AML dan KYC: Dua Pilar Regulasi dalam Dunia Aset Digital

Tips & Trick

20 Feb 2026

4 menit

Ditulis oleh: Nabilla Amanda

Pattern 1
Article

Dalam dunia aset digital yang semakin kompleks dan terus mengalami pertumbuhan pesat, keberadaan regulasi menjadi hal yang tidak terhindarkan. Regulasi AML dan KYC kini dianggap sebagai dua pilar utama dari infrastruktur hukum yang mengatur operasional berbagai platform kripto dan penyedia layanan keuangan berbasis digital. Sahabat Floq, memahami konsep ini secara menyeluruh tidak hanya membantu mengenali peran regulator, tetapi juga memberikan pemahaman yang lebih baik tentang bagaimana sebuah ekosistem kripto dapat berjalan secara aman, transparan, dan dapat dipercaya dalam jangka panjang.

Apa Itu Regulasi AML dan KYC dalam Industri Kripto

Regulasi AML dan KYC merujuk pada dua kerangka hukum yang berbeda namun saling berkaitan erat. AML merupakan singkatan dari Anti-Money Laundering, atau dalam bahasa Indonesia dikenal sebagai upaya pencegahan terhadap praktik pencucian uang yang kerap kali memanfaatkan celah teknologi keuangan. Di sisi lain, KYC atau Know Your Customer adalah proses identifikasi dan verifikasi identitas pengguna oleh institusi keuangan, termasuk platform aset digital seperti layanan jual beli aset kripto dan dompet digital.

Dalam sektor keuangan tradisional seperti perbankan, regulasi ini sudah lama diterapkan dan telah menjadi standar internasional. Namun, penerapan AML dan KYC dalam dunia aset digital menghadapi tantangan tersendiri karena karakteristik kripto yang cenderung anonim, terdesentralisasi, dan lintas yurisdiksi. Oleh karena itu, tujuan utama dari penerapan regulasi ini di sektor kripto adalah untuk mencegah penyalahgunaan teknologi blockchain oleh pihak-pihak tidak bertanggung jawab, termasuk pelaku tindak kejahatan keuangan seperti pendanaan terorisme, perdagangan ilegal, dan kejahatan lintas negara lainnya.

Pentingnya Penerapan AML dan KYC dalam Ekosistem Kripto

Perkembangan pesat aset kripto dalam beberapa tahun terakhir membuka banyak peluang, namun juga menciptakan celah bagi aktivitas yang tidak sah. Di sinilah peran regulasi AML dan KYC menjadi sangat penting dan tidak dapat diabaikan. Proses KYC bertujuan untuk memastikan bahwa setiap platform mengenali secara jelas siapa saja yang menggunakan layanan mereka. Informasi yang dikumpulkan meliputi nama lengkap, tanggal lahir, alamat tempat tinggal, dan dokumen identitas resmi seperti paspor atau KTP.

Dengan adanya proses verifikasi yang terstruktur, apabila suatu saat terjadi transaksi mencurigakan atau pelanggaran hukum, pihak berwenang akan lebih mudah melacak dan menindak pelakunya. Sementara itu, regulasi AML bertindak sebagai sistem pemantauan transaksi secara menyeluruh dan berkelanjutan. Teknologi pendukung seperti machine learning dan blockchain analytics kini digunakan untuk mengenali pola transaksi yang tidak biasa, misalnya transfer aset dalam jumlah besar yang terjadi secara mendadak dan berpindah ke berbagai dompet yang sulit dilacak.

Lembaga pengawas dan regulator mendorong penyedia layanan kripto untuk terus memperbarui sistem AML mereka guna mengantisipasi metode baru yang digunakan oleh pelaku kejahatan digital. Tanpa upaya ini, industri aset digital berisiko kehilangan kredibilitas dan kepercayaan publik, yang pada akhirnya dapat memperlambat pertumbuhan inovasi keuangan berbasis blockchain.

Bagaimana Regulasi AML dan KYC Diterapkan oleh Platform Jual Beli Kripto?

Saat ini hampir seluruh platform jual beli aset kripto terkemuka di dunia telah menerapkan proses KYC secara ketat dan terstandarisasi termasuk exchange lokal seperti FLOQ. Pengguna baru yang ingin mendaftar diwajibkan untuk mengunggah dokumen identitas resmi dan foto wajah secara langsung (selfie). Verifikasi ini bukanlah sekadar prosedur administratif, melainkan merupakan bagian dari upaya kolektif untuk mematuhi regulasi hukum internasional yang berlaku di berbagai negara.

Di sisi lain, penerapan sistem AML dilakukan dengan memantau aktivitas transaksi pengguna dalam platform secara real-time. Jika sistem mendeteksi adanya aktivitas mencurigakan, seperti transfer dalam jumlah tidak wajar atau interaksi dengan wallet yang terafiliasi dengan kegiatan ilegal, maka platform memiliki wewenang untuk membekukan sementara akun tersebut hingga investigasi selesai dilakukan.

Prosedur ini membantu mencegah kerugian lebih lanjut dan menjaga stabilitas operasional.

Meskipun sebagian pengguna mungkin merasa proses ini terlalu merepotkan atau menghambat kenyamanan transaksi, namun perlu disadari bahwa langkah-langkah ini bertujuan untuk menciptakan lingkungan yang lebih aman dan bertanggung jawab, baik bagi pengguna individu maupun bagi industri secara keseluruhan.

Peran Regulator Global dalam Standarisasi AML dan KYC

Di tingkat global, lembaga seperti Financial Action Task Force (FATF) memegang peranan penting dalam menetapkan standar internasional untuk regulasi AML dan KYC. FATF secara aktif memberikan pedoman dan rekomendasi kepada negara anggota terkait cara terbaik untuk menangani risiko keuangan digital. Salah satu inisiatif terkenal dari FATF adalah penerapan Travel Rule, yaitu peraturan yang mengharuskan penyedia layanan aset virtual untuk membagikan informasi identitas pengguna ketika terjadi transfer aset antar platform, khususnya dalam jumlah tertentu.

Selain FATF, beberapa regulator nasional juga memberikan tekanan agar perusahaan kripto mengikuti standar AML dan KYC yang ketat. Misalnya, Securities and Exchange Commission (SEC) di Amerika Serikat dan Financial Conduct Authority (FCA) di Inggris memiliki regulasi yang mewajibkan kepatuhan pada prinsip anti pencucian uang. Di Indonesia sendiri, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) juga aktif mengawasi aktivitas pelaku industri aset digital dan memberikan peringatan bila ditemukan pelanggaran terhadap aturan yang berlaku.

Upaya harmonisasi regulasi antarnegara ini menunjukkan bahwa implementasi AML dan KYC bukan hanya soal kepatuhan lokal, melainkan juga bagian dari kerangka kerja internasional untuk menjaga sistem keuangan global dari risiko penyalahgunaan teknologi kripto.

Tantangan Penerapan Regulasi AML dan KYC di Dunia Blockchain

Meski penerapan AML dan KYC semakin lazim di platform tersentralisasi, masih terdapat tantangan besar dalam menerapkannya pada ekosistem Decentralized Finance (DeFi) dan wallet non-kustodial. Platform berbasis DAO (Decentralized Autonomous Organizations) dibangun dengan prinsip desentralisasi dan privasi sebagai fondasi utama, sehingga tidak memiliki mekanisme identifikasi pengguna seperti yang dimiliki oleh platform pertukaran yang tersentralisasi.

Kondisi ini menimbulkan tantangan tersendiri bagi regulator yang ingin menegakkan aturan di ruang yang tidak memiliki otoritas pusat. Beberapa negara bahkan mulai mempertimbangkan kebijakan untuk mewajibkan KYC pada smart contract tertentu atau melarang penggunaan layanan yang tidak patuh terhadap aturan AML dan KYC. Namun di sisi lain, terdapat pula kekhawatiran dari komunitas pengguna dan pengembang kripto bahwa penerapan regulasi secara ketat dapat mengancam kebebasan dan privasi yang menjadi daya tarik utama dari teknologi blockchain.

Dilema ini mencerminkan perlunya pendekatan regulasi yang lebih fleksibel dan adaptif, agar tidak menghambat inovasi sekaligus tetap menjaga integritas sistem keuangan digital global.

Masa Depan Regulasi AML dan KYC dalam Aset Digital

Melihat ke depan, regulasi AML dan KYC diperkirakan akan terus diperkuat seiring dengan meningkatnya keterlibatan lembaga keuangan besar dan institusi global dalam sektor aset digital. Peran bank, manajer aset, dan institusi keuangan konvensional menuntut adanya keselarasan antara aturan yang berlaku di sektor tradisional dengan lanskap teknologi yang terus berevolusi.

Namun perlu diingat bahwa keberhasilan regulasi tidak hanya ditentukan oleh ketatnya aturan, melainkan juga oleh partisipasi aktif dari berbagai pihak, mulai dari regulator, pengembang, pelaku industri, hingga komunitas pengguna. Kolaborasi antara sektor publik dan swasta menjadi landasan penting dalam membangun ekosistem kripto yang tidak hanya aman dan transparan, tetapi juga inklusif dan berkelanjutan untuk semua.

Disclaimer: Seluruh informasi yang disampaikan disusun oleh mitra industri dengan tujuan memberikan edukasi kepada pembaca. Kami menyarankan Anda untuk melakukan riset secara mandiri dan mempertimbangkan dengan matang sebelum melakukan transaksi.

Loading...
Blur 2

Belajar, Investasi, dan Tumbuh Bersama Kami

Jadilah bagian dari FLOQ. Mulai perjalanan investasimu dengan platform terpercaya dari hari pertama.

Google PlayApp Store
Blur 2Blur 2Device