Market Outlook - 9 Maret 2026: Maret Dibuka dengan Volatilitas Tinggi, Bitcoin Konsolidasi Menjelang FOMC

Strategi

09 Mar 2026

4 menit

Ditulis oleh: Nabilla Amanda

Pattern 1
Article

Pada minggu pertama Maret 2026, pasar global kembali berada dalam fase yang sensitif terhadap berbagai katalis makro. Inflasi Amerika Serikat yang masih bertahan di atas target, meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah, serta sejumlah agenda ekonomi penting membuat bulan ini berpotensi menjadi periode volatilitas tinggi bagi berbagai kelas aset, termasuk kripto.

Setelah fase kapitulasi besar pada awal Februari, pasar kripto kini mulai memasuki tahap konsolidasi. Namun arah selanjutnya masih sangat bergantung pada perkembangan makro global dalam beberapa minggu ke depan.

Situasi Pasar Global Sepekan Terakhir

Salah satu faktor utama yang terus membayangi pasar adalah kondisi inflasi di Amerika Serikat. Core PCE saat ini masih berada di kisaran 2,6–3,0%, atau di atas target inflasi 2% milik The Federal Reserve. Data Producer Price Index (PPI) Januari yang dirilis pada akhir Februari juga tercatat lebih tinggi dari ekspektasi pasar, memperkuat narasi bahwa suku bunga kemungkinan akan bertahan tinggi lebih lama.

Ekspektasi pemangkasan suku bunga pada semester pertama 2026 pun mulai menurun. Jika tren inflasi tidak menunjukkan penurunan yang lebih konsisten, The Fed kemungkinan akan mempertahankan kebijakan moneter ketat lebih lama dari yang sebelumnya diantisipasi pasar.

Di luar faktor ekonomi, dinamika geopolitik juga kembali menjadi perhatian utama. Ketegangan meningkat setelah Amerika Serikat dan Israel meluncurkan operasi militer terhadap Iran yang dikenal sebagai Operation Epic Fury. Konflik ini memicu lonjakan harga minyak global sekitar 5–10%, didorong kekhawatiran gangguan pasokan di Selat Hormuz, jalur penting yang mengalirkan sekitar 20% pasokan minyak dunia.

Reaksi pasar global terjadi hampir seketika. Dow futures dilaporkan turun lebih dari 500 poin, sementara aset safe haven seperti emas dan US Treasury mengalami kenaikan permintaan. Dalam situasi seperti ini, sentimen pasar cenderung bergerak cepat antara mode risk-on dan risk-off, membuat volatilitas tetap tinggi di berbagai kelas aset.

Bitcoin Konsolidasi Pasca Kapitulasi Besar

Di pasar kripto, Bitcoin memasuki Maret dengan kondisi yang relatif lebih stabil dibandingkan beberapa minggu sebelumnya. Setelah sempat menyentuh 60.000 dolar AS pada 6 Februari 2026, yang dianggap sebagai capitulation terbesar sejak bear market 2022 dengan realized loss mencapai 3,2 miliar dolar AS, BTC telah berhasil rebound pada akhir Februari.

Pada 25 Februari 2026, harga BTC naik sekitar 6–8%, didorong oleh short squeeze serta kembalinya inflow pada ETF spot. Pergerakan ini sering kali menjadi sinyal bahwa tekanan jual ekstrem mulai mereda dan sebagian pelaku pasar mulai kembali melakukan akumulasi.

Beberapa institusi besar juga terlihat memanfaatkan fase ini. MicroStrategy, misalnya, menambah sekitar 2.486 BTC, sehingga total kepemilikan perusahaan tersebut kini melampaui 717 ribu BTC. Aktivitas seperti ini sering dipandang sebagai indikasi bahwa investor institusional masih memiliki keyakinan terhadap prospek jangka panjang Bitcoin.

Untuk saat ini, Bitcoin (BTC) bergerak dalam fase konsolidasi di kisaran 63.000 dolar AS hingga 70.000 dolar AS, sambil menunggu katalis makro yang lebih jelas.

Kalender Makroekonomi untuk Maret 2026

Selain faktor geopolitik dan inflasi, sejumlah agenda ekonomi juga berpotensi memicu volatilitas pasar dalam beberapa minggu ke depan.

Beberapa di antaranya termasuk data Non-Farm Payroll (6 Maret), yang sering menjadi indikator penting kondisi pasar tenaga kerja AS, serta rapat FOMC pada 18 Maret yang akan menentukan arah kebijakan suku bunga The Fed.

Di sisi lain, perkembangan regulasi juga menjadi perhatian setelah Korea Selatan dijadwalkan merilis rencana pembentukan Digital Asset Task Force pada 10 Maret, yang dapat memberikan sinyal baru terkait arah regulasi aset digital di Asia.

Menjelang akhir bulan, pertemuan bilateral antara Donald Trump dan Xi Jinping juga berpotensi menjadi faktor geopolitik yang memengaruhi sentimen pasar global.

Dampak ke Pasar Indonesia

Di Indonesia, pasar keuangan mulai menunjukkan stabilisasi setelah periode tekanan pada Februari. IHSG menutup bulan tersebut di level 8.235, setelah sempat mengalami penurunan tajam hingga 16% dalam dua hari akibat kekhawatiran bahwa Indonesia berpotensi diturunkan statusnya oleh MSCI dari Emerging Market menjadi Frontier Market.

Respons cepat dari regulator, termasuk OJK, BEI, dan KSEI, membantu menenangkan pasar. Salah satu langkah yang diumumkan adalah rencana penerapan minimum free float 15%, serta dukungan likuiditas melalui Danantara untuk menjaga stabilitas pasar modal.

Di sisi nilai tukar, rupiah sempat melemah hingga sekitar Rp16.800 per dolar AS sebelum kembali menguat menjelang akhir Februari. Inflasi domestik juga meningkat menjadi 3,55% secara tahunan, sementara core inflation tercatat 2,45%.

Dalam situasi ini, Bank Indonesia memilih mempertahankan BI Rate dengan pendekatan yang bersifat data-dependent, dengan fokus utama menjaga stabilitas rupiah di tengah tekanan eksternal.

Cara Menyikapi Market

Dalam lingkungan pasar yang penuh ketidakpastian seperti saat ini, pendekatan yang disiplin dan terstruktur menjadi semakin penting.

Investor Pemula

Bagi investor pemula, fase setelah capitulation sering kali menjadi periode yang menarik untuk mulai membangun posisi secara bertahap melalui strategi Dollar Cost Averaging (DCA) pada aset utama seperti Bitcoin (BTC) dan Ethereum (ETH). Namun investor tetap perlu berhati-hati menjelang FOMC 18 Maret, karena pergerakan harga dapat menjadi sangat volatil.

Trader

Bagi trader, fase konsolidasi saat ini membuka peluang swing trading dalam range yang relatif jelas. BTC saat ini bergerak di area 63.000–73.000 dolar AS, sementara ETH memiliki support kuat di sekitar 1.900–1.950 dolar AS dengan potensi kenaikan menuju area 2.200–2.400 dolar AS jika momentum pasar membaik.

Investor Jangka Panjang

Sementara itu, bagi investor jangka panjang, gambaran struktural pasar kripto masih menunjukkan tren yang positif. Akumulasi institusional yang berlanjut, kembalinya inflow ETF, serta berkembangnya narasi teknologi seperti AI menjadi faktor yang mendukung prospek jangka panjang aset digital.

Pendekatan portofolio yang seimbang tetap menjadi strategi yang banyak digunakan investor dalam kondisi seperti ini: mempertahankan eksposur utama pada BTC dan ETH, sambil menyisakan sebagian likuiditas untuk memanfaatkan peluang yang muncul dari volatilitas pasar.

Disclaimer: Seluruh informasi yang disampaikan disusun oleh mitra industri dengan tujuan memberikan edukasi kepada pembaca. Kami menyarankan Anda untuk melakukan riset secara mandiri dan mempertimbangkan dengan matang sebelum melakukan transaksi.

Loading...
Blur 2

Belajar, Investasi, dan Tumbuh Bersama Kami

Jadilah bagian dari FLOQ. Mulai perjalanan investasimu dengan platform terpercaya dari hari pertama.

Google PlayApp Store
Blur 2Blur 2Device