Harga Ethereum (ETH) kembali menjadi sorotan setelah reli tajam dalam beberapa hari terakhir. Fundstrat co-founder, Tom Lee menilai kenaikan tersebut bukan sekadar rebound jangka pendek, melainkan berpotensi menjadi awal dari pergerakan yang lebih besar jika sejumlah katalis utama terus berkembang.
Dalam analisisnya, Lee menyebut harga Ethereum telah melonjak dari sekitar US$1.900 menjadi hampir US$2.600 hanya dalam hitungan hari. Pada periode yang sama, kapitalisasi pasar kripto secara keseluruhan bertambah sekitar US$500 miliar.
Lonjakan tersebut juga memicu salah satu gelombang likuidasi posisi short terbesar di pasar kripto. Trader yang sebelumnya bertaruh terhadap penurunan harga terpaksa menutup posisi ketika ETH bergerak berlawanan dengan ekspektasi mereka.
Lee menggambarkan kondisi tersebut sebagai sebuah “course correction”. Menurutnya, harga aset kripto sebelumnya belum sepenuhnya mencerminkan perbaikan fundamental yang terjadi di industri.
Ethereum Diuntungkan Tren Tokenisasi
Dilaporkan Coinpedia, salah satu faktor utama yang menjadi perhatian Lee adalah semakin besarnya minat institusi keuangan terhadap tokenisasi.
Bank dan perusahaan finansial mulai mengeksplorasi penggunaan blockchain untuk membawa aset tradisional ke dalam ekosistem digital. Ethereum menjadi salah satu jaringan yang berpotensi mendapatkan manfaat dari perkembangan tersebut karena memiliki infrastruktur smart contract yang luas.
LATEST: 📈 Tom Lee says Ethereum could "easily be over $10,000" by 2027-2028, telling Bankless that AI and Wall Street tokenization push prices higher. pic.twitter.com/kwOnOn1yhY
— CoinMarketCap (@CoinMarketCap) August 26, 2026
Selain tokenisasi, Lee melihat perkembangan artificial intelligence (AI) agents sebagai sumber permintaan baru terhadap Ethereum.
AI agents yang semakin mampu menjalankan berbagai tugas secara otomatis berpotensi membutuhkan kemampuan untuk melakukan pembayaran, mengelola dana hingga mengeksekusi transaksi. Infrastruktur smart contract Ethereum dapat digunakan untuk mengotomatisasi proses tersebut sekaligus mencatat aktivitas transaksi di blockchain.
Lee juga menilai Ethereum memiliki keunggulan dari sisi network effect. Jaringan tersebut telah memiliki basis developer, aplikasi, pengguna serta likuiditas yang besar.
Ia bahkan membandingkan posisi Ethereum dengan dolar AS yang semakin bernilai karena digunakan oleh semakin banyak pihak.
“Ethereum memiliki network effect yang sangat mirip dengan dolar. Dolar bernilai karena semua orang menggunakannya, dan Ethereum memiliki karakteristik serupa karena sudah ada begitu banyak likuiditas, developer, dan aplikasi yang dibangun di atasnya,” ujar Lee.
Tokenisasi Bisa Jadi Mesin Pertumbuhan Baru

Tren tokenisasi juga menjadi bagian penting dalam optimisme Lee terhadap Ethereum.
Tokenisasi memungkinkan aset maupun klaim finansial tradisional direpresentasikan di jaringan blockchain sehingga dapat ditransfer dan diperdagangkan secara digital.
Pasar tersebut berpotensi berkembang lebih jauh dari sekadar saham, obligasi dan aset kripto. Semakin banyak jenis aset keuangan yang masuk ke blockchain, semakin besar pula kebutuhan terhadap infrastruktur yang mendukung aktivitas tersebut.
Pandangan ini sejalan dengan pernyataan CEO Robinhood, Vlad Tenev, yang sebelumnya menyebut perkembangan aset tokenisasi berpotensi menciptakan “tokenization super cycle”.
Empat Katalis yang Bisa Dorong Ethereum
Lee mengidentifikasi setidaknya empat faktor yang berpotensi menopang Ethereum dan pasar kripto hingga akhir tahun.
Pertama, regulasi kripto Amerika Serikat. Perkembangan CLARITY Act dinilai dapat memberikan kepastian regulasi yang lebih besar. Jika aturan tersebut berkembang, bank dan institusi keuangan dapat memiliki ruang yang lebih jelas untuk mengembangkan produk berbasis blockchain.
Meski demikian, Lee menilai industri kripto tetap dapat berkembang meskipun legislasi tersebut tidak segera disahkan.
Kedua, modal yang masih berada di luar pasar kripto. Sebagian investor masih belum kembali masuk ke aset digital setelah melewati periode penurunan sebelumnya. Jika reli kripto berlanjut, investor yang masih berada di sidelines berpotensi kembali mengalokasikan modal ke pasar.
Ketiga, investor Asia. Lee memperkirakan investor di sejumlah pasar Asia dapat meningkatkan eksposur terhadap aset kripto apabila kinerja digital asset terus mengungguli saham maupun investasi yang berkaitan dengan AI.
Keempat, meningkatnya permintaan institusional. Performa Ethereum yang kuat dapat menarik perhatian institusi, khususnya jika ETH mulai menunjukkan kemampuan mengungguli aset lain dalam portofolio mereka.
ETH Berpotensi Menuju US$6.000

Optimisme Lee tidak hanya berhenti pada fundamental Ethereum. Ia juga melihat peluang penguatan ETH terhadap Bitcoin.
Lee memperkirakan rasio ETH/BTC berpotensi kembali bergerak menuju level historis sekitar 0,08. Dalam skenario tertentu, pergerakan tersebut dapat membuka ruang bagi Ethereum untuk mencapai US$6.000.
Dengan asumsi harga Bitcoin mencapai US$150.000 dan rasio ETH/BTC berada di level 0,04, harga Ethereum secara matematis berada di sekitar US$6.000.
Target tersebut tentu masih bergantung pada sejumlah asumsi, termasuk pergerakan Bitcoin, arus modal institusional, perkembangan regulasi serta pertumbuhan ekosistem Ethereum.
Namun, jika empat katalis yang disebut Lee mulai terealisasi secara bersamaan, Ethereum berpotensi mendapatkan dorongan baru baik dari sisi fundamental maupun permintaan pasar.
Bagi investor yang ingin memantau pergerakan Ethereum, maupun aset kripto lainnya secara real-time, aplikasi FLOQ menyediakan data harga, grafik, serta berbagai aset digital yang dapat dipantau kapan saja. Selain itu, kamu juga dapat belajar lebih dalam mengenai ETH dan aset kripto lainnya melalui FLOQ Academy agar dapat mengambil keputusan investasi yang lebih bijak.
Download aplikasi FLOQ di Play Store atau App Store. FLOQ merupakan aplikasi aset digital yang telah berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Dapatkan informasi pasar, edukasi crypto, serta akses trading aset digital dalam satu aplikasi.
Baca juga: Bitcoin Anjlok Hari Ini (8/9) di Bawah US$79.000, Ada Sinyal Bahaya Jelang Data Inflasi AS




