Harga Bitcoin (BTC) hari ini, Senin (14/9) kembali menjadi perhatian pasar menjelang 15 September 2026. Selain menanti arah kebijakan moneter Federal Reserve, investor juga mencermati agenda pemungutan suara di Senat Amerika Serikat yang dapat menentukan langkah berikutnya dari CLARITY Act.
Bitcoin diperdagangkan di sekitar level US$77.351 pada 12 September 2026. Pergerakan BTC masih cenderung terbatas karena pelaku pasar mempertimbangkan ketidakpastian regulasi aset kripto serta keputusan suku bunga The Fed.
Di sisi lain, Ethereum (ETH) berada di sekitar US$2.531, sedangkan XRP diperdagangkan di kisaran US$1,37.
15 September Jadi Hari Penting untuk Bitcoin
Dilaporkan Coingape, Senat AS dijadwalkan melakukan voting prosedural pada 15 September 2026 terkait CLARITY Act. Voting tersebut bukan merupakan persetujuan final terhadap undang-undang, tetapi akan menentukan apakah pembahasan mengenai regulasi pasar aset digital tersebut dapat dilanjutkan.
Untuk melewati tahap ini, diperlukan setidaknya 60 suara di Senat. Partai Republik diperkirakan membutuhkan dukungan dari sekitar enam senator Demokrat.
Draf terbaru CLARITY Act memuat 114 amendemen dari Demokrat. Namun, hingga saat ini belum ada senator Demokrat yang secara terbuka menyatakan dukungan terhadap langkah prosedural tersebut.
White House Crypto Adviser: Legislative Window for Clarity Act Is Closing, Key Procedural Vote Set for September 15
— Wu Blockchain (@WuBlockchain) September 12, 2026
According to Forbes, Patrick Witt, executive director of the White House Digital Asset Advisory Council, and U.S. Treasury Secretary Scott Bessent have separately… pic.twitter.com/sGzKitQq9f
Patrick Witt, Executive Director White House Digital Asset Advisory Council, mengatakan sejumlah kekhawatiran dari pihak Demokrat telah dibahas dan perbedaan yang masih tersisa dapat diselesaikan melalui amendemen setelah proses pembahasan dimulai.
Menteri Keuangan AS Scott Bessent juga mendorong senator dari kedua partai untuk mendukung langkah prosedural tersebut.
Salah satu isu yang masih menjadi perdebatan adalah ketentuan etika. Meski demikian, CEO Coinbase, Brian Armstrong sebelumnya menyebut persoalan penting bagi perusahaannya telah diselesaikan.
Jika proses CLARITY Act berlanjut, ketidakpastian mengenai klasifikasi token, bursa kripto, layanan kustodian, hingga partisipasi investor institusional berpotensi berkurang.
Sebaliknya, jika voting gagal, regulator seperti Securities and Exchange Commission (SEC) dan Commodity Futures Trading Commission (CFTC) berpotensi mengambil langkah regulasi masing-masing tanpa adanya kerangka hukum komprehensif.
BTC Harus Tembus US$78.000
Dari sisi teknikal, level US$78.000 menjadi area penting yang perlu diperhatikan investor Bitcoin.
BTC sebelumnya sempat menyentuh level intraday US$77.934, tetapi belum mampu mempertahankan pergerakan di atas US$78.000. Area permintaan berada di sekitar US$76.952.

Jika Bitcoin mampu menembus dan mempertahankan harga di atas US$78.000, peluang pergerakan menuju US$80.000kembali terbuka.
Level US$80.000 juga menjadi area psikologis yang berpotensi memicu aksi ambil untung dari sebagian investor.
Sebaliknya, apabila BTC kehilangan level US$76.900, tekanan jual berpotensi meningkat dan harga dapat menguji support berikutnya di sekitar US$75.000.
Dengan demikian, rentang US$75.000–US$80.000 menjadi area penting untuk memantau arah Bitcoin dalam jangka pendek.
FOMC Jadi Katalis yang Tak Kalah Penting
Selain voting CLARITY Act, perhatian pasar juga tertuju pada pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) yang berlangsung pada 15–16 September 2026.
Keputusan The Fed berpotensi memberikan dampak lebih besar terhadap Bitcoin karena arah suku bunga AS berkaitan erat dengan kondisi likuiditas dan minat investor terhadap aset berisiko.
Suku bunga yang lebih tinggi atau sinyal kebijakan moneter yang hawkish dapat memperkuat dolar AS dan memberikan tekanan terhadap Bitcoin serta aset berisiko lainnya.
Sebaliknya, kebijakan yang lebih dovish dapat memberikan ruang bagi peningkatan permintaan terhadap aset kripto.
Karena itu, meskipun voting CLARITY Act dapat memicu volatilitas jangka pendek, arah kebijakan The Fed pada 16 September berpotensi menjadi katalis utama bagi pergerakan BTC berikutnya.
Bitcoin ETF Masih Catat Arus Keluar
Tekanan terhadap Bitcoin juga terlihat dari arus dana ETF.
Menurut data SoSoValue, ETF Bitcoin spot AS mencatat arus keluar bersih US$13,29 juta pada 11 September 2026. Angka tersebut memperpanjang tren arus keluar menjadi empat hari berturut-turut.
Morgan Stanley MSBT menjadi salah satu produk Bitcoin ETF yang mencatat arus masuk, dengan net inflow sekitar US$3,76 juta.

Kondisi tersebut berbeda dengan ETF Ethereum. Produk ETF Ethereum spot justru mencatat arus masuk US$216 jutapada periode yang sama.
BlackRock ETHA menyumbang sekitar US$149 juta atau sebagian besar dari total arus masuk Ethereum ETF.
Perbedaan arus dana tersebut menunjukkan adanya potensi rotasi atau realokasi modal institusional dari produk Bitcoin menuju Ethereum.
Bagi Bitcoin, kombinasi arus masuk ETF yang kembali positif dan breakout di atas US$78.000 dapat memperkuat peluang BTC untuk menguji US$80.000.
Namun, selama BTC belum mampu menembus resistance tersebut dan ETF masih mencatat arus keluar, investor perlu mewaspadai risiko tekanan jual serta volatilitas tinggi menjelang keputusan The Fed.
Bagi investor yang ingin memantau pergerakan dan trading Bitcoin, maupun aset kripto lainnya secarareal-time, aplikasi FLOQ menyediakan data harga, grafik, serta berbagai aset digital yang dapat dipantau kapan saja. Selain itu, kamu juga dapat belajar lebih dalam mengenai BTC dan aset kripto lainnya melalui FLOQ Academy agar dapat mengambil keputusan investasi yang lebih bijak.
Download aplikasi FLOQ di Play Store atau App Store. FLOQ merupakan aplikasi aset digital yang telah berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Dapatkan informasi pasar, edukasi crypto, serta akses trading aset digital dalam satu aplikasi.
Baca juga: RLUSD Incar Transaksi Rp200 Ribu Triliun, Ripple Bidik Perusahaan untuk Dorong Stablecoin






