.
Namun, Bitcoin masih perlu merebut kembali area resistance yang lebih tinggi untuk memperbaiki prospek teknikal jangka pendek. Kegagalan menembus resistance dapat membuat harga bergerak dalam rentang terbatas dengan kecenderungan melemah.
Sebaliknya, apabila Bitcoin menembus ke bawah US$80.000 dan tekanan jual berlanjut, level US$79.000 menjadi area berikutnya yang perlu dicermati. Penurunan lebih dalam berpotensi membawa harga mendekati US$77.000.
Level-level tersebut merupakan skenario teknikal, bukan kepastian arah harga. Pergerakan aktual tetap bergantung pada volume perdagangan, kondisi likuiditas, serta perkembangan sentimen makroekonomi.
Apa yang Perlu Dicermati Investor Bitcoin?

Dalam beberapa hari ke depan, investor perlu mencermati perkembangan ekspektasi suku bunga AS, data inflasi, dan kondisi pasar derivatif. Perubahan ekspektasi terhadap kebijakan The Fed dapat memengaruhi minat investor terhadap aset berisiko.
Selain itu, pemilihan paruh waktu AS pada 3 November 2026 berpotensi menjadi perhatian pasar, terutama terkait ekspektasi kebijakan ekonomi dan regulasi aset digital. Meski demikian, dampaknya terhadap Bitcoin masih bergantung pada hasil politik dan bagaimana investor menafsirkannya.
Secara keseluruhan, prospek Bitcoin dalam jangka pendek cenderung berhati-hati dengan risiko penurunan yang masih terbuka. Bertahannya harga di atas US$80.000 dapat membuka peluang pemulihan terbatas, sedangkan penembusan support tersebut berpotensi memperbesar tekanan jual.
Investor perlu memperhatikan perkembangan kebijakan moneter AS dan level teknikal utama sebelum menarik kesimpulan mengenai arah pergerakan Bitcoin berikutnya.
Bagi investor yang ingin memantau pergerakan dan trading Bitcoin, maupun aset kripto lainnya secarareal-time, aplikasi FLOQ menyediakan data harga, grafik, serta berbagai aset digital yang dapat dipantau kapan saja. Selain itu, kamu juga dapat belajar lebih dalam mengenai aset kripto lainnya melalui FLOQ Academy agar dapat mengambil keputusan investasi yang lebih bijak.
Download aplikasi FLOQ di Play Store atau App Store. FLOQ merupakan aplikasi aset digital yang telah berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Dapatkan informasi pasar, edukasi crypto, serta akses trading aset digital dalam satu aplikasi.
Baca juga: Prediksi Harga Bitcoin Hari Ini: The Fed Jadi Kunci, US$82.500 Target Berikutnya



