Bitcoin (BTC) kembali mencuri perhatian pasar setelah menembus level US$81.000. Harga BTC naik sekitar 4,10% dalam 24 jam ke US$80.912,23, mengungguli penguatan pasar kripto secara keseluruhan.
Kenaikan Bitcoin terjadi di tengah perubahan ekspektasi pasar terhadap kebijakan suku bunga The Fed, sekaligus munculnya laporan bahwa Presiden Amerika Serikat Donald Trump tengah mempertimbangkan untuk mengakhiri perang dengan Iran.
Pergerakan tersebut menunjukkan bahwa Bitcoin kembali sangat sensitif terhadap sentimen makroekonomi. Korelasi BTC dengan indeks S&P 500 tercatat mencapai 97%, sementara korelasinya dengan emas berada di level 86%.
Artinya, pergerakan Bitcoin saat ini tidak hanya dipengaruhi faktor internal pasar kripto, tetapi juga perkembangan ekonomi global dan geopolitik.
Bitcoin Tembus US$81.000 di Tengah Isu Perang Iran Berakhir

Dilaporkan BeInCrypto, Bitcoin mulai menguat setelah muncul laporan mengenai kemungkinan berakhirnya konflik AS-Iran yang telah berlangsung selama beberapa bulan.
Menurut laporan yang dikutip dari The Wall Street Journal, terdapat pembicaraan privat mengenai konflik tersebut. Lingkaran dalam Trump dilaporkan mendorong presiden untuk secara resmi menyatakan perang Iran berakhir, salah satunya karena kekhawatiran terhadap dampak konflik terhadap pemilu sela AS pada November.
Trump sendiri sebelumnya menyatakan bahwa konflik tersebut tidak akan berlangsung lama.
Sentimen ini menjadi katalis bagi Bitcoin karena pasar mulai mengantisipasi berkurangnya risiko geopolitik. Namun, pasar energi memberikan sinyal yang berbeda.
Harga minyak Brent justru naik mendekati US$98 per barel dan mencapai level tertinggi dalam sekitar enam minggu. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pasar minyak belum sepenuhnya mempercayai bahwa ketegangan di Timur Tengah akan segera berakhir.
BREAKING: President Trump is having private discussions with senior aides about potentially declaring the Iran War over, per WSJ.
— The Kobeissi Letter (@KobeissiLetter) September 3, 2026
Aides are reportedly advising President Trump that an escalation of the war beyond recent strikes could cost Republicans the midterm elections.
Aktivitas di Selat Hormuz juga masih terbatas. Sebanyak enam kapal komoditas dilaporkan melewati jalur tersebut pada Rabu, jauh di bawah rata-rata 10 hari yang berada di sekitar 13 kapal.
Kondisi ini membuat reli Bitcoin masih menghadapi risiko pembalikan apabila konflik kembali meningkat.
The Fed Beri Angin Segar untuk Bitcoin
Selain faktor geopolitik, perubahan ekspektasi kebijakan The Fed menjadi katalis lain bagi Bitcoin.
Gubernur The Fed, Christopher Waller memberikan sinyal bahwa dirinya cenderung mendukung keputusan mempertahankan suku bunga pada pertemuan September apabila data inflasi berikutnya menunjukkan perlambatan.
Waller mencatat bahwa inflasi inti tiga bulan melambat menjadi 3,05% hingga Juli, dibandingkan 4,76% pada Februari.

Perubahan ekspektasi tersebut langsung tercermin dalam pasar. Berdasarkan CME FedWatch, probabilitas kenaikan suku bunga pada September turun menjadi 50,2%, dari 63,2% sehari sebelumnya.
Penurunan ekspektasi kenaikan suku bunga memberikan ruang bagi aset berisiko seperti Bitcoin untuk menguat. Suku bunga yang lebih rendah atau kebijakan moneter yang lebih longgar biasanya meningkatkan daya tarik aset berisiko karena biaya modal menjadi lebih rendah.
Namun, Waller tetap memberikan peringatan bahwa apabila data inflasi kembali memanas, dirinya dapat mendukung kebijakan moneter yang lebih ketat.
Analisa Bitcoin Hari Ini: Apakah BTC Bisa Bertahan di Atas US$80.000?
Dari sisi pergerakan harga, Bitcoin saat ini berhasil merebut kembali area US$81.000 setelah sebelumnya jatuh hingga US$76.963.
Kenaikan lebih dari 4% dalam 24 jam menunjukkan momentum bullish kembali menguat. Namun, level US$80.000 menjadi area penting yang perlu dipertahankan Bitcoin untuk menjaga momentum tersebut.

Jika BTC mampu bertahan di atas US$80.000 dan melanjutkan kenaikan, pasar berpotensi melihat pengujian level resistance berikutnya. Sebaliknya, kegagalan mempertahankan level tersebut dapat membuka ruang bagi Bitcoin untuk kembali menguji area US$76.963.
Risiko terbesar saat ini berasal dari dua faktor.
Pertama, eskalasi kembali konflik AS-Iran yang dapat meningkatkan tekanan terhadap aset berisiko. Kedua, data inflasi AS yang lebih panas dari perkiraan dapat kembali meningkatkan ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed.
Meskipun Bitcoin berhasil menembus US$81.000, reli kali ini masih sangat bergantung pada perkembangan geopolitik dan kebijakan moneter AS.
Bagi investor yang ingin memantau pergerakan Bitcoin, maupun aset kripto lainnya secara real-time, aplikasi FLOQ menyediakan data harga, grafik, serta berbagai aset digital yang dapat dipantau kapan saja. Selain itu, kamu juga dapat belajar lebih dalam mengenai Bitcoin dan aset kripto lainnya melalui FLOQ Academy agar dapat mengambil keputusan investasi yang lebih bijak.
Download aplikasi FLOQ di Play Store atau App Store. FLOQ merupakan aplikasi aset digital yang telah berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Dapatkan informasi pasar, edukasi crypto, serta akses trading aset digital dalam satu aplikasi.
Baca juga: Bitcoin Terjun di Bawah US$78.000, Perang AS-Iran dan Sikap Hawkish The Fed Jadi Biang Kerok
Disclaimer: Artikel ini hanya bersifat informatif dan bukan merupakan ajakan untuk membeli atau menjual aset kripto. Pergerakan aset kripto memiliki risiko tinggi dan setiap keputusan investasi merupakan tanggung jawab masing-masing investor.



