EIP (Ethereum Improvement Proposal): Proses Perubahan dalam Jaringan Ethereum

Ethereum

08 Feb 2026

5 menit

Ditulis oleh: umar

Pattern 1
Article

Hi Sahabat Floq,

Ketika membicarakan blockchain, kebanyakan orang langsung membayangkan aset kripto seperti Bitcoin atau Ethereum. Dua nama tersebut memang populer dan sering menjadi topik utama dalam diskusi seputar teknologi ini. Namun, blockchain sebenarnya mencakup lebih dari sekadar aset digital. Salah satu aspek yang semakin banyak mendapat perhatian dari komunitas teknologi global adalah decentralized storage atau dalam Bahasa Indonesia disebut penyimpanan terdesentralisasi. Ini adalah sebuah inovasi yang memungkinkan file disimpan di jaringan peer-to-peer tanpa bergantung pada server pusat seperti Google Drive, Dropbox, atau sistem penyimpanan cloud tradisional lainnya. 

Konsep ini menjadi semakin relevan di tengah meningkatnya kekhawatiran terhadap privasi data, sentralisasi informasi, dan potensi penyalahgunaan oleh pihak ketiga. Mari kita bahas bersama secara menyeluruh bagaimana teknologi ini bekerja, apa kelebihan serta tantangannya, dan bagaimana file dapat disimpan dan diakses dalam sistem yang terdesentralisasi. 

Apa Itu Penyimpanan Terdesentralisasi? 

Penyimpanan terdesentralisasi adalah metode penyimpanan data yang tidak mengandalkan satu titik pusat sebagai pengelola dan penyimpan utama. Sebaliknya, data disimpan secara tersebar di berbagai node yang tergabung dalam jaringan. Setiap node berperan sebagai penyimpan data sekaligus penjaga integritas informasi. Berbeda dengan sistem tradisional di mana file disimpan dalam server milik satu entitas, dalam sistem ini data dipecah menjadi bagian-bagian kecil dan disimpan di banyak komputer atau perangkat dalam jaringan blockchain atau peer-to-peer. 

Sistem ini biasanya menggunakan prinsip redundancy dan encryption untuk memastikan bahwa file tetap dapat diakses dengan aman, bahkan jika salah satu node mengalami gangguan atau tidak aktif. Dengan cara ini, risiko kehilangan data dapat diminimalkan, dan pengguna tetap memiliki akses terhadap informasi yang mereka simpan. Pendekatan ini memberikan lapisan keamanan dan keandalan yang lebih tinggi dibandingkan sistem penyimpanan konvensional yang rentan terhadap serangan terpusat, gangguan teknis, atau sensor dari pihak tertentu. 

Bagaimana File Disimpan di Blockchain? 

Sahabat Floq, penting untuk dipahami bahwa blockchain bukanlah tempat untuk menyimpan file berukuran besar secara langsung. Ini karena blockchain memiliki keterbatasan dalam kapasitas penyimpanan dan biaya yang cukup tinggi untuk mencatat data dalam jumlah besar. Oleh karena itu, dalam praktiknya, blockchain lebih sering digunakan untuk menyimpan informasi penting seperti hash, pointer, atau metadata file. 

Sementara konten asli dari file, terutama yang berukuran besar seperti gambar, video, atau dokumen multimedia, disimpan di jaringan penyimpanan terdesentralisasi seperti IPFS (InterPlanetary File System), Arweave, atau Filecoin. Ini memungkinkan efisiensi dalam hal biaya dan performa. 

Secara umum, berikut adalah proses bagaimana file disimpan melalui sistem terdesentralisasi: 

Pertama, file dipecah menjadi bagian-bagian kecil agar dapat didistribusikan secara merata ke berbagai node. Proses ini disebut chunking. Setelah itu, setiap bagian dari file tersebut dienkripsi untuk menjaga privasi serta keamanan, baik dari akses tidak sah maupun dari modifikasi oleh pihak luar. 

Setelah proses enkripsi selesai, potongan-potongan file tersebut disebarkan ke node-node penyimpanan yang tersebar di berbagai lokasi. Kemudian, sistem mencatat hash unik dari file atau setiap bagian file ke dalam blockchain. Hash ini berfungsi sebagai penanda yang tidak dapat diubah dan merepresentasikan isi asli file tersebut. 

Ketika pengguna ingin mengakses file tersebut di masa mendatang, mereka hanya perlu memanggil hash yang tersimpan di blockchain. Sistem kemudian akan mencari dan merakit kembali potongan-potongan file yang tersebar di node-node jaringan. Proses ini memastikan bahwa data tetap terdesentralisasi namun tetap bisa diakses dengan cepat, akurat, dan aman. Kamu bisa memanfaatkan aplikasi Floq untuk memantau aset kripto serta mengelola data dengan lebih praktis langsung dari genggamanmu. 

Teknologi yang Mendukung Penyimpanan Terdesentralisasi 

Beberapa proyek dalam ekosistem blockchain telah mengembangkan solusi penyimpanan terdesentralisasi yang cukup mapan dan mulai banyak diadopsi oleh komunitas. Berikut adalah beberapa teknologi utama yang mendukung sistem ini: 

IPFS (InterPlanetary File System) 

IPFS adalah protokol dan jaringan peer-to-peer yang dirancang untuk menyimpan dan berbagi data dalam struktur file terdistribusi. IPFS menggunakan metode pengidentifikasian file berdasarkan hash, bukan berdasarkan lokasi fisik file. Hal ini menjadikan sistem ini lebih efisien, fleksibel, dan aman terhadap sensor. 

Dalam IPFS, setiap kali pengguna mengunggah file, sistem akan membaginya menjadi blok-blok kecil. Masing-masing blok memiliki hash tersendiri, dan hanya akan berubah jika konten file berubah. File dapat dengan mudah diakses dari berbagai node di seluruh dunia karena IPFS bersifat global dan terdistribusi, bukan bergantung pada satu titik server saja. 

Filecoin 

Filecoin merupakan jaringan blockchain yang dibangun di atas IPFS dan menawarkan model insentif ekonomi bagi pengguna yang menyediakan ruang penyimpanan. Dalam jaringan ini, individu atau organisasi dapat menyewakan ruang kosong di perangkat mereka dan mendapatkan imbalan berupa token FIL. Filecoin menggunakan mekanisme verifikasi untuk memastikan bahwa penyedia penyimpanan benar-benar menyimpan data dengan cara yang sesuai dan dapat diakses kapan pun dibutuhkan. 

Dengan pendekatan ini, Filecoin tidak hanya menyediakan sistem penyimpanan, tetapi juga membangun ekosistem ekonomi yang mendorong partisipasi aktif dari berbagai pihak dalam menjaga keberlangsungan dan keandalan jaringan. 

Arweave 

Arweave adalah protokol blockchain yang menawarkan konsep penyimpanan file secara permanen. Ini dikenal dengan istilah permaweb, yaitu jaringan data yang memungkinkan informasi disimpan untuk jangka waktu tak terbatas dan tidak dapat diubah. Hal ini menjadikan Arweave sangat berguna untuk menyimpan arsip penting, dokumen sejarah, publikasi ilmiah, hingga data yang berkaitan dengan hak asasi manusia. 

Pendekatan Arweave lebih fokus pada keberlangsungan data jangka panjang, sehingga cocok digunakan di sektor-sektor yang membutuhkan jaminan integritas data selama bertahun-tahun atau bahkan puluhan tahun. 

Keuntungan dan Tantangan Penyimpanan Terdesentralisasi 

Dengan kemajuan teknologi, sistem penyimpanan terdesentralisasi menawarkan berbagai keunggulan dibandingkan sistem tradisional. Namun, seperti teknologi lainnya, pendekatan ini juga memiliki tantangan yang perlu diperhatikan. 

Keuntungan 

Salah satu manfaat utama dari sistem ini adalah ketahanan terhadap sensor dan potensi pemadaman oleh entitas tertentu. Karena data tidak disimpan dalam satu titik pusat, tidak ada satu pihak pun yang memiliki kendali penuh untuk menghapus, mengubah, atau memblokir akses terhadap file yang tersimpan di jaringan. Hal ini memperkuat kebebasan informasi serta menjaga integritas data. 

Selain itu, aspek biaya juga dapat menjadi lebih efisien dalam jangka panjang. Beberapa platform memungkinkan pengguna untuk mendapatkan insentif jika menyediakan ruang penyimpanan. Ini membuka peluang kolaboratif di mana pengguna saling mendukung keberlangsungan sistem. 

Dari sisi keamanan, data yang telah dienkripsi dan disebarkan ke berbagai node akan jauh lebih sulit diretas secara keseluruhan. Meskipun satu node terganggu, sistem tetap dapat merakit file dari node lainnya. 

Tantangan 

Namun, teknologi ini juga memiliki hambatan, terutama terkait kompleksitas teknis dalam penggunaannya. Bagi pengguna pemula yang terbiasa dengan sistem penyimpanan terpusat, seperti Google Drive, proses penyimpanan dan pengambilan data melalui blockchain bisa terasa rumit. 

Selain itu, kecepatan akses file dapat bervariasi tergantung pada kondisi jaringan dan distribusi node. Sistem juga membutuhkan waktu untuk membangun kepercayaan dan stabilitas, terutama di jaringan baru yang belum memiliki cukup node aktif. 

Isu durabilitas data dalam jangka panjang juga masih menjadi tantangan, terutama jika tidak ada mekanisme insentif yang cukup kuat untuk menjaga ketersediaan file. Oleh karena itu, proyek seperti Filecoin dan Arweave terus mengembangkan mekanisme yang memastikan bahwa data tetap tersedia dan dapat diakses seiring berjalannya waktu. 

Penerapan Penyimpanan Terdesentralisasi di Dunia Nyata 

Dalam praktiknya, teknologi ini telah digunakan dalam berbagai sektor. Misalnya, dalam dunia NFT (Non-Fungible Token), metadata dan file visual seperti gambar, ilustrasi, dan video sering kali disimpan di IPFS untuk menjamin keaslian serta keamanannya. Penyimpanan terdesentralisasi mencegah manipulasi metadata yang dapat mengganggu nilai atau otentisitas aset digital. 

Lembaga akademik dan institusi penelitian juga mulai menjajaki solusi seperti Arweave untuk menyimpan dokumen penting dan hasil penelitian ilmiah secara permanen. Hal ini memungkinkan publikasi ilmiah tetap tersedia dan dapat diakses di masa depan oleh peneliti lain tanpa risiko kehilangan data. 

Selain itu, beberapa aplikasi terdesentralisasi (dApps) berbasis Web3 telah mengintegrasikan sistem ini sebagai fondasi dalam membangun layanan mereka, mulai dari platform media sosial, forum diskusi, hingga layanan berbagi file publik yang lebih transparan dan tidak bergantung pada otoritas pusat. 

Masa Depan Penyimpanan Terdesentralisasi 

Sahabat Floq, perkembangan teknologi penyimpanan terdesentralisasi merupakan bagian penting dari transformasi digital global. Dalam era di mana isu privasi, sensor, dan kepemilikan data semakin mendapatkan sorotan, solusi penyimpanan berbasis blockchain menghadirkan alternatif yang menjanjikan dari sisi keamanan dan distribusi. 

Teknologi seperti IPFS, Filecoin, dan Arweave diprediksi akan menjadi komponen fundamental dalam infrastruktur Web3. Dengan dukungan komunitas yang aktif, standar terbuka yang terus dikembangkan, serta integrasi teknologi seperti smart contract dan identitas digital, penyimpanan terdesentralisasi akan terus berevolusi untuk memenuhi kebutuhan era digital yang semakin kompleks. 

Meskipun masih ada tantangan yang harus dihadapi, langkah-langkah yang diambil oleh berbagai proyek blockchain menunjukkan komitmen untuk menjadikan sistem ini lebih inklusif, andal, dan berkelanjutan dalam jangka panjang. Kamu bisa mempelajari teknologi-teknologi kripto yang lain dalam materi artikel yang tersedia di Blog Floq. 

Disclaimer: Seluruh informasi yang disampaikan disusun oleh mitra industri dengan tujuan memberikan edukasi kepada pembaca. Kami menyarankan Anda untuk melakukan riset secara mandiri dan mempertimbangkan dengan matang sebelum melakukan transaksi.

Loading...
Blur 2

Belajar, Investasi, dan Tumbuh Bersama Kami

Jadilah bagian dari FLOQ. Mulai perjalanan investasimu dengan platform terpercaya dari hari pertama.

Google PlayApp Store
Blur 2Blur 2Device