Cari

Klik huruf yang tersedia untuk mengetahui daftar glossary

Pattern 1

Basket of Goods

Kenapa Harga Kopi Naik Terus dan Apa Hubungannya dengan Kripto?

Pernah nggak sih kamu merasa harga hampir semua hal makin mahal? Dulu, mungkin uang Rp50.000 masih cukup buat beli makan, ngopi, isi bensin sedikit, bahkan masih ada kembalian. Sekarang? Baru masuk minimarket sebentar saja, rasanya uang langsung menghilang tanpa jejak.

Yang bikin bingung, kadang penghasilan memang naik, tapi entah kenapa kondisi dompet terasa tetap sama. Bahkan buat sebagian orang, justru terasa makin berat. Kalau kamu pernah merasakan hal itu, kamu nggak sendirian.

Fenomena ini sebenarnya berkaitan dengan satu konsep ekonomi yang sering dibahas para ekonom, bank sentral, investor, sampai pelaku kripto, yaitu basket of goods.

Namanya memang terdengar serius. Tapi tenang, konsepnya jauh lebih sederhana daripada yang kamu bayangkan. Bahkan setelah memahami konsep ini, kamu bakal lebih mudah mengerti kenapa inflasi terjadi, kenapa nilai uang bisa berubah, dan kenapa banyak orang tertarik pada aset seperti Bitcoin sebagai penyimpan nilai. Yuk, kita bahas.

Sebenarnya Apa Itu Basket of Goods?

Bayangkan kamu diminta membuat daftar kebutuhan hidup selama satu bulan. Kamu mungkin akan memasukkan:

  • Beras
  • Telur
  • Minyak goreng
  • Paket internet
  • Listrik
  • Bensin
  • Ongkos transportasi
  • Obat-obatan
  • Langganan streaming
  • Kopi favorit

Nah, kumpulan kebutuhan itu kurang lebih adalah gambaran dari basket of goods atau keranjang barang. Secara sederhana, basket of goods adalah sekumpulan barang dan jasa yang dianggap mewakili kebutuhan rata-rata masyarakat dalam kehidupan sehari-hari. Keranjang ini digunakan untuk melihat apakah biaya hidup masyarakat naik, turun, atau relatif stabil dari waktu ke waktu.

Kalau harga barang-barang dalam keranjang tersebut naik secara keseluruhan, berarti biaya hidup ikut naik. Dari sinilah angka inflasi biasanya dihitung. Jadi sebenarnya basket of goods adalah cara untuk menjawab pertanyaan sederhana: "Dengan uang yang sama, apakah kamu masih bisa membeli barang yang sama seperti tahun lalu?"

Kenapa Basket of Goods Penting Banget?

Banyak orang fokus pada jumlah uang yang mereka miliki. Padahal yang lebih penting bukan jumlah uangnya, melainkan apa yang bisa dibeli oleh uang tersebut. Misalnya kamu punya Rp10 juta hari ini. Kalau lima tahun lagi kamu masih punya Rp10 juta, apakah itu berarti kondisi keuanganmu tetap sama? Belum tentu.

Kalau harga kebutuhan hidup sudah naik jauh, maka nilai Rp10 juta tersebut sebenarnya sudah berkurang. Di dunia psikologi keuangan ada istilah yang disebut money illusion. Ini adalah kondisi ketika seseorang terlalu fokus pada angka nominal dan lupa melihat daya beli sebenarnya.

Contohnya begini. Tahun lalu gajimu Rp8 juta. Tahun ini naik menjadi Rp8,5 juta. Kedengarannya menyenangkan, kan? Tapi kalau biaya hidup ternyata naik 10%, maka secara nyata kemampuan belanjamu justru turun. Kamu menerima uang lebih banyak, tetapi bisa membeli lebih sedikit. Nah, basket of goods membantu kita melihat kondisi tersebut secara lebih objektif.

Basket of Goods adalah "Keranjang Belanja" Negara

Cara paling gampang memahami basket of goods adalah menganggapnya sebagai keranjang belanja versi nasional. Lembaga statistik akan mengumpulkan berbagai kebutuhan yang umum digunakan masyarakat. Biasanya meliputi beberapa kategori utama.

Makanan dan Minuman

Ini biasanya menjadi komponen terbesar karena semua orang perlu makan. Contohnya:

  • Beras
  • Daging
  • Telur
  • Susu
  • Kopi
  • Makanan siap saji

Transportasi

Misalnya:

  • Bensin
  • Tiket kereta
  • Ongkos bus
  • Servis kendaraan

Perumahan

Seperti:

  • Sewa rumah
  • Listrik
  • Air
  • Perawatan rumah

Kesehatan

Misalnya:

  • Obat-obatan
  • Biaya dokter
  • Asuransi kesehatan

Komunikasi

Di era digital, kebutuhan ini makin penting.

Contohnya:

  • Paket data
  • WiFi
  • Pulsa

Hiburan

Karena hidup bukan cuma soal kerja.

Misalnya:

  • Bioskop
  • Streaming film
  • Gym
  • Aktivitas rekreasi

Menariknya, isi keranjang ini bisa berubah seiring waktu. Dua puluh tahun lalu mungkin koran cetak menjadi kebutuhan umum. Sekarang? Banyak orang bahkan tidak pernah membeli koran lagi. Sebaliknya, internet yang dulu dianggap kebutuhan tambahan kini justru menjadi kebutuhan utama. Karena itu basket of goods selalu diperbarui agar tetap sesuai dengan kebiasaan masyarakat saat ini.

Cara Kerja Inflasi dengan Contoh yang Simpel

Sekarang bayangkan ada satu basket yang berisi semua kebutuhan tadi. Tahun 2024, total biaya untuk membeli seluruh isi keranjang adalah: Rp1.000.000. Lalu setahun kemudian, harga barang-barang yang sama naik menjadi: Rp1.070.000. Artinya kamu membutuhkan uang lebih banyak untuk membeli barang yang sama. Selisih kenaikan tersebut menunjukkan adanya inflasi sebesar 7%.

Sederhananya: Tahun lalu butuh Rp1 juta. Tahun ini butuh Rp1,07 juta. Padahal isi keranjangnya sama. Inilah alasan kenapa banyak orang merasa uang mereka semakin "mengecil" walaupun nominalnya tidak berubah.

Masalah Sebenarnya Bukan Uangnya, Tapi Daya Belinya

Banyak orang menganggap tujuan keuangan adalah mengumpulkan uang sebanyak mungkin. Padahal yang sebenarnya penting adalah menjaga daya beli. Bayangkan kamu punya uang Rp100 juta. Kalau harga semua barang naik dua kali lipat dalam beberapa tahun ke depan, maka nilai Rp100 juta tersebut secara praktis hanya terasa seperti Rp50 juta hari ini.

Nominalnya sama. Kemampuan belanjanya berbeda. Karena itu investor sering fokus pada satu pertanyaan penting: "Apakah aset yang saya miliki mampu mempertahankan daya beli saya?" Dan di sinilah pembahasan mulai nyambung ke dunia kripto.

Hubungan Basket of Goods dengan Kripto

Sekilas mungkin basket of goods terdengar seperti konsep ekonomi lama yang tidak ada hubungannya dengan blockchain. Padahal kenyataannya justru sebaliknya. Konsep ini menjadi salah satu dasar untuk memahami kenapa aset kripto tertentu dianggap menarik.

Bitcoin dan Narasi Pelindung Inflasi

Salah satu alasan orang membeli Bitcoin adalah karena mereka percaya aset ini dapat melindungi nilai kekayaan dari inflasi. Logikanya sederhana. Uang fiat bisa terus bertambah karena dicetak oleh bank sentral. Sementara jumlah Bitcoin dibatasi maksimal 21 juta koin.

Karena pasokannya terbatas, banyak investor percaya Bitcoin berpotensi mempertahankan nilainya dalam jangka panjang. Tapi ada satu hal yang sering terlupakan. Inflasi yang ingin "dilawan" oleh Bitcoin tetap diukur menggunakan indikator ekonomi seperti CPI dan basket of goods. Jadi memahami basket of goods membantu kamu memahami alasan di balik narasi Bitcoin sebagai penyimpan nilai.

Stablecoin dan Daya Beli

Sebagian besar stablecoin saat ini dipatok terhadap mata uang tertentu, biasanya dolar AS. Masalahnya, nilai dolar sendiri juga bisa tergerus inflasi. Karena itu muncul berbagai eksperimen yang mencoba menciptakan stablecoin berbasis daya beli. Tujuannya bukan sekadar mempertahankan angka 1 dolar, tetapi mempertahankan kemampuan membeli barang dan jasa dalam kehidupan nyata. Konsep seperti ini banyak menggunakan data inflasi yang berasal dari basket of goods.

DAO dan Treasury Komunitas

Dalam proyek DAO, biasanya ada dana komunitas yang digunakan untuk operasional atau insentif anggota. Masalahnya, kebutuhan hidup anggota di berbagai negara tentu berbeda-beda. Biaya hidup di Jakarta berbeda dengan New York. Biaya hidup di Bandung berbeda dengan Singapura. Data basket of goods dapat membantu komunitas menentukan kompensasi yang lebih adil berdasarkan kondisi ekonomi masing-masing wilayah.

Kenapa Investor Kripto Tetap Perlu Peduli dengan Ekonomi Tradisional?

Kadang ada anggapan bahwa kripto hidup di dunia yang terpisah dari ekonomi global. Padahal kenyataannya tidak begitu. Ketika data inflasi naik, pasar kripto bisa bereaksi. Ketika bank sentral menaikkan suku bunga, pasar kripto juga bisa terdampak. Ketika biaya hidup meningkat, perilaku investor ikut berubah. Artinya, meskipun kamu aktif di dunia blockchain, memahami konsep dasar ekonomi tetap penting. Karena pada akhirnya, uang fiat, kripto, saham, emas, dan aset lainnya tetap berhubungan dengan satu hal yang sama: daya beli manusia.

Kelebihan Basket of Goods

Ada alasan kenapa konsep ini sudah digunakan selama puluhan tahun. Beberapa kelebihannya antara lain:

  • Mudah dipahami.
  • Menggambarkan kondisi ekonomi nyata.
  • Menjadi dasar perhitungan inflasi.
  • Membantu pemerintah mengambil kebijakan ekonomi.
  • Membantu masyarakat memahami perubahan biaya hidup.

Tapi Basket of Goods Juga Punya Keterbatasan

Meski berguna, konsep ini bukan alat yang sempurna. Karena setiap orang memiliki gaya hidup yang berbeda. Misalnya:

  • Mahasiswa punya pola konsumsi berbeda dengan pekerja kantoran.
  • Keluarga dengan anak punya kebutuhan berbeda dengan lajang.
  • Masyarakat perkotaan berbeda dengan masyarakat pedesaan.

Karena itu angka inflasi resmi kadang terasa berbeda dengan kondisi yang kamu rasakan sendiri. Mungkin pemerintah mengatakan inflasi 4%, tetapi pengeluaran bulananmu naik 10%. Hal itu bisa terjadi karena pola konsumsi pribadimu berbeda dari rata-rata masyarakat yang digunakan dalam basket tersebut.

Jangan Hanya Lihat Jumlah Uang, Lihat Juga Nilainya

Pada akhirnya, basket of goods mengajarkan satu pelajaran penting tentang keuangan. Jangan hanya fokus pada jumlah uang yang kamu miliki. Fokuslah pada apa yang bisa dibeli oleh uang tersebut. Karena tujuan keuangan sebenarnya bukan sekadar mengumpulkan angka yang lebih besar di rekening atau dompet kripto.

Tujuannya adalah menjaga dan meningkatkan kualitas hidup melalui daya beli yang tetap kuat dari waktu ke waktu. Baik kamu menabung, berinvestasi saham, membeli emas, atau menyimpan Bitcoin, pertanyaan yang paling penting tetap sama:

"Apakah aset ini membantu saya mempertahankan daya beli di masa depan?"

Kalau kamu mulai melihat keuangan dari sudut pandang itu, kamu tidak hanya akan lebih paham tentang inflasi, tetapi juga lebih bijak dalam mengambil keputusan finansial, termasuk di dunia kripto.

 

Pelajari istilah kripto lainnya:

 

Disclaimer: Seluruh informasi yang disampaikan disusun oleh mitra industri dengan tujuan memberikan edukasi kepada pembaca. Kami menyarankan Anda untuk melakukan riset secara mandiri dan mempertimbangkan dengan matang sebelum melakukan transaksi.

Bagikan melalui:

Pattern 1Pattern 1Pattern 1Pattern 1Pattern 1
Blur 2

Belajar, Investasi, dan Tumbuh Bersama Kami

Jadilah bagian dari FLOQ. Mulai perjalanan investasimu dengan platform terpercaya dari hari pertama.

Google PlayApp Store
Blur 2Blur 2Device