Cari

Klik huruf yang tersedia untuk mengetahui daftar glossary

Pattern 1

Decentralized Governance

Apa Itu Decentralized Governance? Saat Pengguna Nggak Cuma Pakai Produk, Tapi Juga Ikut Menentukan Arahnya

Pernah nggak kamu membuka aplikasi favorit, lalu tiba-tiba semuanya berubah?

Tampilannya beda. Ada fitur yang hilang. Atau muncul aturan baru yang bikin kamu bertanya-tanya, "Kok jadi begini, ya?" Kalau sudah begitu, paling mentok kamu cuma bisa mengeluh di media sosial atau kasih ulasan di Play Store. Mau didengar, syukur. Nggak didengar pun ya mau bagaimana lagi.

Soalnya, keputusan tetap ada di tangan perusahaan. Sebagai pengguna, kita biasanya cuma menikmati, atau menerima, hasil akhirnya. Nah, di dunia blockchain, ceritanya agak berbeda. Bayangkan kalau setiap kali ada perubahan penting, komunitas justru diajak ikut berdiskusi.

Perlu nggak menambah fitur baru? Biaya transaksi sebaiknya tetap atau diturunkan? Dana komunitas paling baik dipakai untuk apa? Alih-alih diputuskan oleh segelintir orang, semua usulan itu dibahas bersama, lalu dipilih lewat voting. Kedengarannya lebih seru, kan?

Nah, konsep seperti inilah yang disebut Decentralized Governance.

Sederhananya, ini adalah sistem yang memberi komunitas kesempatan untuk ikut menentukan arah sebuah proyek blockchain.

Jadi, kalau kamu punya token dari proyek tersebut, peranmu nggak berhenti sebagai pengguna atau investor. Dalam banyak proyek, token itu juga bisa memberimu hak untuk ikut menyuarakan pendapat saat ada keputusan penting yang akan diambil.

Menariknya lagi, ini bukan sekadar konsep di atas kertas. Banyak proyek kripto besar sudah menerapkan sistem ini supaya pengembangan proyek nggak hanya bergantung pada tim inti, tetapi juga melibatkan komunitas yang tumbuh bersama mereka.

Karena di dunia Web3, komunitas bukan cuma diajak ikut menggunakan produk. Mereka juga diajak ikut membangun masa depannya.

Jadi, Decentralized Governance Itu Sebenarnya Apa?

Kalau dijelaskan pakai bahasa yang paling simpel, decentralized governance itu ibarat musyawarah versi blockchain.

Bedanya, musyawarah ini nggak dilakukan di balai warga. Nggak ada yang bawa notulen. Nggak ada juga yang angkat tangan sambil bilang, "Setuju, Pak!" Semuanya dilakukan secara online lewat teknologi blockchain. Biar lebih gampang dibayangin, coba bayangkan kamu dan lima teman patungan buka coffee shop. 

Semua orang ikut keluar modal.
Semua ikut kerja.
Semua berharap bisnisnya berkembang.

Nah, sekarang muncul satu pertanyaan. Kalau suatu hari kalian ingin mengganti menu, membeli mesin kopi baru, atau membuka cabang kedua, siapa yang berhak mengambil keputusan? Kalau cuma satu orang yang bebas menentukan semuanya, lama-lama pasti muncul rasa nggak adil.

"Lho, bukannya ini usaha kita bareng?"

Makanya, keputusan penting biasanya nggak langsung dijalankan begitu saja. Semua orang diajak berdiskusi dulu. Ada yang setuju. Ada yang nggak setuju. Ada juga yang kasih usulan lain. Setelah itu, barulah keputusan diambil berdasarkan hasil diskusi atau voting.

Nah, kurang lebih seperti itulah cara kerja decentralized governance. Bedanya, "usaha" tadi diganti menjadi proyek blockchain. Sedangkan "rapat" diganti menjadi proposal dan proses voting yang dilakukan secara digital.

Misalnya, tim pengembang ingin menambah fitur baru. Atau ada anggota komunitas yang mengusulkan perubahan biaya transaksi. Usulan tersebut nggak langsung dijalankan. Semua akan dipublikasikan terlebih dahulu supaya komunitas bisa membaca, berdiskusi, lalu memberikan suara.

Kalau proposal itu mendapat dukungan yang cukup sesuai aturan proyek, barulah keputusan tersebut dijalankan. Yang membuat sistem ini menarik adalah seluruh prosesnya bersifat terbuka. Kamu bisa melihat siapa yang mengajukan proposal.

Apa isi usulannya. Berapa banyak orang yang mendukung. Berapa yang menolak. Sampai hasil akhirnya. Jadi, keputusan nggak muncul tiba-tiba tanpa alasan. Semuanya bisa ditelusuri dan diverifikasi oleh siapa saja.

Di sinilah letak perbedaan besarnya dibanding sistem yang terpusat. Kalau di perusahaan biasa keputusan sering kali datang dari manajemen, di banyak proyek blockchain komunitas justru diajak ikut menentukan arah pengembangannya. Makanya, banyak orang menyebut governance sebagai salah satu fondasi penting di dunia Web3.

Karena di sini komunitas nggak cuma diposisikan sebagai pengguna. Mereka juga diberi ruang untuk ikut berpikir, berdiskusi, bahkan memengaruhi keputusan yang akan diambil.

Menariknya lagi, kondisi seperti ini biasanya membuat komunitas merasa lebih memiliki proyek tersebut. Dalam psikologi, ada istilah sense of ownership, yaitu kecenderungan seseorang untuk lebih peduli terhadap sesuatu ketika merasa ikut memiliki atau terlibat di dalamnya.

Itulah kenapa komunitas di banyak proyek blockchain sering terlihat aktif berdiskusi, memberikan masukan, bahkan mengkritik keputusan yang dianggap kurang tepat. Mereka merasa suaranya benar-benar punya arti.

Jadi, kalau selama ini kamu mengira token hanya berfungsi sebagai aset investasi atau sekadar diperjualbelikan, sebenarnya ada fungsi lain yang nggak kalah penting. Di beberapa proyek, token juga bisa menjadi "tiket suara" yang memberimu kesempatan untuk ikut menentukan masa depan ekosistem yang kamu dukung.

Karena di dunia Web3, menjadi pengguna bukan cuma soal memakai produknya. Kamu juga bisa ikut membangun arah perkembangannya.

Kenapa Kamu Perlu Memahami Decentralized Governance?

Jujur saja, banyak orang masuk ke dunia kripto karena satu alasan: mencari peluang cuan. Nggak ada yang salah dengan itu. Tapi kalau fokusmu cuma melihat grafik harga setiap hari, ada kemungkinan kamu melewatkan satu hal penting, yaitu bagaimana sebuah proyek sebenarnya dijalankan.

Coba bayangkan ada dua proyek kripto. Proyek pertama punya teknologi yang keren, tapi semua keputusan dibuat diam-diam oleh tim inti. Komunitas cuma bisa menerima apa pun yang diputuskan. Sementara proyek kedua punya komunitas yang aktif berdiskusi. Setiap perubahan penting dibuka ke publik, dibahas bersama, lalu diputuskan lewat voting.

Kalau kamu disuruh memilih, mana yang menurutmu lebih menjanjikan untuk berkembang dalam jangka panjang? Belum tentu jawabannya selalu proyek kedua. Tapi setidaknya, kamu bisa melihat kalau proyek tersebut punya proses yang lebih terbuka dan melibatkan komunitas.

Nah, di situlah pentingnya memahami decentralized governance. Governance bisa menjadi salah satu cara untuk "mengintip" kesehatan sebuah proyek, bukan dari sisi harga, tetapi dari cara mereka mengambil keputusan.

Saat kamu mulai melakukan riset, jangan cuma terpaku pada grafik atau kapitalisasi pasar. Coba luangkan waktu untuk melihat hal-hal seperti:

  • Apakah komunitasnya aktif berdiskusi?
  • Seberapa sering proposal baru diajukan?
  • Apakah voting benar-benar berjalan?
  • Apakah masukan dari komunitas benar-benar didengar?

Hal-hal seperti ini memang nggak selalu terlihat di grafik harga. Tapi justru sering menjadi fondasi yang membuat sebuah proyek bisa bertahan dalam jangka panjang. Karena pada akhirnya, proyek yang sehat bukan cuma soal teknologinya, tapi juga soal bagaimana orang-orang di baliknya mau bekerja sama membangun ekosistem.

Perkembangan Ekosistem Blockchain 

Salah satu hal yang membuat dunia blockchain terasa berbeda adalah cara sebuah proyek dikelola.

Kalau di internet yang kita kenal selama ini keputusan biasanya datang dari atas, di dunia Web3 komunitas justru diberi ruang untuk ikut terlibat. Memang, sistem ini belum sempurna. Masih ada tantangan seperti rendahnya partisipasi, dominasi pemegang token besar, atau proposal yang kadang terlalu teknis untuk dipahami pengguna baru.

Tapi justru di situlah menariknya. Ekosistem blockchain terus bereksperimen mencari cara agar pengambilan keputusan bisa menjadi lebih terbuka, lebih transparan, dan lebih adil bagi semua pihak.

Jadi, lain kali saat kamu menemukan sebuah proyek kripto, jangan cuma bertanya, "Potensi naiknya berapa persen?" Coba tambahkan beberapa pertanyaan lain.

"Siapa yang mengambil keputusan di proyek ini?"
"Apakah komunitasnya benar-benar dilibatkan?"
"Kalau ada perubahan besar, apakah pengguna punya kesempatan untuk ikut bersuara?"

Pertanyaan-pertanyaan sederhana seperti itu bisa membantumu melihat sebuah proyek dari sudut pandang yang berbeda. Karena di dunia Web3, token bukan selalu sekadar aset yang disimpan di dompet digital.

Di beberapa proyek, token juga bisa menjadi cara untuk ikut menyampaikan pendapat, berkontribusi, dan membantu menentukan arah perkembangan ekosistem. Dan mungkin, itulah salah satu hal yang membuat blockchain terasa berbeda dibanding dunia digital yang selama ini kita kenal.

 

Pelajari istilah kripto lainnya:

 

Disclaimer: Seluruh informasi yang disampaikan disusun oleh mitra industri dengan tujuan memberikan edukasi kepada pembaca. Kami menyarankan Anda untuk melakukan riset secara mandiri dan mempertimbangkan dengan matang sebelum melakukan transaksi.

Bagikan melalui:

Pattern 1Pattern 1Pattern 1Pattern 1Pattern 1
Blur 2

Belajar, Investasi, dan Tumbuh Bersama Kami

Jadilah bagian dari FLOQ. Mulai perjalanan investasimu dengan platform terpercaya dari hari pertama.

Google PlayApp Store
Blur 2Blur 2Device