Market Outlook - 6 April 2026: Kebijakan Tarif Baru Picu Ketidakpastian Pasar

Strategi

05 Apr 2026

3 menit

Ditulis oleh: FLOQ Team

Pattern 1
Article

Memasuki awal April 2026, pasar global kembali menghadapi tekanan baru. Kali ini, pemicunya datang dari kebijakan perdagangan Amerika Serikat yang agresif, bersamaan dengan dinamika makro dan pergerakan institusi di pasar kripto.

Di satu sisi, risiko perang dagang kembali meningkat. Di sisi lain, justru terlihat sinyal penguatan struktural dari adopsi Bitcoin oleh institusi besar. Kombinasi ini menempatkan pasar, terutama pasar aset kripto di titik yang cukup krusial.

Tarif Baru Amerika Serikat & Titik Kritis Pasar Aset Kripto

Pada 2 April 2026, Donald Trump mengumumkan kebijakan tarif baru yang disebut sebagai “Liberation Day”. Tarif dasar sebesar 10% diberlakukan ke semua negara, ditambah tarif spesifik seperti China hingga 54%, Vietnam 46%, India 26%, dan Indonesia 32%.

Kebijakan ini meningkatkan risiko perang dagang global, terutama karena berpotensi memicu balasan dari negara lain dan mengganggu rantai pasok internasional.

Di tengah tekanan tersebut, pasar saham AS juga menunjukkan pelemahan. S&P 500 turun sekitar 7% sepanjang Q1 2026, menjadi kuartal terburuk sejak 2022. Bahkan, sektor teknologi mengalami koreksi lebih dalam, dengan ETF software turun sekitar 24%, mencerminkan adanya repricing struktural di tengah kondisi suku bunga tinggi dan risiko stagflasi.

Namun, secara historis, fase Q1 negatif tidak selalu berarti tren bearish berkepanjangan. Dalam banyak kasus, pasar justru mengalami pemulihan di kuartal berikutnya.

Menariknya, di tengah tekanan global tersebut, aktivitas institusi di pasar kripto justru semakin agresif. Beberapa langkah besar mencerminkan perubahan pendekatan terhadap Bitcoin, seperti MicroStrategy melakukan capital raise hingga 42 miliar dolar AS untuk akumulasi BTC, lalu GameStop mulai memonetisasi BTC melalui strategi opsi, serta Mastercard mengakuisisi perusahaan infrastruktur stablecoin senilai 1,8 miliar dolar AS.

Perkembangan ini menunjukkan bahwa Bitcoin tidak lagi hanya dipandang sebagai aset spekulatif, tetapi mulai digunakan sebagai bagian dari strategi keuangan yang lebih kompleks.

Di sisi harga, Bitcoin berada di kisaran 65.000–67.000 dolar AS dengan indikator sentimen menunjukkan fear ekstrem (8–10). Meski demikian, arus masuk ETF dan akumulasi ritel tetap berlanjut, pola yang secara historis sering muncul sebelum fase pemulihan.

Rebound IHSG, Namun Tekanan Masih Ada

Setelah periode Ramadan yang penuh tekanan, IHSG mulai rebound pasca-Lebaran, naik sekitar 1,01% ke 7.178 dan berlanjut ke 1,93% ke 7.184 di awal April. Hal ini menunjukkan bahwa pola musiman seasonal rebound masih terjadi, didukung oleh aliran dana domestik.

Namun, investor asing masih mencatatkan net sell sekitar Rp165,5 miliar, yang menandakan bahwa kepercayaan global terhadap pasar domestik belum sepenuhnya pulih.

Dari sisi teknikal, IHSG diperkirakan bergerak dalam fase konsolidasi dengan:

Resistance: 7.150–7.238
Support: 6.745–6.887

Risiko koreksi tetap terbuka, terutama jika dampak kebijakan tarif mulai terasa pada data ekonomi dalam beberapa bulan ke depan.

Terkait tarif global, posisi Indonesia relatif lebih baik. Meskipun tarif awal tercatat 32%, perjanjian bilateral sebelumnya telah menurunkannya menjadi sekitar 19% untuk sebagian besar ekspor. Ini memberikan keunggulan relatif dibanding beberapa negara ASEAN lain.

Namun, risiko tetap ada, terutama untuk sektor seperti tekstil, alas kaki, elektronik, dan furnitur. Selain itu, potensi masuknya barang dari negara dengan tarif tinggi ke pasar ASEAN juga bisa meningkatkan tekanan kompetisi domestik.

Apa Artinya Bagi Trader?

Kondisi pasar saat ini mencerminkan fase transisi—di mana tekanan makro dan peluang struktural muncul bersamaan.

Bagi Investor Pemula

Bagi investor pemula, fase seperti ini secara historis sering menjadi momen akumulasi. Strategi seperti Dollar Cost Averaging (DCA) pada aset utama seperti BTC dan ETH tetap relevan, selama dilakukan secara disiplin dan bertahap.

Bagi Trader

Untuk trader, level harga 65.000–67.000 dolar AS menjadi area support penting bagi Bitcoin. Selama harga bertahan di zona ini, pendekatan range trading masih dapat dipertimbangkan, namun dengan ukuran posisi yang lebih konservatif mengingat risiko makro yang masih tinggi.

Bagi Investor Jangka Panjang

Sementara itu, investor jangka panjang dapat melihat perkembangan adopsi institusional sebagai sinyal positif. Penggunaan Bitcoin yang semakin luas, tidak hanya sebagai aset simpanan tetapi juga sebagai instrumen produktif, memberikan dasar yang lebih kuat untuk pertumbuhan jangka panjang.

Namun, beberapa risiko tetap perlu diperhatikan, seperti potensi eskalasi perang dagang, arah kebijakan suku bunga global, serta faktor domestik seperti review MSCI yang dapat mempengaruhi arus modal.

Dalam kondisi seperti ini, pendekatan yang paling relevan bukanlah mencoba memprediksi arah pasar secara pasti, melainkan menjaga keseimbangan portofolio dan disiplin dalam eksekusi strategi.

Disclaimer: Seluruh informasi yang disampaikan disusun oleh mitra industri dengan tujuan memberikan edukasi kepada pembaca. Kami menyarankan Anda untuk melakukan riset secara mandiri dan mempertimbangkan dengan matang sebelum melakukan transaksi.

Loading...
Blur 2

Belajar, Investasi, dan Tumbuh Bersama Kami

Jadilah bagian dari FLOQ. Mulai perjalanan investasimu dengan platform terpercaya dari hari pertama.

Google PlayApp Store
Blur 2Blur 2Device