
Blockchain Tribalism
Apa Itu Blockchain Tribalism?
Sahabat Floq, di dunia crypto yang dinamis dan penuh inovasi, seharusnya semangat kolaborasi menjadi kunci pertumbuhan ekosistem. Namun, ada satu fenomena sosial yang sering muncul dalam komunitas blockchain: Blockchain Tribalism.
Blockchain Tribalism adalah kecenderungan komunitas pengguna, investor, atau pengembang untuk menunjukkan loyalitas yang berlebihan terhadap satu jaringan blockchain tertentu—seperti Bitcoin, Ethereum, Solana, Cardano, atau lainnya—dan secara aktif meremehkan, menolak, bahkan menyerang jaringan pesaingnya.
Fenomena ini tidak hanya menciptakan polarisasi di antara komunitas, tetapi juga bisa menghambat kolaborasi lintas protokol dan memperlambat kemajuan teknologi blockchain secara keseluruhan.
Mengapa Blockchain Tribalism Terjadi?
1. Ikatan Emosional terhadap Proyek
Banyak Sahabat Floq yang masuk ke dunia crypto karena menemukan visi atau filosofi unik dari satu proyek—seperti narasi kebebasan finansial dari Bitcoin atau janji masa depan smart contract dari Ethereum. Ikatan ini bisa berubah menjadi fanatisme.
2. Investasi Finansial yang Personal
Ketika seseorang telah mengalokasikan dana ke satu aset crypto, akan timbul bias psikologis untuk membenarkan keputusan tersebut. Ini dikenal sebagai confirmation bias dan dapat memperkuat tribalism.
3. Komunikasi Sosial dan Algoritma Media
Platform seperti X (Twitter), Reddit, dan Telegram memperkuat echo chamber. Komunitas blockchain tertentu seringkali hanya berkumpul dalam kanal yang memperkuat pandangan mereka, menciptakan ruang yang tertutup dari pandangan alternatif.
Dampak Negatif dari Blockchain Tribalism
- Menghambat Kolaborasi Antar Jaringan
Alih-alih bekerja sama, proyek yang potensial menjadi saling bersaing dengan cara yang tidak sehat. Inovasi lintas rantai menjadi sulit karena adanya ketidakpercayaan antar komunitas.
- Informasi Menyesatkan dan FUD
Tribalism mendorong penyebaran informasi yang bias atau salah mengenai jaringan lain. Ini menciptakan FUD (Fear, Uncertainty, Doubt) yang merusak reputasi proyek secara tidak adil.
- Memperlambat Adopsi Massal
Pengguna baru yang melihat permusuhan di antara komunitas mungkin enggan terlibat lebih dalam. Padahal, inklusivitas dan interoperabilitas adalah kunci adopsi Web3 ke masyarakat luas.
Studi Kasus: Manifestasi Tribalism di Dunia Nyata
a. Bitcoin Maximalist vs Ethereum Supporters
Kelompok Bitcoin Maximalists percaya bahwa hanya Bitcoin yang sah sebagai mata uang digital, dan menganggap semua altcoin sebagai tidak relevan. Sebaliknya, pendukung Ethereum menilai bahwa kemampuan smart contract adalah masa depan dunia kripto.
b. Perang Narratif di Media Sosial
Ketika blockchain baru muncul (misalnya Solana, Avalanche, atau Aptos), banyak akun media sosial dari komunitas lain langsung menyerang aspek teknis atau insiden masa lalunya tanpa memberi ruang bagi analisis objektif.
Cara Mengatasi Blockchain Tribalism
1. Mendorong Literasi Web3 yang Netral
Proyek edukasi seperti Floq punya peran penting dalam menyajikan informasi yang netral, berimbang, dan berbasis data. Kamu sebagai pembelajar juga bisa memulai dari sana.
2. Mengapresiasi Inovasi Lintas Ekosistem
Setiap blockchain hadir dengan kekuatan dan kelemahannya. Misalnya:
- Bitcoin kuat di store of value
- Ethereum unggul dalam smart contract
- Solana fokus pada skalabilitas tinggi
- Semua itu adalah bagian dari evolusi yang saling melengkapi, bukan saling meniadakan.
3. Membangun Produk Cross-Chain
Dengan memanfaatkan teknologi seperti blockchain bridges, interoperable smart contract, dan multi-chain wallet, komunitas bisa membangun aplikasi yang inklusif dan mendukung kolaborasi.
Waspadai Fanatisme yang Menghambat Masa Depan Web3
Fenomena Blockchain Tribalism adalah pengingat bahwa loyalitas tanpa nalar bisa menjadi hambatan, bukan kekuatan. Dunia crypto dan Web3 justru dirancang untuk bersifat terbuka, inklusif, dan saling terhubung.
Sahabat Floq, masa depan blockchain tidak akan ditentukan oleh siapa yang menang atau kalah dalam adu fanatisme, melainkan oleh siapa yang mau bekerja sama, berbagi inovasi, dan menciptakan solusi nyata. Saatnya keluar dari lingkaran tribal dan mulai membangun ekosistem yang saling mendukung.
Bagikan melalui:

Kosakata Selanjutnya
Blockchain Trilemma
Konsep bahwa blockchain sulit untuk secara bersamaan mengoptimalkan tiga aspek utama: desentralisasi, keamanan, dan skalabilitas. Proyek biasanya hanya bisa maksimal di dua dari tiga aspek tersebut.
Blockweave
Struktur data yang digunakan oleh Arweave untuk menyimpan data secara permanen dan terdesentralisasi dengan mekanisme berbagi beban antar pengguna. Berbeda dari blockchain linear karena mengacu pada blok-blok sebelumnya secara acak.
Blue Chip NFTs
Non-Fungible Token (NFT) yang dianggap memiliki nilai tinggi, reputasi kuat, dan stabilitas pasar jangka panjang, mirip dengan saham blue chip. Contohnya termasuk koleksi seperti CryptoPunks atau Bored Ape Yacht Club.
Bollinger Band
Indikator teknikal yang menunjukan volatilitas pasar dengan tiga garis: moving average, batas atas, dan batas bawah. Digunakan untuk mengidentifikasi momen beli atau jual berdasarkan pergerakan harga.
Bonding Curve
Model matematika yang menentukan harga token berdasarkan permintaan dan suplai menggunakan fungsi kurva. Digunakan dalam proyek Decentralized Finance (DeFi) dan Decentralized Autonomous Organization (DAO) untuk mengatur distribusi dan valuasi token.


