Market Outlook - 16 Maret 2026: Konflik AS–Iran Memicu Lonjakan Energi Global, Bitcoin Sentuh Tonggak 20 Juta Koin

Strategi

16 Mar 2026

4 menit

Ditulis oleh: Nabilla Amanda

Pattern 1
Article

Ketegangan geopolitik kembali menjadi pendorong utama pergerakan pasar global pada pekan kedua Maret 2026. Konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran memicu lonjakan tajam harga energi, sementara investor juga menantikan keputusan penting dari rapat FOMC pada 18 Maret.

Di saat yang sama, pasar kripto menghadapi dinamika yang menarik: Bitcoin mencapai milestone penting 20 juta BTC yang telah ditambang, sementara volatilitas meningkat akibat sentimen risk-off global.

Situasi Pasar dalam Sepekan Terakhir

Dalam waktu kurang dari dua minggu sejak operasi militer AS–Israel dimulai pada akhir Februari, konflik Iran berubah dari sekadar geopolitical noise menjadi macro shock yang berdampak langsung pada pasar energi global.

Harga minyak Brent melonjak hingga 29% ke sekitar US$119 per barel pada 8–9 Maret, mencatat salah satu kenaikan mingguan terbesar dalam sejarah perdagangan futures minyak. Lonjakan ini dipicu oleh keputusan Iran menutup Selat Hormuz, jalur vital bagi distribusi energi global. Di saat yang sama, Qatar menghentikan produksi LNG di fasilitas Ras Laffan, yang mendorong harga gas di Eropa melonjak hampir 50% hanya dalam satu sesi perdagangan.

Dampaknya langsung terasa di pasar keuangan global. Indeks S&P 500 sempat turun sekitar 2% di awal pekan sebelum kembali stabil setelah Presiden Donald Trump menyatakan bahwa konflik tersebut berpotensi berakhir dalam waktu dekat. Meski harga minyak melonjak tajam, saham perusahaan energi besar hanya naik sekitar 2%, menunjukkan pasar masih berhati-hati terhadap prospek permintaan global.

Di sisi makroekonomi, inflasi AS untuk Februari tercatat 2,4% YoY, dengan core CPI 2,5% YoY, sesuai dengan ekspektasi pasar. Namun angka ini belum mencerminkan dampak kenaikan harga energi akibat konflik Iran. Beberapa proyeksi memperkirakan inflasi dapat meningkat menjadi 3,0–3,5% pada Maret dan bahkan lebih tinggi pada April jika harga energi tetap tinggi.

Kondisi ini menempatkan The Fed dalam dilema menjelang rapat FOMC pada 18 Maret, di mana konsensus pasar memperkirakan suku bunga akan tetap di kisaran 3,50–3,75%. Investor kini lebih fokus pada dot plot terbaru dan pernyataan Jerome Powell, terutama terkait kemungkinan penurunan suku bunga di semester kedua tahun ini atau bahkan potensi kebijakan yang lebih hawkish jika inflasi energi mulai menyebar ke komponen inti.

20 Juta BTC Sudah di Mining

Di tengah ketidakpastian global tersebut, pasar kripto mencatat perkembangan penting. Pada 9 Maret 2026, jumlah Bitcoin yang telah ditambang mencapai 20 juta BTC, atau sekitar 95,2% dari total suplai maksimal 21 juta BTC. Sisa sekitar 1 juta BTC diperkirakan baru akan selesai ditambang dalam lebih dari satu abad ke depan.

Namun milestone ini datang bersamaan dengan volatilitas tinggi. Indeks Fear & Greed sempat berada di level 19 (Extreme Fear), sementara harga Bitcoin bergerak di kisaran 67,000 dolar AS hingga 74,000 dolar AS setelah mengalami pullback akibat eskalasi konflik Iran. Volatilitas tersirat pada opsi Bitcoin juga melonjak hingga 75–93%, tertinggi dalam tiga tahun terakhir.

Menariknya, di tengah kepanikan investor ritel, investor institusional justru menunjukkan aktivitas akumulasi. ETF Bitcoin mencatat inflow sekitar 1,5 miliar dolar AS dalam satu minggu, mengakhiri tren outflow lima minggu sebelumnya. Selain itu, perusahaan MicroStrategy (MSTR) membeli Bitcoin senilai 1,3 miliar dolar AS, sementara open interest opsi call untuk Maret mencapai 660 juta dolar AS, jauh lebih tinggi dibandingkan posisi put sebesar 240 juta dolar AS.

Dampak ke Pasar Indonesia

Sentimen global tersebut juga berdampak pada pasar domestik, terutama melalui pergerakan IHSG, rupiah, dan harga emas.

IHSG sempat mengalami tekanan sejak awal bulan akibat kekhawatiran konflik Iran dan lonjakan harga minyak. Pada 11 Maret, indeks sempat menguat sekitar 1% ke level 7.515 karena technical rebound dan optimisme bahwa konflik Timur Tengah dapat mereda. Namun pada penutupan hari yang sama, IHSG justru melemah 0,69% ke level 7.389,40, menunjukkan bahwa pasar masih sensitif terhadap perkembangan global harian.

Di pasar valuta asing, rupiah juga mengalami tekanan. Kurs berada di kisaran Rp16.900 hingga Rp17.400 per dolar AS pada 7 Maret, dipengaruhi oleh penguatan dolar sebagai safe haven serta arus keluar modal dari pasar negara berkembang.

Sementara itu, harga emas Antam mencerminkan pergerakan sentimen global. Harga sempat melonjak hingga sekitar Rp3,18 juta per gram pada 11 Maret sebelum turun kembali ke Rp3,04 juta per gram pada 12 Maret, menandakan adanya rotasi cepat antara permintaan safe haven dan aksi ambil untung.

Secara keseluruhan, konflik geopolitik dan kebijakan moneter global memengaruhi Indonesia melalui tiga jalur utama: harga energi, arus modal global, dan pergeseran preferensi aset ke safe haven.

Cara Menyikapi Market

Dalam kondisi pasar yang dipengaruhi oleh faktor geopolitik dan kebijakan moneter, pendekatan investasi perlu disesuaikan dengan profil masing-masing investor.

Investor Pemula

Bagi investor pemula, strategi yang paling relevan saat ini adalah akumulasi bertahap. Metode seperti Dollar Cost Averaging (DCA) pada aset utama seperti Bitcoin dan Ethereum dapat membantu mengurangi risiko volatilitas jangka pendek. Di saat yang sama, penting untuk menghindari keputusan investasi yang terlalu agresif menjelang event besar seperti keputusan FOMC.

Trader

Bagi trader aktif, volatilitas yang meningkat justru dapat membuka peluang. Pergerakan Bitcoin yang berada dalam kisaran konsolidasi memberikan ruang untuk strategi trading berbasis range, dengan tetap menerapkan manajemen risiko yang disiplin.

Investor Jangka Panjang

Sementara bagi investor jangka panjang, milestone 20 juta Bitcoin yang telah ditambang memperkuat narasi fundamental Bitcoin sebagai aset dengan kelangkaan terprogram. Dalam perspektif jangka panjang, momen ketika pasar berada dalam kondisi extreme fear sering kali menjadi fase akumulasi bagi investor yang memiliki horizon investasi lebih panjang.

Meski demikian, beberapa risiko tetap perlu diperhatikan. Inflasi AS yang lebih tinggi akibat lonjakan harga energi dapat menunda penurunan suku bunga oleh The Fed hingga semester kedua 2026. Selain itu, faktor domestik seperti review MSCI pada Mei 2026 juga berpotensi memengaruhi arus modal ke pasar Indonesia.

Disclaimer: Seluruh informasi yang disampaikan disusun oleh mitra industri dengan tujuan memberikan edukasi kepada pembaca. Kami menyarankan Anda untuk melakukan riset secara mandiri dan mempertimbangkan dengan matang sebelum melakukan transaksi.

Loading...
Blur 2

Belajar, Investasi, dan Tumbuh Bersama Kami

Jadilah bagian dari FLOQ. Mulai perjalanan investasimu dengan platform terpercaya dari hari pertama.

Google PlayApp Store
Blur 2Blur 2Device