Inflasi AS Bisa Bikin Bitcoin Bergejolak! Ini Prediksi CPI September

Pasar

13 Oct 2026

5 menit

Ditulis oleh: Bianda Ludwianto

Pattern 1
Article

Data inflasi Amerika Serikat (AS) menjadi salah satu katalis penting yang berpotensi menentukan arah pergerakan harga Bitcoin (BTC) dalam waktu dekat. Indeks Harga Konsumen (Consumer Price Index/CPI) AS periode September 2026 dijadwalkan rilis pada Rabu, 14 Oktober 2026, pukul 08.30 waktu Eastern AS atau sekitar pukul 19.30 WIB.

Dilaporkan Crypto.News, investor akan mencermati data tersebut untuk memperkirakan arah kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed), terutama menjelang pertemuan bank sentral AS pada 27–28 Oktober 2026.

Berdasarkan laporan Truflation pada 9 Oktober 2026, inflasi utama AS diperkirakan meningkat menjadi 3,6% secara tahunan (year-on-year/yoy) pada September, dari 3,4% pada Agustus. Sementara itu, inflasi inti atau core CPI diproyeksikan berada di level 2,4% yoy.

Angka tersebut lebih rendah dibandingkan ekspektasi pasar yang tercantum dalam laporan, yakni inflasi utama sebesar 3,7% dan inflasi inti sebesar 2,5%.

Untuk perubahan bulanan, Truflation memperkirakan CPI utama naik 0,48%, sedangkan core CPI meningkat 0,23%.

Perlu dicatat, proyeksi Truflation merupakan estimasi independen, bukan angka resmi pemerintah AS. Hasil dari Biro Statistik Tenaga Kerja AS (BLS) akan menjadi acuan utama bagi investor dalam menilai perkembangan inflasi.

Prediksi CPI AS September 2026: Apa yang Perlu Diperhatikan?

Menjelang rilis data inflasi, terdapat beberapa indikator yang berpotensi memengaruhi hasil CPI sekaligus respons pasar keuangan.

  • Inflasi utama diperkirakan meningkat: Konsensus pasar yang dikutip dalam laporan menempatkan CPI tahunan di level 3,7%, naik dari 3,4% pada Agustus.
  • Inflasi inti menjadi perhatian: Core CPI diperkirakan mencapai 2,5% secara tahunan. Angka ini penting karena tidak memasukkan komponen makanan dan energi yang cenderung lebih volatil.
  • Harga energi berpotensi menambah tekanan: Kenaikan harga bensin dapat mendorong inflasi utama, meskipun tekanan harga di sektor lain mulai mereda.
  • Biaya impor dan tarif menjadi risiko: Kenaikan biaya produksi dan barang impor berpotensi diteruskan kepada konsumen dalam beberapa bulan ke depan.
  • Pasar tenaga kerja dapat meredam inflasi: Perlambatan perekrutan dan pertumbuhan upah berpotensi mengurangi tekanan biaya dari sektor jasa.

Perbedaan antara inflasi utama dan inflasi inti akan menjadi salah satu hal yang diperhatikan pasar. Jika CPI meningkat karena energi, tetapi core CPI melandai, investor dapat menilai tekanan inflasi belum menyebar secara merata ke seluruh perekonomian.

Sebaliknya, kenaikan inflasi inti yang melampaui perkiraan dapat memperkuat kekhawatiran bahwa tekanan harga masih persisten.

Harga Energi Jadi Salah Satu Pemicu Inflasi

Dalam laporan September, Truflation mencatat harga bensin meningkat 4,8% secara bulanan dan 32,1% secara tahunan. Kenaikan tersebut menjadi salah satu sumber tekanan terhadap inflasi utama.

Harga energi yang lebih tinggi dapat meningkatkan biaya transportasi dan distribusi, kemudian berpotensi diteruskan ke harga barang dan jasa. Di samping itu, tarif impor dan kenaikan biaya produksi juga menjadi risiko terhadap inflasi barang menjelang akhir tahun.

Namun, sejumlah komponen memberikan sinyal yang lebih moderat. Truflation mencatat harga pangan turun 0,1% secara bulanan, sementara biaya perumahan dalam estimasinya juga mengalami penurunan.

Di sektor tenaga kerja, pertumbuhan penggajian AS pada September dilaporkan hanya bertambah 29.000 pekerjaan, sedangkan tingkat pengangguran mencapai 4,2%. Pertumbuhan upah tahunan sekitar 4% juga berpotensi membatasi tekanan biaya tenaga kerja.

Kombinasi tersebut menunjukkan bahwa prospek inflasi AS masih menghadapi dua arah risiko. Kenaikan energi dan biaya impor dapat mendorong inflasi utama, sementara pelemahan pasar tenaga kerja berpotensi membantu meredam tekanan dari sektor jasa.

Bagaimana CPI Memengaruhi Kebijakan Suku Bunga The Fed?

Hasil CPI dapat memengaruhi ekspektasi investor terhadap keputusan suku bunga The Fed. Jika inflasi menunjukkan tren penurunan yang berkelanjutan, pasar berpotensi memperkirakan ruang pelonggaran kebijakan moneter semakin terbuka.

Sebaliknya, inflasi yang lebih tinggi dari perkiraan dapat membuat The Fed mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama untuk memastikan tekanan harga terkendali.

Kondisi tersebut penting bagi pasar aset berisiko, termasuk saham dan kripto. Suku bunga tinggi dapat meningkatkan daya tarik instrumen berpendapatan tetap dan menekan minat terhadap aset yang lebih volatil. Sementara itu, ekspektasi pelonggaran moneter berpotensi mendukung likuiditas dan sentimen risiko.

Meski demikian, CPI bukan satu-satunya penentu keputusan The Fed. Bank sentral AS juga mempertimbangkan kondisi ketenagakerjaan, pertumbuhan ekonomi, dan prospek inflasi sebelum mengubah kebijakan.

Tiga Skenario Dampak CPI terhadap Harga Bitcoin

Bitcoin berpotensi mengalami peningkatan volatilitas setelah rilis CPI. Arah pergerakannya akan bergantung pada selisih antara hasil aktual dan ekspektasi pasar, serta bagaimana investor menafsirkan implikasinya terhadap suku bunga.

Berikut tiga skenario yang perlu diperhatikan.

1. CPI lebih rendah dari perkiraan: Bitcoin berpeluang menguat

Jika CPI dan terutama core CPI berada di bawah konsensus, ekspektasi terhadap pelonggaran kebijakan moneter dapat menguat.

Dalam kondisi tersebut, Bitcoin berpotensi memperoleh dukungan apabila imbal hasil obligasi AS melemah, dolar AS tidak menguat secara signifikan, dan permintaan aset kripto meningkat.

Namun, inflasi yang lebih rendah tidak otomatis memicu reli. Investor tetap perlu mencermati arus dana institusional dan aktivitas pembelian di pasar spot.

2. CPI sesuai ekspektasi: Bitcoin berpotensi bergerak fluktuatif

Jika hasil CPI mendekati konsensus, respons pasar bisa lebih terbatas karena sebagian ekspektasi telah tercermin dalam harga.

Pergerakan Bitcoin selanjutnya dapat dipengaruhi oleh rincian inflasi inti, perubahan imbal hasil obligasi, serta pernyataan pejabat The Fed mengenai prospek suku bunga.

Dalam skenario ini, investor kemungkinan menunggu katalis tambahan sebelum menentukan arah transaksi.

3. CPI lebih tinggi dari perkiraan: Bitcoin menghadapi risiko koreksi

Jika inflasi utama dan core CPI melampaui konsensus, pasar berpotensi kembali memperhitungkan suku bunga tinggi dalam waktu lebih lama.

Kenaikan imbal hasil obligasi dan penguatan dolar AS dapat menekan minat terhadap aset berisiko, sehingga Bitcoin berpotensi menghadapi tekanan jual tambahan.

Dalam kondisi pasar yang melemah, area US$80.000 dapat menjadi salah satu level risiko yang dipantau pelaku pasar. Namun, level tersebut bukan target penurunan yang telah terkonfirmasi dan perlu dievaluasi berdasarkan harga BTC terkini, area support, serta kondisi likuiditas.

Arus Dana ETF Bitcoin Turut Menentukan Arah Pasar

Selain inflasi dan suku bunga, aliran dana institusional melalui ETF Bitcoin spot AS juga menjadi faktor penting dalam menentukan keberlanjutan pergerakan harga BTC.

Dalam analisis yang dikutip crypto.news pada 6 Oktober 2026, analis Bitfinex menyoroti perlambatan pembelian ETF Bitcoin spot sebagai salah satu tantangan bagi pemulihan harga.

Arus masuk bersih ETF Bitcoin spot AS tercatat sebesar US$241,1 juta pada periode 28 September–2 Oktober, turun dari sekitar US$2,39 miliar pada pekan sebelumnya.

Perlambatan tersebut menunjukkan bahwa dukungan pembelian melalui ETF perlu kembali menguat agar momentum kenaikan Bitcoin dapat bertahan.

Karena itu, hasil CPI yang lebih rendah dari perkiraan berpotensi menjadi katalis positif, tetapi keberlanjutan reli tetap bergantung pada respons pasar obligasi, ekspektasi suku bunga, dan permintaan Bitcoin di pasar spot.

Investor Perlu Mencermati Data Inflasi dan Respons Pasar

Rilis CPI September akan menjadi salah satu indikator penting bagi investor untuk menilai prospek kebijakan moneter AS menjelang pertemuan The Fed pada 27–28 Oktober 2026.

Sejumlah indikator yang perlu dipantau setelah data dirilis meliputi:

  • CPI utama dan core CPI: Untuk melihat apakah inflasi bergerak di atas atau di bawah ekspektasi.
  • Imbal hasil obligasi AS: Untuk mengukur perubahan ekspektasi suku bunga dan daya tarik aset berisiko.
  • Indeks dolar AS: Untuk melihat perubahan kondisi keuangan yang dapat memengaruhi permintaan aset kripto.
  • Arus dana ETF Bitcoin spot: Untuk menilai apakah investor institusional kembali meningkatkan eksposur terhadap BTC.
  • Pergerakan harga dan volume Bitcoin: Untuk mengonfirmasi apakah reaksi pasar didukung oleh aktivitas perdagangan yang kuat.

Pada akhirnya, data CPI tidak memberikan kepastian mengenai arah harga Bitcoin. Inflasi yang lebih rendah dapat memperbaiki sentimen pasar, sedangkan inflasi yang lebih tinggi berpotensi meningkatkan tekanan jual. Namun, dampak akhirnya tetap ditentukan oleh kombinasi ekspektasi suku bunga, kondisi likuiditas, dan permintaan investor terhadap Bitcoin.

Download aplikasi FLOQ di Play Store atau App Store. FLOQ merupakan aplikasi aset digital yang telah berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Dapatkan informasi pasar, edukasi crypto, serta akses trading aset digital dalam satu aplikasi.

Baca juga: Tak Perlu Jutaan: Cara Punya Saham Apple dengan Modal Receh

Disclaimer: Seluruh informasi yang disampaikan disusun oleh mitra industri dengan tujuan memberikan edukasi kepada pembaca. Kami menyarankan Anda untuk melakukan riset secara mandiri dan mempertimbangkan dengan matang sebelum melakukan transaksi.

Loading...
Blur 2

Belajar, Investasi, dan Tumbuh Bersama Kami

Jadilah bagian dari FLOQ. Mulai perjalanan investasimu dengan platform terpercaya dari hari pertama.

Google PlayApp Store
Blur 2Blur 2Device