Hi Sahabat Floq, apa kamu pernah dengar istilah buy and hold? Kalau kamu lagi cari pendekatan investasi jangka panjang yang simpel tapi tetap bisa menghasilkan potensi keuntungan besar dari pertumbuhan aset, strategi ini bisa jadi andalan yang solid. Strategi ini banyak dipakai oleh investor legendaris seperti Warren buffet karena efisiensinya dalam menumbuhkan kekayaan tanpa perlu trading aktif setiap hari. Tapi, walau kelihatannya simpel, beli sekarang, simpan lama, kamu tetap perlu tahu kapan waktu terbaik untuk entry agar hasilnya lebih optimal. Nah, di artikel ini, kita akan bahas tuntas cara kerja strategi ini, waktu terbaik untuk masuk pasar, dan tips biar kamu nggak asal beli lalu nyangkut di harga tinggi.
Key Takeaways
- Strategi Buy and Hold adalah pendekatan investasi jangka panjang yang berfokus pada menahan aset, mengabaikan fluktuasi harga jangka pendek, untuk meraih keuntungan dari pertumbuhan nilai aset.
- Keuntungan utama dari strategi ini adalah menghasilkan biaya transaksi lebih rendah, memanfaatkan efek compounding, dan membantu menurunkan risiko emosional karena tidak perlu analisis harian.
- Waktu terbaik untuk entry adalah saat pasar sedang koreksi atau melalui metode DCA (Dollar-Cost Averaging) untuk menyebarkan risiko.
- Investor harus memiliki mental kuat dan menetapkan tujuan jangka panjang, serta melakukan diversifikasi portfolio dan pilih aset dengan fundamental kuat.
- Risiko yang harus diwaspadai termasuk risiko pasar turun berkepanjangan, risiko fundamental aset berubah, kerugian saat bear market, dan likuiditas terbatas di altcoin.
Apa Itu Strategi Buy and Hold?
Strategi buy and hold adalah metode investasi di mana kamu membeli suatu aset keuangan (seperti saham, aset kripto, atau reksa dana indeks), lalu menahan aset tersebut dalam jangka panjang tanpa terlalu sering trading aktif jual beli. Strategi ini menekankan pada pertumbuhan nilai aset seiring waktu dan mengandalkan potensi apresiasi harga jangka panjang.
Tujuannya adalah supaya kamu bisa menikmati keuntungan dari pertumbuhan nilai aset seiring waktu, alias mengendarai tren jangka panjang sambil meminimalkan biaya transaksi lebih rendah dan risiko dari keputusan emosional impulsif. Sahabat Floq, pendekatan ini juga membantu kamu memanfaatkan efek compounding alias bunga berbunga yang bisa memberikan hasil signifikan dalam beberapa tahun ke depan.
Strategi ini cocok buat kamu yang:
- Gak punya waktu untuk mantengin market tiap hari karena kesibukan kerja atau bisnis lainnya (tidak perlu analisis harian)
- Gak suka drama cut loss dan panic selling yang sering terjadi saat market volatile (menurunkan risiko emosional)
- Percaya sama fundamental jangka panjang aset yang kamu pegang karena sudah melakukan riset mendalam
Dengan pendekatan ini, kamu gak terlalu peduli sama fluktuasi harga jangka pendek harian atau bahkan mingguan. Tapi... tetap, waktu masuk pasar alias timing itu penting, Sahabat Floq! Karena jika kamu salah waktu entry, bisa jadi kamu harus menunggu lama sebelum akhirnya cuan.
Kapan Waktu Terbaik untuk Entry Buy and Hold?
1. Saat Market Sedang Turun (Tapi Bukan Panik)
Sahabat Floq, waktu yang paling pas buat entry dalam strategi buy and hold adalah saat harga sedang diskon alias turun dari nilai puncaknya. Namun penting untuk dicatat, bukan berarti setiap kali pasar merah kamu langsung beli. Kamu harus melihat penyebab koreksi, apakah itu hanya reaksi sementara dari sentimen negatif atau memang ada perubahan fundamental?
Misalnya, waktu pandemi COVID-19 di tahun 2020, banyak saham dan aset kripto anjlok hingga 40–60%. Tapi investor yang berani masuk karena yakin dengan recovery jangka panjang dari ekonomi, sekarang justru panen cuan besar.
Tipsnya: pantau aset incaran kamu dan tunggu koreksi sehat, misalnya 15–30% dari harga puncak. Kamu juga bisa memanfaatkan data historis untuk mengukur level support yang kuat. Namun tetap pastikan bahwa aset tersebut punya fundamental kuat.
2. Ketika Ada Kepastian Fundamental Positif
Kalau kamu lihat ada berita positif tentang kinerja perusahaan, regulasi pemerintah yang mendukung, atau perkembangan teknologi yang signifikan, itu bisa jadi sinyal bagus buat entry jangka panjang. Sinyal ini menunjukkan bahwa ada dukungan riil dari sisi fundamental, bukan sekadar spekulasi pasar.
Contohnya, waktu Ethereum mengumumkan upgrade besar seperti The Merge, harga sempat melonjak karena investor yakin ini akan memperkuat ekosistem blockchain Ethereum ke depannya. Di sinilah kamu bisa memanfaatkan momen untuk entry sebelum hype besar terjadi.
3. Setelah Konsolidasi Panjang
Kalau grafik harga menunjukkan pergerakan sideways dalam waktu lama, itu sering kali jadi pertanda bahwa tekanan jual mulai habis dan pasar siap bergerak naik. Momentum ini biasanya terlihat dalam pola konsolidasi harga yang stabil dan volume perdagangan yang mulai naik.
Sahabat Floq, buy and hold investor yang berpengalaman sering masuk perlahan saat fase ini. Alasannya karena mereka percaya bahwa pasar sudah menemukan titik bawah yang kuat, dan potensi naik jauh lebih besar daripada potensi turun.
4. Dollar-Cost Averaging (DCA) Sebagai Entry Bertahap
Kalau kamu masih bingung kapan waktu terbaik untuk masuk, kamu bisa pakai strategi metode DCA (Dollar-Cost Averaging). Jadi, kamu beli aset secara rutin, baik mingguan atau bulanan, dengan jumlah tetap. Strategi ini akan menghindarkan kamu dari kesalahan masuk di puncak harga.
Metode DCA ini bisa bantu kamu tetap disiplin dalam berinvestasi, menyebar risiko harga beli, dan secara psikologis lebih nyaman. Cocok banget buat kamu yang gak mau ribet analisa chart tiap hari, tapi tetap mau cuan dalam jangka panjang dengan strategi aman.
Jenis Aset yang Cocok untuk Buy and Hold
1. Saham Blue Chip
Saham-saham seperti BBRI, UNVR, atau TLKM biasanya jadi langganan investor jangka panjang. Saham jenis ini disebut blue chip karena mewakili perusahaan besar yang mapan, punya reputasi kuat, konsisten membagikan dividen, dan relatif tahan terhadap krisis ekonomi.
Investasi di saham blue chip juga lebih tenang karena kinerjanya cenderung stabil. Jadi kamu bisa lebih percaya diri buat hold bertahun-tahun.
2. ETF atau Reksa Dana Indeks
Kalau kamu gak mau repot analisa satu-satu saham, kamu bisa pilih Exchange Traded Fund (ETF) atau reksa dana indeks. Instrumen ini berisi kumpulan saham atau aset yang mencerminkan indeks tertentu seperti S&P500. Jadi kamu dapat diversifikasi portfolio otomatis hanya dengan satu produk.
Ini sangat cocok untuk investor pemula yang ingin mengurangi risiko dan tetap mengikuti performa pasar.
3. Aset Kripto Fundamental Kuat
Bukan semua kripto layak di-hold ya, Sahabat Floq. Hanya kripto dengan proyek yang jelas, adopsi luas, dan tim developer aktif yang patut dilirik. Contohnya seperti Bitcoin, Ethereum (atau istilah populernya HODL), atau proyek seperti Solana, yang sudah teruji di berbagai siklus pasar.
Hindari kripto meme yang hanya FOMO (Fear Of Missing Out) saja. Pilih aset dengan fundamental kuat. Investasi jangka panjang butuh logika dan riset, bukan sekadar hype semata. Risiko proyek gagal dan likuiditas terbatas di altcoin harus selalu dipertimbangkan sebelum kamu memutuskan menahan aset ini. Untuk keamanan, terutama saat kamu menahan aset kripto dalam jangka waktu yang sangat lama, disarankan menyimpannya di cold wallet.
Kesalahan Umum dalam Buy and Hold (Dan Cara Menghindarinya)
1. Asal Pilih Aset tanpa Riset
Salah satu jebakan terbesar adalah ikut-ikutan beli karena tren atau rekomendasi media sosial, tanpa tahu kenapa kamu beli. Sahabat Floq, strategi buy and hold bukan excuse untuk asal simpan. Kamu harus tahu latar belakang, kinerja, dan potensi masa depan dari aset tersebut.
Solusinya: selalu lakukan riset mendalam. Untuk saham, cek laporan keuangan dan struktur manajemen. Untuk kripto, baca whitepaper, roadmap, dan komunitasnya.
2. Tidak Diversifikasi
Menaruh semua modal ke satu aset itu seperti bertaruh di satu kuda pacu. Meskipun kamu sangat yakin, tetap penting untuk diversifikasi portfolio. Idealnya, kamu bisa alokasikan misalnya 50% ke saham, 30% ke kripto, dan 20% ke emas atau reksa dana.
Dengan diversifikasi portfolio, kamu bisa mengurangi risiko signifikan saat satu aset mengalami penurunan drastis.
3. Panik Saat Market Turun
Strategi buy and hold bukan berarti kamu tahan terus walau situasi parah. Tapi jangan juga langsung panik dan jual rugi hanya karena harga turun. Ingat tujuan awal investasi kamu. Jual rugi saat terjadi kerugian saat bear market adalah kesalahan terbesar. Strategi ini membutuhkan mental kuat.
Tipsnya: buat jurnal investasi pribadi. Tulis alasan kamu beli, proyeksi jangka panjang, dan tetapkan tujuan jangka panjang. Ini akan membantu kamu tetap waras saat pasar sedang chaos dan terhindar dari keputusan emosional.
Risiko dan Keterbatasan Strategi Buy and Hold
Meskipun menguntungkan, strategi ini bukan tanpa risiko. Risiko pasar turun berkepanjangan (bear market) bisa membuat modal tertanam lama, meskipun kamu sudah pilih aset dengan fundamental kuat. Selain itu, strategi ini dapat menyebabkan tidak fleksibel terhadap peluang baru yang muncul di pasar karena fokus pada aset yang sudah dimiliki. Penting juga untuk diingat, selalu ada risiko fundamental aset berubah seiring waktu, yang mewajibkan investor untuk tetap melakukan evaluasi berkala.
Tips Buy and Hold Supaya Gak Nyangkut
- Rutin evaluasi aset kamu. Meski kamu hold, bukan berarti kamu tutup mata. Setiap kuartal, luangkan waktu untuk mengecek perkembangan perusahaan, update teknologi, atau kebijakan pemerintah terbaru yang bisa mempengaruhi nilai aset kamu.
- Gunakan alarm harga atau notifikasi. Banyak aplikasi investasi sekarang bisa kasih peringatan otomatis kalau harga naik/turun ke level tertentu, sehingga kamu tidak perlu melakukan analisis harian.
- Jangan terlalu sering cek harga. Ini penting banget, Sahabat Floq. Karena kebiasaan cek harga tiap jam justru bisa bikin kamu emosional dan membuat keputusan emosional. Fokuslah ke pertumbuhan jangka panjang, bukan fluktuasi harga jangka pendek.
Buy and Hold Bukan Pasif, Tapi Strategis
Sahabat Floq, strategi buy and hold itu bukan berarti kamu beli lalu tinggal tidur dan berharap jadi kaya. Tetap butuh rasa ingin tahu, sabar, dan konsistensi tinggi. Tapi kalau kamu tahu waktu yang tepat untuk entry (metode DCA) dan pilih aset dengan fundamental kuat yang punya potensi jangka panjang, hasilnya bisa luar biasa.
Ingat, yang sukses dalam investasi bukan yang paling cepat atau paling sibuk trading aktif... tapi yang paling sabar dan disiplin membangun portofolio berkualitas. Dengan menahan aset secara strategis, kamu berpeluang besar menikmati efek compounding dan potensi keuntungan besar dari pertumbuhan aset.
Selamat membangun masa depan keuangan kamu. Semoga pendekatan investasi jangka panjang ini bikin kamu makin cuan, makin tenang, dan makin percaya diri dalam berinvestasi. Jangan lupa, waktu dan kesabaran adalah senjata utama kamu.
Nah, biar strategi buy and hold kamu makin matang dan gampang dijalankan, pastikan kamu punya aplikasi yang bisa bantu pantau portofolio, kasih notifikasi harga, dan edukasi kamu terus-menerus soal market. Floq hadir buat bantu kamu jadi investor jangka panjang yang siap cuan dan tetap tenang di tengah fluktuasi pasar.
Mulai dari fitur chart yang user-friendly, sampai artikel edukatif yang selalu update, semua bisa kamu akses langsung dari genggaman. Gak perlu ribet, gak perlu bingung.
Yuk, download aplikasi Floq sekarang dan mulai bangun portofolio impianmu dengan strategi yang simpel tapi powerful!







