Market Outlook – 15 Februari 2026: Yen Menguat, Data Tenaga Kerja AS Solid, Pasar Domestik Masih Beradaptasi

Pasar

16 Feb 2026

4 menit

Ditulis oleh: Nabilla Amanda

Pattern 1
Article

Memasuki pekan kedua Februari 2026, pasar global dihadapkan pada kombinasi faktor yang saling berinteraksi: penguatan tajam yen Jepang, data ketenagakerjaan AS yang lebih kuat dari perkiraan, serta dampak lanjutan isu MSCI terhadap Indonesia. Ketiganya membentuk lingkungan pasar yang volatil namun tidak sepenuhnya negatif, karena sebagian perubahan mencerminkan penyesuaian struktur global, bukan krisis baru.

Bagi investor, memahami hubungan antar faktor ini dapat menjadi kunci untuk membaca arah pasar, termasuk implikasinya terhadap pergerakan aset kripto.

Yen Menguat Tajam dan Dampaknya ke Pasar Global

Setelah periode pelemahan panjang, yen Jepang berbalik menguat secara signifikan terhadap dolar AS. Beberapa lonjakan intraday terjadi tanpa pemicu data ekonomi yang jelas, memicu spekulasi adanya intervensi terselubung atau setidaknya “rate check” dari otoritas Jepang kepada pelaku pasar.

Penguatan yen memiliki implikasi luas. Salah satu dampak utamanya adalah berkurangnya praktik carry trade berbasis yen, yaitu strategi meminjam yen dengan bunga rendah untuk membeli aset berimbal hasil tinggi di negara lain. Ketika yen menguat, posisi ini menjadi lebih mahal dan berisiko, sehingga investor cenderung menutupnya.

Dampaknya, sebagian dana kembali ke Jepang dan keluar dari aset berisiko, termasuk di pasar emerging market. Di sisi lain, penguatan yen turut menahan kenaikan indeks dolar AS, sehingga tekanan dolar terhadap aset global tidak lagi sekuat sebelumnya.

Data Ketenagakerjaan AS: Kuat, Namun Pasar Tetap Waspada

AS merilis data pasar tenaga kerja bulan Januari pada hari Rabu (11/02) yang menunjukkan jika kondisi ekonomi masih solid. Unemployment rate turun menjadi 4,3%, lebih rendah dari konsensus, sementara Non-Farm Payrolls mencapai sekitar 130 ribu lapangan kerja. Angka tersebuthampir dua kali lipat dari perkiraan.

Data yang kuat ini menjadi faktor penting dalam menilai arah kebijakan moneter di bawah kepemimpinan Kevin Warsh sebagai calon Ketua the Federal Reserve. Jika pasar tenaga kerja tetap kuat, tekanan untuk menurunkan suku bunga dalam waktu dekat menjadi lebih kecil.

Namun reaksi pasar tidak sepenuhnya positif. Pasalnya, indeks saham AS bergerak volatil setelah data dirilis. Situasi ini menandakan jika investor masih menunggu konfirmasi dari data inflasi dan sinyal resmi The Fed berikutnya.

Pasar Domestik: Dampak Lanjutan Isu MSCI

Di Indonesia, tekanan pasar saham masih dipengaruhi oleh isu dari MSCI yang membuka kemungkinan penurunan status dari Emerging Market menjadi Frontier Market. Alasan yang disoroti mencakup transparansi kepemilikan saham dan praktik perdagangan yang dinilai mengganggu pembentukan harga wajar.

Reaksi awal cukup tajam. IHSG sempat turun sekitar 16% ke kisaran 7.500 dalam dua hari, disertai penjualan bersih asing pada saham-saham berkapitalisasi besar.

Apabila downgrade benar-benar terjadi, dana pasif global yang mengikuti indeks MSCI Emerging Markets berpotensi mengurangi eksposur ke Indonesia, dengan estimasi arus keluar hingga miliaran dolar AS.

Pemerintah, OJK, dan BEI merespons dengan berbagai langkah, termasuk peningkatan free float minimum menjadi 15%, perbaikan transparansi kepemilikan, serta dukungan likuiditas untuk menstabilkan pasar.

Tekanan di pasar saham domestik juga berpotensi mendorong sebagian investor ritel mencari alternatif diversifikasi ke emas dan aset kripto. Namun, sentimen global yang masih cenderung risk-off membuat aset kripto tetap diposisikan sebagai porsi kecil portofolio, bukan pengganti penuh saham.

Global vs Domestik: Implikasi ke Pasar Kripto

Penguatan yen dan tertahannya dolar AS memiliki efek yang kompleks terhadap kripto.

Di satu sisi, dolar yang tidak terlalu kuat dapat mengurangi tekanan langsung terhadap harga Bitcoin (BTC) dan Ethereum (ETH) dalam denominasi dolar AS. Hal ini juga berpotensi memicu kembali narasi pelemahan mata uang fiat terhadap aset non-sovereign seperti Bitcoin.

Namun di sisi lain, penutupan carry trade yang saat ini tengah dilakukan di Jepang sering kali mencerminkan kondisi risk-off, yang justru dapat menyebabkan investor mengurangi posisi pada aset berisiko, termasuk aset kripto.

Sementara itu, data tenaga kerja AS yang kuat memperkuat pandangan bahwa suku bunga mungkin akan bertahan tinggi lebih lama (higher for longer). Dalam kondisi ini, aset kripto cenderung diperlakukan sebagai aset risiko.

Secara historis, data ekonomi yang lemah setelah fase awal ketakutan resesi justru sering menjadi katalis positif bagi Bitcoin (BTC) dalam jangka menengah, karena membuka peluang pelonggaran moneter. Namun proses tersebut biasanya memakan waktu hingga 6–18 bulan.

Bagaimana Investor Sebaiknya Bersikap?

Bagi Pemula: Fokus pada Fondasi

Langkah pertama yang dapat dilakukan pada situasi pasar saat ini adalah memastikan stabilitas keuangan pribadi, seperti dana darurat dalam rupiah, portofolio sederhana dan terdiversifikasi, dan alokasi kecil ke kripto bagi yang memahami risikonya.

Kombinasi instrumen seperti tabungan, deposito, SBN ritel, emas, dan porsi kripto sekitar 5–10% dapat menjadi pendekatan awal yang konservatif.

Kesalahan umum yang sering terjadi pada pemula adalah melakukan panic selling karena isu MSCI atau FOMO membeli aset kripto setelah rilis data makro besar, lalu panik ketika harga berbalik.

Bagi Trader: Fokus pada Event dan Korelasi Pasar

Bagi trader, periode ini ditandai oleh volatilitas tinggi yang dipicu oleh rilis data ekonomi, pernyataan bank sentral, serta pergerakan USD/JPY.

Strategi yang disarankan yakni:

  • Fokus pada pair kripto dengan likuiditas tinggi seperti BTC/USDT dan ETH/USDT.
  • Menggunakan level teknikal yang jelas.
  • Mengurangi leverage menjelang event besar.

News-chasing dan mengabaikan likuiditas menjadi kesalahan umum, terutama saat volatilitas meningkat dan spread melebar.

Bagi Investor Jangka Panjang: Melihat Gambaran Besar

Perubahan kebijakan moneter, pergerakan mata uang, dan isu MSCI dapat dilihat sebagai bagian dari penyesuaian struktur global, bukan alasan untuk keluar sepenuhnya dari pasar.

Pendekatan portofolio yang sering digunakan adalah barbell strategy, yaitu menggabungkan aset defensif seperti kas, obligasi pemerintah, dan emas dengan aset pertumbuhan seperti saham berkualitas dan kripto blue-chip.

Dalam konteks ketidakpastian kebijakan moneter dan risiko geopolitik, Bitcoin dan kripto utama dapat berperan sebagai komponen diversifikasi jangka panjang dengan alokasi terukur dan horizon investasi multi-tahun.

Pekan kedua Februari 2026 menunjukkan bahwa pasar global tidak bergerak dalam satu arah sederhana. Penguatan yen, data tenaga kerja AS yang solid, dan dinamika pasar domestik Indonesia menciptakan kondisi yang menuntut kehati-hatian sekaligus fleksibilitas.

Alih-alih bereaksi terhadap satu berita, investor perlu memahami bagaimana faktor-faktor tersebut saling memengaruhi. Dalam banyak kasus, periode seperti ini bukan menandakan krisis baru, melainkan fase penyesuaian yang akan membentuk arah pasar berikutnya.

Disclaimer: Seluruh informasi yang disampaikan disusun oleh mitra industri dengan tujuan memberikan edukasi kepada pembaca. Kami menyarankan Anda untuk melakukan riset secara mandiri dan mempertimbangkan dengan matang sebelum melakukan transaksi.

Loading...
Blur 2

Belajar, Investasi, dan Tumbuh Bersama Kami

Jadilah bagian dari FLOQ. Mulai perjalanan investasimu dengan platform terpercaya dari hari pertama.

Google PlayApp Store
Blur 2Blur 2Device