Market Outlook – 23 Februari 2026: Menanti Data Inflasi AS, Pasar Global Bersiap Hadapi Volatilitas

Strategi

23 Feb 2026

3 menit

Ditulis oleh: Nabilla Amanda

Pattern 1
Article

Memasuki pekan ketiga Februari 2026, perhatian pasar global tertuju pada dua indikator utama ekonomi Amerika Serikat: PCE (Personal Consumption Expenditures) dan GDP (Gross Domestic Product). Kedua data ini berperan penting dalam menentukan arah kebijakan moneter The Federal Reserve, yang pada akhirnya memengaruhi pergerakan aset global, termasuk aset kripto.

Dalam lingkungan pasar saat ini, investor cenderung lebih berhati-hati karena arah likuiditas global sangat bergantung pada apakah inflasi benar-benar menuju target atau justru kembali menguat.

PCE: Indikator Inflasi yang Paling Diperhatikan The Fed

Personal Consumption Expenditures atau PCE merupakan ukuran inflasi berbasis konsumsi rumah tangga dan menjadi acuan utama The Fed. Saat ini, core PCE berada di kisaran 2,6–2,8%, masih di atas target 2% tetapi jauh lebih rendah dibanding puncak inflasi 2022. Kondisi ini menunjukkan tren disinflasi masih berlangsung, meski belum selesai.

Implikasi terhadap pasar sangat bergantung pada hasil rilis data:

  • PCE lebih rendah dari ekspektasi:
    Pasar akan menilai inflasi melambat dan peluang penurunan suku bunga meningkat, yang secara historis mendukung saham dan kripto dalam beberapa bulan ke depan.
  • PCE lebih tinggi dari ekspektasi:
    Ekspektasi pemangkasan suku bunga bisa tertunda, likuiditas tetap ketat, dan aset berisiko berpotensi mengalami tekanan jangka pendek.

GDP AS: Ekonomi Kuat Bisa Jadi Pedang Bermata Dua

Proyeksi GDP riil AS kuartal IV 2025 berada di kisaran 4–5%, mencerminkan ekonomi yang masih kuat menjelang 2026. Namun, pertumbuhan yang terlalu tinggi saat inflasi belum sepenuhnya terkendali dapat memaksa The Fed mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.

Dampaknya terhadap pasar:

  • GDP sesuai atau sedikit di bawah ekspektasi:
    Kombinasi inflasi turun dan pertumbuhan stabil (sering disebut kondisi “Goldilocks”) cenderung mendukung aset berisiko.
  • GDP jauh di atas ekspektasi:
    Kekhawatiran kebijakan moneter lebih ketat dapat menekan saham dan kripto dalam jangka pendek, meskipun prospek jangka panjang belum tentu berubah.

Sinyal Institusi: Akumulasi Bitcoin Berlanjut

Di tengah ketidakpastian makro, Strategy Inc. (MicroStrategy) kembali membeli Bitcoin secara agresif. Pada periode 9–15 Februari, perusahaan tersebut mengakumulasi sekitar 2.486 BTC atau setara dengan 168,4 juta dolar AS pada harga rata-rata sekitar 67.710 dolar AS.

Secara keseluruhan, kepemilikan mereka telah melampaui 717 ribu BTC dengan harga rata-rata sekitar 76 ribu dolar AS. Hal ini menjadikan area 67 ribu dolar AS sebagai level psikologis penting; di bawah level tersebut pembelian terbaru institusi berada dalam posisi rugi sementara, sementara di atasnya narasi “institusi membeli saat harga turun” kembali menguat.

Pasar Indonesia: Stabilitas Mulai Terlihat

Di tengah volatilitas global, pasar domestik menunjukkan perbaikan. IHSG menguat sekitar 1,96% ke level 8.290,96, didukung penguatan rupiah dan kinerja sektor energi yang solid. Sebagian besar sektor berada di zona hijau, menandakan sentimen investor membaik.

Penguatan rupiah juga membantu meredakan kekhawatiran arus keluar modal asing. Stabilitas ini memberi ruang psikologis bagi investor ritel untuk kembali mempertimbangkan aset berisiko, termasuk kripto.

Namun demikian, arah jangka pendek tetap sangat dipengaruhi oleh data PCE dan GDP AS, sehingga kripto sebaiknya diposisikan sebagai porsi kecil portofolio dengan pendekatan bertahap.

Dua Skenario Global: Risk-On atau Risk-Off

Pasar saat ini berada di persimpangan dua kemungkinan yang sangat bergantung pada arah inflasi dan pertumbuhan ekonomi AS.

Jika inflasi terus menurun sementara aktivitas ekonomi tetap stabil, kondisi ini berpotensi menciptakan lingkungan yang kondusif bagi aset berisiko. Dalam skenario tersebut, dolar AS cenderung stabil atau melemah, yield obligasi dapat turun, dan arus modal global mulai kembali ke emerging markets. Dampaknya, rupiah berpeluang menguat dan IHSG dapat melanjutkan pemulihan. Dalam horizon yang lebih panjang, likuiditas yang lebih longgar juga dapat mendukung Bitcoin memasuki fase bullish dalam 6 hingga 18 bulan ke depan.

Sebaliknya, jika inflasi tetap tinggi sementara pertumbuhan ekonomi masih terlalu kuat, The Fed kemungkinan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama. Kondisi ini dapat menciptakan tekanan pada pasar global, khususnya di negara berkembang yang sensitif terhadap likuiditas dolar. Rupiah dan IHSG berpotensi melemah akibat arus keluar modal, sementara aset kripto dapat mengalami koreksi dengan volume tinggi karena likuidasi posisi leverage. Sebagai emerging market, Indonesia cenderung menjadi penerima dampak dari perubahan likuiditas global, bukan penentu arah utamanya.

Bagaimana Investor Sebaiknya Bersikap?

Bagi Pemula

Bagi investor pemula, fokus utama sebaiknya tetap pada fondasi keuangan yang kuat.

Dana darurat dalam instrumen likuid perlu diprioritaskan sebelum mengambil risiko investasi yang lebih tinggi. Kemudian lakukan diversifikasi sederhana, misalnya melalui kombinasi tabungan, SBN ritel, emas, dan porsi kecil kripto dengan menggunakan strategi DCA, dapat membantu mengurangi volatilitas portofolio.

Pemula juga sebaiknya menghindari aktivitas trading saat rilis data makro besar tanpa pengalaman yang memadai, karena pergerakan harga bisa sangat cepat dan tidak terduga.

Bagi Trader

Bagi trader, periode rilis data seperti PCE dan GDP sering memicu volatilitas ekstrem.

Pergerakan awal harga kerap berupa lonjakan cepat atau false breakout sebelum arah sebenarnya terbentuk setelah pasar mencerna informasi secara lebih lengkap. Oleh karena itu, fokus pada pasangan aset dengan likuiditas tinggi serta penggunaan leverage yang lebih konservatif menjadi faktor penting dalam manajemen risiko.

Bagi Long-term Investor

Investor jangka panjang perlu melihat satu rilis data sebagai bagian dari siklus yang lebih besar, bukan penentu tren. Pendekatan multi-tahun dengan portofolio berlapis umumnya lebih relevan. Aset defensif seperti kas, obligasi, dan emas dapat berfungsi sebagai penyangga stabilitas, sementara saham berkualitas dan kripto blue-chip berperan sebagai sumber pertumbuhan. Dalam konteks ini, Bitcoin dan Ethereum dapat diposisikan sebagai komponen diversifikasi jangka panjang, bukan sebagai instrumen spekulasi jangka pendek.

Disclaimer: Seluruh informasi yang disampaikan disusun oleh mitra industri dengan tujuan memberikan edukasi kepada pembaca. Kami menyarankan Anda untuk melakukan riset secara mandiri dan mempertimbangkan dengan matang sebelum melakukan transaksi.

Loading...
Blur 2

Belajar, Investasi, dan Tumbuh Bersama Kami

Jadilah bagian dari FLOQ. Mulai perjalanan investasimu dengan platform terpercaya dari hari pertama.

Google PlayApp Store
Blur 2Blur 2Device