JPMorgan Ungkap 3 Skenario Harga Bitcoin pada 2036, Bisa Tembus US$386.000?

Bitcoin

21 Oct 2026

4 menit

Ditulis oleh: Bianda Ludwianto

Pattern 1
Article

Harga Bitcoin (BTC) berpotensi mencapai US$386.000 pada 2036 dalam skenario bullish, menurut proyeksi jangka panjang JPMorgan Asset Management. Dalam skenario dasar, aset kripto terbesar di dunia tersebut diperkirakan menghasilkan imbal hasil tahunan sebesar 10%, sedangkan skenario bearish memperkirakan penurunan sebesar 11,2% per tahun.

Proyeksi tersebut tercantum dalam laporan 2027 Long-Term Capital Market Assumptions (LTCMA) JPMorgan Asset Management yang dirilis pada 20 Oktober 2026. Laporan ini menjadi sorotan karena untuk pertama kalinya JPMorgan menyertakan rentang proyeksi imbal hasil Bitcoin dalam kerangka asumsi pasar modal jangka panjangnya.

Mengacu pada harga acuan Bitcoin sebesar US$83.000 per 30 September 2026, perhitungan yang dikutip BeInCrypto menunjukkan tiga kemungkinan harga Bitcoin dalam sepuluh tahun mendatang.

Dalam skenario dasar atau base case, Bitcoin diproyeksikan memberikan imbal hasil tahunan sebesar 10%. Jika imbal hasil tersebut terakumulasi setiap tahun, harga Bitcoin berpotensi mencapai sekitar US$215.000 pada 2036.

Sementara itu, skenario bullish memperkirakan imbal hasil tahunan sebesar 16,6%. Dengan asumsi yang sama, harga Bitcoin berpotensi meningkat hingga sekitar US$386.000.

Sebaliknya, skenario bearish memperkirakan imbal hasil tahunan negatif sebesar 11,2%. Jika penurunan tersebut berlangsung secara konsisten selama sepuluh tahun, harga Bitcoin berpotensi turun ke kisaran US$25.000.

Ketiga angka tersebut merupakan ilustrasi berdasarkan asumsi imbal hasil tahunan majemuk, bukan target harga resmi yang dijamin akan tercapai. Kinerja aktual Bitcoin tetap bergantung pada kondisi pasar, likuiditas, regulasi, dan tingkat adopsi aset digital.

JPMorgan Nilai Bitcoin Berpotensi Ungguli Saham dan Emas

Dalam skenario dasarnya, JPMorgan memperkirakan Bitcoin dapat mengungguli sejumlah aset investasi konvensional dalam hal imbal hasil tahunan selama satu dekade ke depan.

JPMorgan memproyeksikan saham perusahaan berkapitalisasi besar di Amerika Serikat menghasilkan imbal hasil tahunan sebesar 7,5%, sedangkan emas diperkirakan memberikan imbal hasil sebesar 5,5%. Angka tersebut berada di bawah proyeksi dasar Bitcoin sebesar 10% per tahun.

Sebagai ilustrasi, investasi sebesar US$10.000 pada Bitcoin dengan asumsi imbal hasil tahunan 10% dapat berkembang menjadi hampir US$26.000 dalam sepuluh tahun. Perhitungan ini belum memperhitungkan biaya transaksi, pajak, maupun perubahan kondisi pasar yang dapat memengaruhi hasil investasi.

Meski demikian, JPMorgan belum memasukkan Bitcoin ke dalam model risiko utamanya. Bank investasi tersebut masih memandang proyeksi imbal hasil Bitcoin dalam jangka panjang sebagai sesuatu yang perlu diperlakukan secara hati-hati.

Analis JPMorgan menjelaskan bahwa Bitcoin umumnya bergerak seperti aset berisiko tinggi yang sensitif terhadap pertumbuhan suplai uang global. Namun, dalam kondisi tertentu, Bitcoin juga diperlakukan oleh investor sebagai emas digital.

Perubahan korelasi Bitcoin dengan aset lain menjadi salah satu tantangan dalam menyusun proyeksi. Selain itu, Bitcoin tidak menghasilkan arus kas seperti saham atau obligasi, sehingga penilaiannya lebih banyak dipengaruhi oleh faktor adopsi, regulasi, likuiditas, dan perkembangan teknologi.

JPMorgan juga mencatat volatilitas historis Bitcoin berada di kisaran 55%, atau sekitar tiga kali tingkat volatilitas saham dan emas dalam perbandingan yang digunakan laporan tersebut. Kondisi ini menjadi salah satu alasan Bitcoin masih ditempatkan dalam tabel ilustratif terpisah.

Emas Tetap Jadi Lindung Nilai, Adopsi Bitcoin Jadi Tantangan

Dalam laporan tersebut, JPMorgan menggunakan tiga pendekatan untuk memperkirakan potensi imbal hasil Bitcoin.

Pendekatan terbesar, dengan bobot 65%, membandingkan pertumbuhan suplai Bitcoin dengan dolar AS dan suplai uang global. Kerangka ini menghasilkan proyeksi imbal hasil tahunan sebesar 10,7% dalam skenario dasar.

Pendekatan kedua, dengan bobot 30%, menempatkan Bitcoin sebagai pelengkap emas dalam portofolio. Skenario dasarnya juga memperkirakan imbal hasil tahunan sebesar 10,7%, dengan asumsi sebagian investor mengalihkan eksposur emas mereka ke Bitcoin.

Dalam skenario bullish pendekatan ini, Bitcoin diasumsikan mulai masuk ke dalam cadangan bank sentral. Kondisi tersebut menghasilkan proyeksi imbal hasil tahunan sebesar 17,3%, tertinggi di antara skenario dalam kerangka tersebut.

Sementara itu, pendekatan ketiga, dengan bobot 5%, berfokus pada adopsi jaringan Bitcoin. Kerangka ini justru menghasilkan proyeksi imbal hasil tahunan negatif sebesar 3,2% dalam skenario dasar.

Di sisi lain, JPMorgan tetap memperkirakan emas memberikan imbal hasil tahunan sebesar 5,5% dan mempertahankan pandangan bahwa logam mulia tersebut berperan penting sebagai aset lindung nilai. Laporan itu juga menyoroti kecenderungan pengelola cadangan untuk meningkatkan kepemilikan emas dan aset keras lainnya.

JPMorgan mengukur korelasi Bitcoin dan emas hanya sebesar 0,10. Angka tersebut menunjukkan hubungan pergerakan harga yang relatif rendah dalam pengukuran yang digunakan, sehingga keduanya berpotensi memiliki fungsi berbeda dalam suatu portofolio.

Investor Perlu Mempertimbangkan Risiko Jangka Panjang

Minat investor terhadap aset digital turut menjadi bagian dari konteks proyeksi tersebut. Laporan 2026 Global Family Office Report dari JPMorgan Private Bank mencatat sekitar sepersepuluh responden yang disurvei telah memiliki aset kripto. Selain itu, sebanyak 17% responden berencana memprioritaskan kripto dan aset digital lainnya.

Meski demikian, proyeksi imbal hasil yang lebih tinggi tidak otomatis menjadikan Bitcoin pilihan investasi dengan risiko lebih rendah. Volatilitas yang tinggi dapat menghasilkan perubahan harga yang signifikan, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang.

JPMorgan menilai peran Bitcoin dalam portofolio investasi berpotensi meningkat apabila volatilitasnya menurun dan korelasinya dengan aset lain menjadi lebih stabil. Sampai kondisi tersebut tercapai, investor disarankan menguji ketahanan portofolio terhadap berbagai skenario, termasuk kemungkinan kenaikan maupun penurunan harga yang tajam.

Dengan demikian, proyeksi JPMorgan memberikan gambaran mengenai sejumlah kemungkinan perkembangan Bitcoin hingga 2036, bukan kepastian arah harga. Perbedaan hasil antara skenario bullish, dasar, dan bearish juga memperlihatkan besarnya ketidakpastian yang masih menyertai prospek Bitcoin dalam jangka panjang.

Bagi investor yang ingin memantau pergerakan dan trading Bitcoin, maupun aset kripto lainnya secara real-time, aplikasi FLOQ menyediakan data harga, grafik, serta berbagai aset digital yang dapat dipantau kapan saja. Selain itu, kamu juga dapat belajar lebih dalam mengenai aset kripto lainnya melalui FLOQ Academy agar dapat mengambil keputusan investasi yang lebih bijak.

Download aplikasi FLOQ di Play Store atau App Store. FLOQ merupakan aplikasi aset digital yang telah berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Dapatkan informasi pasar, edukasi crypto, serta akses trading aset digital dalam satu aplikasi.

Baca juga: OJK Usulkan Pajak Kripto Turun, Soroti Peluang Pertumbuhan Transaksi

Disclaimer: Seluruh informasi yang disampaikan disusun oleh mitra industri dengan tujuan memberikan edukasi kepada pembaca. Kami menyarankan Anda untuk melakukan riset secara mandiri dan mempertimbangkan dengan matang sebelum melakukan transaksi.

Loading...
Blur 2

Belajar, Investasi, dan Tumbuh Bersama Kami

Jadilah bagian dari FLOQ. Mulai perjalanan investasimu dengan platform terpercaya dari hari pertama.

Google PlayApp Store
Blur 2Blur 2Device