Menjelang akhir Februari 2026, pasar kripto menunjukkan tanda pemulihan setelah mengalami salah satu fase penurunan paling tajam sejak 2022. Bitcoin (BTC) sempat turun sebanyak 23% dari sekitar 78.000 dolar AS ke 60.000 dolar AS dengan realized loss mencapai 3,2 miliar dolar AS. Peristiwa ini mencerminkan kapitulasi besar, yaitu kondisi ketika pelaku pasar menjual secara masif akibat kepanikan.
Namun pada Rabu (25/02), BTC mengalami rebound tajam sekitar 8–10% ke area 70.000 dolar AS. Pemulihan ini didorong oleh short squeeze dan kembalinya inflow ETF spot yang menandakan permintaan mulai pulih setelah tekanan jual ekstrem mereda. Aktivitas whale yang sebelumnya mengirim Bitcoin senilai ratusan juta dolar ke bursa juga tidak berujung pada penjualan besar-besaran, sehingga kekhawatiran dump massal mereda.
Secara historis, kapitulasi besar sering menandai fase akhir panic selling dan menjadi titik awal pembentukan dasar harga baru.
Arus Dana Institusi: Sempat Keluar, Kini Kembali Masuk
Pada pekan sebelumnya, crypto funds mencatat outflow sekitar 288 juta dolar AS, termasuk 203 juta dolar AS dari ETF Bitcoin dan 49 juta dolar AS dari ETF Ethereum. Permintaan untuk posisi short BTC juga meningkat, situasi ini menunjukkan sentimen pasar yang defensif.
Namun rebound terbaru terjadi bersamaan dengan kembalinya inflow ETF spot. Hal ini mengindikasikan bahwa sebagian institusi memanfaatkan harga rendah untuk melakukan akumulasi, sebuah pola yang sering terlihat setelah fase kapitulasi.
Ethereum dan Narasi AI Menguat
Pergerakan Ethereum juga dipengaruhi aktivitas pelaku besar. Vitalik Buterin tercatat menjual sekitar 9.715 ETH atau senilai 21 juta dolar AS, yang sempat menekan harga ETH di bawah 2.000 dolar AS. Namun di sisi lain, investor institusional seperti Tom Lee dari Fundstrat membeli lebih dari 51 ribu ETH di level rendah, menyebut Ethereum merupakan aset undervalued terutama dalam konteks tokenisasi dan adopsi AI. Setelah munculnya statement tersebut, ETH rebound sekitar 5%.
Narasi AI turut menguat setelah NVIDIA melaporkan kinerja yang melampaui ekspektasi, dengan pendapatan kuartal 4 mencapai 68,1 miliar dolar AS dengan pertumbuhan 73% year-on-year. Proyeksi belanja infrastruktur AI untuk 2026–2027 cukup tinggi hingga 1,1 triliun dolar AS memperkuat pandangan bahwa siklus AI masih panjang. Di pasar kripto, sentimen ini memicu rally pada token berbasis AI.
Pasar Indonesia: Stabilitas Memberi Ruang
Di Indonesia, IHSG bergerak relatif sideways menjelang akhir Februari, sementara rupiah menguat seiring pelemahan indeks dolar AS. Harga emas domestik juga rebound ke sekitar Rp3,039 juta per gram.
Data OJK menunjukkan aktivitas kripto tetap tinggi, dengan transaksi mencapai Rp409,56 triliun sepanjang 2025 dan lebih dari 18 juta pengguna aktif. Stabilitas pasar saham dan penguatan rupiah memberi ruang bagi investor ritel untuk mempertimbangkan peningkatan alokasi ke kripto saat momentum global mulai pulih.
Apakah Dapat Menjadi Peluang Buy the Dip?
Kapitulasi besar diikuti rebound tajam merupakan pola klasik panic sell yang diikuti short squeeze. Bagi investor Indonesia, penguatan rupiah membuat biaya masuk ke aset kripto relatif lebih ringan dibanding saat dolar kuat.
Meskipun dana institusional global sempat keluar, dominasi investor ritel di pasar Indonesia membuat dampaknya tidak sebesar di pasar negara maju. Rebound global berpotensi mendorong peningkatan volume perdagangan lokal.
Selain itu, momentum kuat di sektor AI membuka peluang rotasi portofolio, terutama bagi investor yang ingin menambah eksposur pada Ethereum atau token terkait AI.
Bagaimana Investor Sebaiknya Bersikap?
Untuk Pemula
Fase pasca-kapitulasi sering menjadi momen akumulasi, tetapi tetap memerlukan kehati-hatian. Pendekatan bertahap melalui Dollar Cost Averaging (DCA) pada aset utama seperti BTC dan ETH dapat membantu mengurangi risiko timing. Pembelian sekaligus di puncak rebound awal sebaiknya dihindari, terutama saat volatilitas masih tinggi.
Kesalahan umum yang perlu dihindari adalah FOMO masuk saat harga sudah naik tajam, serta membeli altcoin berkapitalisasi kecil ketika volume pasar belum stabil.
Untuk Trader
Rebound setelah kapitulasi biasanya menciptakan peluang swing trading. Namun volatilitas tinggi juga meningkatkan risiko pembalikan arah yang cepat, terutama jika short squeeze berakhir. Penggunaan leverage rendah, pemantauan arus ETF, dan aktivitas wallet besar menjadi faktor penting dalam mengonfirmasi kekuatan momentum.
Trader juga perlu memperhatikan dominasi Bitcoin; rotasi berlebihan ke sektor tertentu seperti AI tokens tanpa konfirmasi tren dapat meningkatkan risiko.
Untuk Investor Jangka Panjang
Bagi investor jangka panjang, kapitulasi sering dipandang sebagai fase reset yang membuka peluang akumulasi. Pendekatan portofolio berlapis tetap relevan: aset defensif seperti kas, obligasi pemerintah, dan emas di satu sisi, serta BTC dan ETH sebagai core kripto di sisi lain, dengan alokasi kecil ke sektor tematik seperti AI.
Akhir Februari 2026 menunjukkan tanda-tanda awal pemulihan pasar kripto setelah tekanan jual besar. Kapitulasi besar, kembalinya inflow ETF, serta narasi AI yang menguat memberikan kombinasi sinyal bahwa fase panic selling kemungkinan telah mereda.
Meski demikian, volatilitas tetap tinggi dan arah jangka pendek masih dapat berubah. Dalam kondisi seperti ini, disiplin strategi, manajemen risiko, dan perspektif jangka panjang menjadi kunci utama.







