Minat terhadap aset kripto di Indonesia terus berkembang, terutama pada generasi muda. Namun, meski eksposurnya semakin luas, hasil riset menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia masih berada pada tahap awal dalam memahami dan mengadopsi investasi kripto. Perilaku investor saat ini lebih mencerminkan fase eksplorasi daripada partisipasi penuh.
Untuk memahami bagaimana perilaku, motivasi, serta hambatan yang dihadapi investor kripto di Indonesia, FLOQ bekerja sama dengan Populix melakukan survei nasional terhadap lebih dari 2.000 responden. Survei ini menelusuri empat dimensi utama:
- Tingkat adopsi kripto
- Alasan berinvestasi kripto
- Faktor penentu pemilihan aset
- Nilai portofolio kripto responden
Artikel ini menyajikan analisis lengkap berdasarkan data asli dari survei yang telah dilakukan.
Tingkat Adopsi Kripto di Indonesia
Salah satu fokus utama survei adalah melihat seberapa jauh masyarakat Indonesia sudah berinvestasi dalam aset digital. Dari 2.209 responden, hasilnya menunjukkan:

Data di atas menunjukkan bahwa meskipun mayoritas responden belum terjun ke pasar kripto, tetapi antusiasme untuk mencoba investasi aset kripto kian meningkat. Dengan lebih dari sepertiga responden berada pada tahap “sudah berinvestasi” atau “berencana memulai”, pasar kripto masih memiliki potensi pertumbuhan besar di masa mendatang.
Gen Z dan Millennials sebagai Pendorong Utama
Berdasarkan sebaran demografis dalam dataset, kelompok Gen Z dan Millennials mendominasi responden survei. Hal ini tidak mengejutkan, mengingat kedua generasi ini sangat dekat dengan teknologi digital dan lebih terbuka terhadap inovasi finansial seperti aset kripto.
Motivasi Utama Berinvestasi Kripto
Survei juga menelusuri alasan mengapa responden memilih berinvestasi dalam aset kripto. Dari 1.998 responden pada pertanyaan ini, ditemukan bahwa:

Temuan Penting: Investor Indonesia Dinilai Return-Oriented
Hampir setengah responden menyatakan bahwa mereka berinvestasi aset kripto karena potensi keuntungan yang tinggi. Kesimpulan tersebut menandakan bahwa perilaku investasi kripto di Indonesia masih sangat dipengaruhi oleh ekspektasi profit jangka pendek dibandingkan fundamental teknologi di balik aset kripto.
Faktor-Faktor yang Menentukan Pemilihan Aset Kripto
Selain alasan berinvestasi, survei juga menilai faktor-faktor yang mempengaruhi responden dalam memilih aset kripto tertentu.
Dari 2.091 responden, hasilnya adalah:

Keputusan Investasi Tetap Didominasi Faktor Harga
Data menunjukkan bahwa faktor harga, baik potensi pertumbuhan maupun momentum pasar, menjadi penentu utama dalam pemilihan aset kripto yang akan diinvestasikan. Faktor edukasi, teknologi, atau rekomendasi komunitas hanya memiliki porsi kecil dibandingkan pertimbangan harga.
Seberapa Besar Investasi Kripto yang Dimiliki?
Nilai investasi individu merupakan indikator penting untuk memahami kedewasaan pasar. Dari 2.121 responden, distribusi nilai portofolio terlihat seperti berikut:

Mayoritas Investor Masih Entry-Level
Dengan hampir 80% investor hanya menempatkan dana kurang dari satu juta rupiah, dapat disimpulkan bahwa adopsi kripto di Indonesia masih berada pada tahap awal. Investor masih berhati-hati dan cenderung mengalokasikan dana yang relatif kecil.
Apa Arti Temuan Ini bagi Ekosistem Kripto di Indonesia?
Investor Indonesia Masih Berada di Tahap Early Adoption
Dengan 29% responden sudah berinvestasi dan 15% berencana untuk mulai, adopsi kripto di Indonesia masih berada pada tahap awal perkembangan. Mayoritas masyarakat belum memasuki pasar ini, dan mereka yang sudah berinvestasi pun cenderung bergerak dalam skala kecil.
Kombinasi antara rasa ingin tahu yang tinggi dan keterlibatan modal yang rendah menunjukkan bahwa pasar Indonesia masih dalam fase eksplorasi, belum mencapai maturitas.
Skala Investasi Kecil Menandakan Pengguna Masih Eksploratif
Berdasarkan hasil riset, sebanyak 79.68% responden hanya menempatkan dana kurang dari satu juta rupiah. Angka tersebut menjadi indikator kuat bahwa investor aset kripto masih berhati-hati dan mencoba memahami cara kerja aset kripto sebelum melakukan investasi yang lebih besar.
Hal ini sangat khas dalam fase early-adopter, di mana para investo mencoba-coba sambil belajar.
Keputusan Investasi Didominasi Ekspektasi Profit, Bukan Pemahaman Mendalam
Motivasi utama berinvestasi kripto adalah potensi keuntungan tinggi (47%), serta pemilihan aset juga didorong oleh potensi pertumbuhan harga (43%).
Investor pada tahap awal biasanya masih berfokus pada imbal hasil yang cepat, bukan pada fundamental teknologi, utilisasi, atau kualitas ekosistem. Berdasarkan dari data di atas, menunjukkan bahwa lanskap Indonesia masih jauh dari perilaku investor yang matang.
Edukasi Belum Menjadi Faktor Utama
Hanya 6% responden yang memilih aset berdasarkan edukasi atau informasi yang tersedia. Persentase tersebut menandakan bahwa banyak keputusan diambil tanpa pemahaman mendalam mengenai risiko, keamanan, atau mekanisme blockchain.
Tingkat literasi yang belum mengakar merupakan ciri lain dari pasar early-stage, di mana adopsi lebih cepat daripada edukasi.
Potensi Pertumbuhan Masih Sangat Besar
Dengan tingginya persentase responden yang belum berinvestasi (56%), serta tingginya ketertarikan untuk memulai, pasar Indonesia masih memiliki ruang ekspansi yang sangat besar.
Perpaduan antara demografi muda, penetrasi investasi digital yang kuat, serta minat yang besar menempatkan Indonesia sebagai pasar kripto yang menjanjikan. Meskipun hingga saat ini masih belum tergolong matang.







