Harga Bitcoin (BTC) hari ini, Selasa (22/9) kembali mencuri perhatian pasar setelah melonjak lebih dari 4% dalam 24 jam dan menembus level US$85.000. Kenaikan ini terjadi di tengah lonjakan permintaan melalui ETF Bitcoin spot di Amerika Serikat serta aksi short squeeze yang memperkuat tekanan beli.
Berdasarkan data pasar yang menjadi acuan di CoinMarketCap, Bitcoin naik 4,46% dalam 24 jam ke level US$85.263,46. Kinerja tersebut mengungguli pasar kripto secara luas yang juga bergerak positif.
Pergerakan Bitcoin turut menunjukkan korelasi kuat dengan indeks Nasdaq-100 melalui ETF QQQ, yang berada di sekitar 84%. Kondisi ini menunjukkan bahwa pergerakan BTC saat ini masih erat dengan sentimen makro dan aset berisiko.
ETF Bitcoin Hampir US$1 Miliar Jadi Pendorong Utama
Salah satu katalis utama reli Bitcoin berasal dari derasnya arus dana ke ETF Bitcoin spot AS. Pada 21 September 2026, produk-produk tersebut mencatat arus masuk bersih sekitar US$999 juta dalam satu hari.
BlackRock melalui IBIT mencatat inflow sekitar US$381,4 juta, sementara ARK 21Shares Bitcoin ETF (ARKB) menerima sekitar US$289,1 juta. Fidelity FBTC juga mencatat tambahan dana sekitar US$238,8 juta.

Besarnya arus dana tersebut menjadi indikasi meningkatnya kembali permintaan terhadap Bitcoin melalui instrumen investasi yang digunakan investor institusional.
Reli tersebut juga terjadi setelah ETF Bitcoin spot sebelumnya mengalami periode arus dana yang berfluktuasi. Pada pekan 14–18 September, arus bersih mingguan ETF Bitcoin hanya sekitar US$6,21 juta setelah terjadi aksi jual pada pertengahan pekan.
Karena itu, lonjakan hampir US$1 miliar dalam satu sesi menjadi perubahan signifikan yang turut memperkuat sentimen pasar kripto.
Short Squeeze Tambah Bahan Bakar Kenaikan BTC
Selain permintaan dari ETF, kenaikan Bitcoin juga diperkuat oleh aksi short squeeze.
Ketika BTC bergerak naik melewati level US$82.000, posisi short atau taruhan terhadap penurunan harga mulai terlikuidasi. Data yang dikutip dalam materi pasar menunjukkan lebih dari US$454 juta posisi short Bitcoin terlikuidasi dalam 24 jam.
Data lain pada periode yang sama menunjukkan likuidasi posisi short Bitcoin bahkan mencapai lebih dari US$550 juta, menunjukkan besarnya tekanan terhadap trader yang sebelumnya mengambil posisi bearish.
Likuidasi posisi short secara otomatis dapat menghasilkan tekanan beli tambahan karena posisi yang rugi harus ditutup. Kondisi tersebut kemudian dapat mempercepat pergerakan harga ketika momentum kenaikan sudah terbentuk.
FOMO Bitcoin Capai Level Tertinggi Sejak 2024
Kenaikan harga juga diikuti peningkatan sentimen FOMO atau fear of missing out di kalangan pelaku pasar.
Data yang dikutip dari Santiment menunjukkan FOMO Bitcoin telah mencapai level yang terakhir terlihat pada Desember 2024. Pada periode tersebut, Bitcoin kemudian mencatat kenaikan signifikan hingga mencapai rekor harga baru pada periode berikutnya.
I was wrong
— Benjamin Cowen (@benjamincowen) September 21, 2026
Not going to make excuses
I deserve to be dunked on
Volume perdagangan Bitcoin juga disebut meningkat sekitar 39%, sementara open interest naik 9,38% dalam 24 jam menjadi sekitar US$61,33 miliar.
Namun, peningkatan FOMO dan leverage juga membuat pergerakan harga perlu dicermati. Semakin banyak posisi baru yang masuk ketika harga sudah naik tajam, semakin besar pula potensi volatilitas apabila momentum berbalik.
Bitcoin Berpeluang Uji US$87.000
Dari sisi teknikal, area US$85.000 menjadi level penting yang perlu dipertahankan Bitcoin.
Jika BTC mampu bertahan di atas US$85.000 dan arus dana ETF tetap positif, harga berpotensi kembali menguji area resistance US$87.000–US$87.364. Bitcoin sendiri telah bergerak di atas US$86.000 pada Senin, 21 September, dan mencapai level tertinggi sekitar US$86.500 dalam perdagangan tersebut.

Sebaliknya, apabila tekanan jual kembali muncul dan Bitcoin kehilangan level US$84.115, momentum kenaikan berpotensi melemah. Level tersebut merupakan area 50% Fibonacci retracement dari pergerakan harga sebelumnya.
Penurunan di bawah US$84.115 dapat membuka ruang koreksi menuju sekitar US$83.349. Sementara itu, skenario yang lebih dalam dari sumber analisis lain menempatkan area US$82.000–US$84.000 sebagai zona yang perlu diperhatikan apabila BTC gagal mempertahankan momentum di atas US$86.000.
Apa yang Perlu Diperhatikan Investor?
Rally Bitcoin kali ini didukung oleh kombinasi arus dana ETF yang besar, short squeeze, meningkatnya volume perdagangan, serta membaiknya sentimen terhadap aset berisiko.
Namun, keberlanjutan rally akan sangat bergantung pada apakah arus dana institusional tersebut dapat bertahan dalam beberapa sesi perdagangan berikutnya. Jika inflow ETF kembali melemah, sementara leverage dan FOMO tetap tinggi, volatilitas Bitcoin berpotensi meningkat.

Dengan demikian, US$85.000 menjadi level penting dalam jangka pendek, sementara area US$87.000–US$87.364 menjadi resistance yang perlu diperhatikan. Di sisi lain, US$84.115 menjadi level support teknikal utama yang dapat menjadi indikator apakah momentum kenaikan masih bertahan atau mulai kehilangan tenaga.
Pergerakan Bitcoin tetap memiliki risiko tinggi. Investor perlu memperhatikan kondisi pasar, arus dana ETF, volume perdagangan, open interest, serta level support dan resistance sebelum mengambil keputusan investasi.
Bagi investor yang ingin memantau pergerakan dan trading Bitcoin, maupun aset kripto lainnya secarareal-time, aplikasi FLOQ menyediakan data harga, grafik, serta berbagai aset digital yang dapat dipantau kapan saja. Selain itu, kamu juga dapat belajar lebih dalam mengenai aset kripto lainnya melalui FLOQ Academy agar dapat mengambil keputusan investasi yang lebih bijak.
Download aplikasi FLOQ di Play Store atau App Store. FLOQ merupakan aplikasi aset digital yang telah berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Dapatkan informasi pasar, edukasi crypto, serta akses trading aset digital dalam satu aplikasi.
Baca juga: Analisa Harga PONS Hari Ini (21/9): Naik 4%, Mampukah Tembus US$0,65?





