Market Outlook 26 Januari 2026: Antara Optimisme Struktural dan Kehati-hatian Pasar

Strategi

26 Jan 2026

6 menit

Ditulis oleh: Nabilla Amanda

Pattern 1
Article

Memasuki pekan keempat Januari 2026, pasar kripto bergerak dalam kondisi hati-hati namun terstruktur. Di tengah narasi global yang semakin konstruktif terhadap aset digital, khususnya pasca World Economic Forum 2026 yang diselenggarakan di Davos, Swiss, pergerakan harga jangka pendek masih menunjukkan sikap risk-off.

Pasar global saat ini dihadapkan pada kombinasi faktor geopolitik, kebijakan ekonomi, dan dinamika likuiditas. Kondisi ini mendorong investor untuk lebih selektif dalam menempatkan modal, dengan kecenderungan kembali ke aset lindung nilai seperti emas, sementara aset berisiko bergerak lebih terbatas.

Global Market Update

Davos 2026: Optimisme Struktural, Bukan Pemicu Harga Instan

Dalam rangkaian World Economic Forum (WEF) Davos pekan ini, Presiden Donald Trump kembali menegaskan ambisinya agar Amerika Serikat tetap menjadi “crypto capital of the world”. Ia menyoroti kemajuan regulasi, termasuk GENIUS Act yang ditandatangani pada Juli 2025 yang berperan mengatur stablecoin agar 100% didukung dolar Amerika Serikat atau U.S. Treasuries, dengan kewajiban audit bulanan serta penerapan standar AML yang ketat. Selain itu, Clarity Act yang ditargetkan rampung pada paruh pertama 2026 diharapkan memberikan kejelasan pemisahan antara aset sekuritas dan komoditas, terutama untuk kepastian operasional exchange dan ETF.

Dalam panel diskusi “Where Are We on Stablecoins?” dan “Tokenization Future?”, CEO Ripple Brad Garlinghouse menyampaikan pandangan optimistis terhadap kripto pada 2026, termasuk potensi terbentuknya level harga tertinggi baru. Ia juga memperkirakan nilai tokenisasi berbasis XRPL dapat meningkat dari sekitar 19 triliun dolar AS menjadi 33 triliun dolar AS. Pada kesempatan yang sama, stablecoin disebut telah mencatat volume transaksi yang melampaui gabungan Visa dan Mastercard. Bermuda pun mengumumkan langkahnya sebagai negara pertama yang menuju fully on-chain economy melalui kolaborasi dengan Circle dan Coinbase.

Meski demikian, narasi positif dari Davos belum sepenuhnya tercermin di pasar. Di tengah sikap pro-kripto dari Trump, Bitcoin dan aset kripto lain justru bergerak risk-off, sementara emas dan tokenized gold seperti PAXG mencatatkan level tertinggi baru. CEO BlackRock Larry Fink menegaskan bahwa tokenisasi berpotensi mengubah pasar modal secara fundamental, namun menekankan pentingnya kerangka regulasi yang jelas. Sejalan dengan itu, Brad Garlinghouse menilai fase crypto euphoria telah berlalu, dan pasar kini menuntut implementasi serta hasil nyata, bukan sekadar narasi.

Trump–Greenland: Tarif Dibatalkan, Risiko Belum Sepenuhnya Hilang

Setelah sempat mengancam penerapan tarif baru terhadap delapan negara Eropa terkait isu Greenland, Presiden Donald Trump membatalkan rencana tersebut pada 21 Januari. Keputusan ini diambil setelah tercapainya “framework of a future deal” dengan NATO terkait Greenland dan kawasan Arktik.

Langkah ini meredakan tensi dagang trans-Atlantik dalam jangka pendek dan mendorong reli di pasar saham AS dan Eropa, seiring tertahannya risiko perang dagang besar untuk sementara waktu.

Namun demikian, kesepakatan berbentuk framework tersebut justru menegaskan bahwa Greenland dan Arktik akan menjadi titik tensi geopolitik baru ke depan. Kawasan ini memiliki kepentingan strategis yang luas. Mulai dari jalur pelayaran global, pertahanan, hingga akses terhadap mineral strategis yang krusial bagi transisi energi dan perkembangan teknologi.

Bagi investor, perkembangan ini menjadi pengingat bahwa meski risiko jangka pendek mereda, ketidakpastian geopolitik struktural masih tetap relevan dan berpotensi memengaruhi sentimen pasar dalam jangka menengah hingga panjang.

Emas: Bank Sentral Terus Akumulasi, Proyeksi Harga Menguat

Data dari World Gold Council menunjukkan bahwa bank sentral global masih menjadi pembeli bersih emas menjelang tahun 2026. Pada November 2025, pembelian tercatat sekitar 45 ton, sementara secara tahunan mendekati 300 ton. Tren ini terutama didorong oleh negara-negara emerging markets yang terus meningkatkan porsi emas dalam cadangan devisa mereka.

Sejalan dengan tren tersebut, Goldman Sachs merevisi naik proyeksi harga emas 2026 ke kisaran 5.400 dolar AS per ounce. Proyeksi ini didukung oleh kombinasi permintaan bank sentral, inflow ETF emas, serta ekspektasi penurunan suku bunga riil. Setelah mencatat kenaikan harga lebih dari 60% sepanjang 2025, emas dinilai masih berada dalam fase yang sering disebut sebagai gold supercycle.

Bitcoin vs Emas: Performa dan Korelasi yang Kian Berubah

Sepanjang 2025, terjadi divergensi yang cukup tajam antara emas dan Bitcoin. Sejumlah riset mencatat emas menguat sekitar 55–65%, sementara Bitcoin justru melemah sekitar 6–7%. Perbedaan kinerja ini terjadi di tengah pengetatan likuiditas dolar dan pembelian emas oleh bank sentral yang melampaui 1.000 ton per tahun.

Dari sisi hubungan keduanya, data 30-day rolling correlation BTC–emas menunjukkan korelasi yang tidak stabil. Sepanjang 2025, korelasi cenderung rendah atau bahkan negatif, terutama ketika emas reli sementara Bitcoin bergerak lebih menyerupai aset risk-on. Namun memasuki awal 2026, korelasi jangka pendek mulai meningkat, seiring Bitcoin bergerak lebih seirama dengan emas saat sentimen pasar dipengaruhi oleh arah kebijakan The Fed dan meningkatnya ketegangan geopolitik.

Dampak Situasi Global di Pasar Domestik

Drama Tarif & Greenland: Salurannya ke Indonesia

Jika ancaman tarif terhadap Eropa benar-benar terealisasi, dampaknya ke Indonesia kemungkinan datang secara tidak langsung—melalui perlambatan ekonomi global, tekanan pada kinerja ekspor, serta potensi arus keluar modal dari pasar emerging markets.

Pembatalan ancaman tarif kali ini memberi ruang bernapas sementara dan membantu menjaga minat investor asing di kawasan Asia, termasuk Indonesia. Namun, karena isu Greenland dan Arktik masih berada dalam tahap negosiasi, risiko munculnya kejutan geopolitik baru tetap ada. Artinya, volatilitas global belum sepenuhnya mereda.

Emas sebagai “Pertahanan Negara”, Bitcoin sebagai “Pertahanan Individu”

Aksi berkelanjutan bank sentral dunia dalam menambah cadangan emas mengirimkan pesan yang cukup jelas: negara-negara ingin mengurangi ketergantungan tunggal pada dolar AS dan sistem keuangan Amerika, terutama di tengah meningkatnya penggunaan tarif dan sanksi sebagai instrumen geopolitik.

Bagi Indonesia, tren ini relevan dalam konteks jangka panjang—baik untuk diskusi mengenai diversifikasi cadangan devisa maupun peran emas sebagai penyangga ketika nilai tukar rupiah tertekan oleh faktor eksternal.

Di sisi lain, Bitcoin belum dan mungkin belum akan menjadi cadangan devisa resmi, namun posisinya berkembang sebagai sarana bagi individu dan institusi untuk mendiversifikasi risiko dari sistem moneter tradisional. Hal ini terlihat dari sensitivitas pasar terhadap arah kebijakan The Fed dan dinamika politik AS.

Korelasi Bitcoin–Emas: Implikasi bagi Investor Indonesia

Rendahnya dan tidak stabilnya korelasi antara Bitcoin dan emas menunjukkan bahwa keduanya tidak selalu bergerak searah. Investor tidak bisa mengasumsikan bahwa kenaikan emas otomatis diikuti Bitcoin, atau sebaliknya.

Hal ini wajar karena masing-masing merespons faktor yang berbeda, emas lebih dipengaruhi oleh suku bunga riil dan risiko sistemik global. Sedangkan Bitcoin lebih sensitif terhadap likuiditas, adopsi kripto, dan sentimen kebijakan

Bagi portofolio investor Indonesia, kondisi ini justru membuka peluang. Kombinasi emas dan Bitcoin berpotensi memberikan diversifikasi yang lebih baik dibanding hanya mengandalkan salah satu aset saja.

Hal yang Dapat Dilakukan di Situasi Pasar Saat Ini

Langkah untuk Pemula

Langkah awal bagi pemula adalah memastikan fondasi keuangan sudah kuat.
Prioritaskan dana darurat dan instrumen berisiko rendah seperti tabungan, deposito, atau reksa dana pasar uang. Setelah itu, emas dapat menjadi lapisan berikutnya sebagai aset lindung nilai yang telah teruji dan juga terus diakumulasi oleh bank sentral global.

Setelah fondasi terbentuk, alokasikan porsi kecil portofolio ke kripto dengan kapitalisasi besar seperti Bitcoin (BTC) dan Ethereum (ETH). Hindari langsung masuk ke altcoin spekulatif. Atau lakukan pendekatan Dollar Cost Averaging (DCA) untuk mengurangi risiko salah timing, terutama di tengah volatilitas yang dipicu oleh headline geopolitik seperti Trump–Greenland atau rilis data makro lainnya.

Pahami peran emas dan Bitcoin

Emas: relatif lebih stabil dan cocok bagi pemula yang ingin melindungi nilai aset dari inflasi dalam jangka panjang.
Bitcoin: lebih sesuai bagi pemula yang siap mempelajari volatilitas dan memahami bahwa harga dapat turun signifikan sebelum kembali naik. Bitcoin sebaiknya diposisikan sebagai high-risk, high-potential asset, bukan pengganti tabungan atau emas keluarga.

Kesalahan yang Sering Dilakukan Pemula

Pemula seringkali menganggap jika Bitcoin selalu aman di setiap krisis. Data 2025 menunjukkan bahwa saat emas menguat signifikan, Bitcoin justru sempat melemah. Ini menegaskan bahwa keduanya tidak selalu bereaksi sama. Menjadikan Bitcoin sebagai satu-satunya “safety net” berisiko tinggi.

Keputusan beli atau jual hanya karena membaca headline seperti “Trump batal tarif” atau “Greenland framework” tanpa mempertimbangkan horizon waktu dan profil risiko pribadi. Bagi pemula, fokus sebaiknya pada rencana jangka menengah (1–3 tahun) dengan DCA, bukan spekulasi harian.

Strategi bagi Trader di Tengah Drama Trump–Greenland & Emas Bullish

Berita geopolitik seperti pembatalan tarif Eropa atau perkembangan negosiasi Greenland seringkali memicu pergerakan cepat di saham global, emas, dan Bitcoin dalam beberapa jam awal. Contohnya, rebound Bitcoin dari kisaran 88,000 dolar AS ke 90,000 dolar AS setelah rilis pembatalan tarif.

Trader dapat memanfaatkan momentum breakout atau mean reversion, dengan catatan disiplin pada entry, stop loss, dan target, karena arah pasar bisa berbalik ketika detail lanjutan atau komentar tambahan muncul.

Trading pair yang relevan untuk diperhatikan

BTC/USDT
ETH/USDT
Token berbasis emas (jika tersedia), yang sensitif terhadap narasi akumulasi bank sentral dan revisi target harga emas.

Gunakan korelasi BTC–emas sebagai alat, bukan patokan mutlak

Ketika korelasi jangka pendek Bitcoin–emas meningkat, misalnya saat keduanya naik bersamaan akibat berita bank sentral atau The Fed, pasar umumnya sementara melihat Bitcoin sebagai pseudo safe haven.
Sebaliknya, saat korelasi melemah atau negatif, Bitcoin cenderung bergerak seperti aset risiko yang mengikuti saham teknologi dan likuiditas dolar. Strategi dan manajemen risiko perlu disesuaikan dengan konteks ini.

Kesalahan yang Sering Dilakukan Trader

Over-leverage saat rilis berita makro
Membuka posisi besar tepat sebelum pidato Trump, update Davos, atau laporan bank sentral, lalu terjebak volatilitas dua arah yang cepat menguras margin.

Salah membaca horizon narasi
Menganggap target harga emas 5.400 dolar AS berasumsi harga harus langsung naik, atau mengira rotasi jangka panjang dari emas ke Bitcoin akan langsung membuat BTC mengungguli emas dalam hitungan minggu. Padahal banyak narasi ini bekerja dalam horizon tahunan, bukan harian.

Strategi Investasi Jangka Panjang

Pilihan aset seperi emas dan aset terkait dolar (obligasi, deposito) sebagai fondasi, mencerminkan pendekatan bank sentral yang terus menambah emas untuk mengurangi ketergantungan pada satu mata uang.

Bitcoin dan asset kripto berkualitas sebagai bentuk “uang netral” yang tidak bergantung pada satu negara dan berpotensi diuntungkan saat kepercayaan terhadap kebijakan moneter tradisional terganggu.

Manfaatkan perbedaan kinerja emas dan Bitcoin

Ketika emas sudah reli kuat sementara Bitcoin tertinggal, investor jangka panjang dapat mempertimbangkan rebalancing bertahap (bukan all-in) untuk menambah porsi BTC, selama tesis jangka panjang masih diyakini. Emas tetap dipertahankan sebagai pelindung risiko sistemik.

Sebaliknya, jika Bitcoin mencetak reli besar sementara emas relatif stagnan, rebalancing ke emas dapat membantu menjaga profil risiko portofolio tetap seimbang di tengah siklus kripto yang cepat.

Disclaimer: Seluruh informasi yang disampaikan disusun oleh mitra industri dengan tujuan memberikan edukasi kepada pembaca. Kami menyarankan Anda untuk melakukan riset secara mandiri dan mempertimbangkan dengan matang sebelum melakukan transaksi.

Loading...
Blur 2

Belajar, Investasi, dan Tumbuh Bersama Kami

Jadilah bagian dari FLOQ. Mulai perjalanan investasimu dengan platform terpercaya dari hari pertama.

Google PlayApp Store
Blur 2Blur 2Device