JPMorgan Asset Management memperkirakan Bitcoin berpotensi memberikan imbal hasil jangka panjang lebih tinggi dibandingkan saham Amerika Serikat (AS), emas, dan real estat. Dalam laporan 2027 Long-Term Capital Market Assumptions yang dirilis pada 20 Oktober 2026, perusahaan manajemen aset tersebut memproyeksikan imbal hasil tahunan majemuk Bitcoin sebesar 10% dalam periode 10–15 tahun mendatang.
Dikutip Coinpedia, proyeksi ini menjadi perhatian karena Bitcoin untuk pertama kalinya masuk dalam perkiraan imbal hasil jangka panjang JPMorgan selama 31 tahun sejarah laporan tersebut. Meski demikian, potensi imbal hasil yang lebih tinggi juga disertai risiko fluktuasi harga yang jauh lebih besar dibandingkan aset tradisional.

Berdasarkan laporan tersebut, JPMorgan memperkirakan Bitcoin memiliki imbal hasil aritmetika sebesar 20,9%, dengan volatilitas tahunan mencapai 55%. Sebagai perbandingan, saham perusahaan berkapitalisasi besar di AS diproyeksikan menghasilkan imbal hasil tahunan sebesar 7,5%, sedangkan emas diperkirakan memberikan 5,5%.
Sementara itu, real estate investment trusts (REITs) di AS diproyeksikan menghasilkan imbal hasil tahunan sebesar 8,2%. Angka tersebut masih berada di bawah proyeksi imbal hasil tahunan majemuk Bitcoin sebesar 10%.
Perbedaan proyeksi tersebut menunjukkan bahwa JPMorgan melihat potensi pertumbuhan Bitcoin dalam jangka panjang. Namun, angka-angka ini merupakan estimasi berdasarkan asumsi pasar, bukan jaminan bahwa Bitcoin akan memberikan imbal hasil sesuai proyeksi.
Volatilitas Bitcoin Masih Menjadi Risiko Utama
JPMorgan Sees Bitcoin Outperforming U.S. Stocks and Gold Over Next Decade
— Wu Blockchain (@WuBlockchain) October 20, 2026
J.P. Morgan Asset Management, the investment arm of U.S. banking giant JPMorgan Chase, included Bitcoin in its long-term return forecasts for the first time, projecting a 10% compound annual return over… pic.twitter.com/CMlF2xAgb3
Di balik potensi imbal hasilnya, Bitcoin tetap memiliki tingkat volatilitas yang tinggi. JPMorgan memperkirakan volatilitas tahunan Bitcoin mencapai 55%, jauh di atas emas yang berada di kisaran 17,2%.
Volatilitas tersebut mencerminkan potensi perubahan harga yang lebih tajam, baik ketika pasar bergerak naik maupun saat mengalami koreksi. Kondisi ini membuat kinerja Bitcoin dalam jangka pendek dapat berbeda jauh dari ekspektasi imbal hasil jangka panjang.
Pergerakan harga Bitcoin dalam beberapa tahun terakhir juga memperlihatkan karakteristik tersebut. Pada 2024, Bitcoin menembus level USD100.000 untuk pertama kalinya dan mencapai sekitar USD106.142. Pada 2025, aset kripto terbesar berdasarkan kapitalisasi pasar itu kembali mencetak rekor di kisaran USD126.223 sebelum terkoreksi ke sekitar USD80.600.
Memasuki 2026, Bitcoin sempat naik ke kisaran USD97.962 sebelum kembali melemah ke sekitar USD81.570, berdasarkan data historis yang dikutip dalam laporan tersebut.
Pergerakan ini memperlihatkan bahwa potensi keuntungan Bitcoin perlu dipertimbangkan bersama risiko penurunan harga yang signifikan. Karena itu, proyeksi imbal hasil jangka panjang tidak dapat dijadikan satu-satunya dasar dalam mengambil keputusan investasi.
Bitcoin Belum Masuk Model Portofolio Standar JPMorgan
Meski memasukkan Bitcoin dalam proyeksi imbal hasil jangka panjang, JPMorgan belum memasukkan aset tersebut ke dalam alokasi portofolio standar yang digunakan sebagai contoh dalam laporannya.
Dengan demikian, proyeksi imbal hasil 10% per tahun tidak serta-merta berarti JPMorgan merekomendasikan seluruh investor untuk menambahkan Bitcoin ke dalam portofolio mereka. Keputusan alokasi aset tetap perlu mempertimbangkan profil risiko, tujuan investasi, serta jangka waktu investasi masing-masing.
Perkembangan ini juga menarik perhatian mengingat CEO JPMorgan, Jamie Dimon, sebelumnya dikenal kerap menyampaikan kritik terhadap Bitcoin. Pada 2017, Dimon menyebut Bitcoin sebagai penipuan, sebelum kemudian menyatakan penyesalan atas pernyataan tersebut. Pada 2024, ia membandingkan Bitcoin dengan batu peliharaan (pet rock), tetapi juga menegaskan dukungannya terhadap hak individu untuk membeli aset tersebut.
Pada 2025, JPMorgan menyatakan akan mengizinkan nasabahnya membeli Bitcoin, meskipun bank tersebut tidak akan menyimpan aset itu untuk nasabah.
Sementara itu, Matt Hougan, Chief Investment Officer Bitwise, turut menyoroti proyeksi terbaru JPMorgan. Ia menekankan bahwa estimasi imbal hasil tahunan majemuk Bitcoin sebesar 10% berada di atas proyeksi saham AS dan emas.
Secara keseluruhan, masuknya Bitcoin dalam proyeksi jangka panjang JPMorgan menunjukkan bahwa aset kripto tersebut semakin diperhitungkan dalam analisis pasar modal. Namun, tingginya volatilitas dan belum dimasukkannya Bitcoin ke dalam model portofolio standar bank tersebut menegaskan bahwa potensi imbal hasil perlu dinilai secara seimbang dengan risiko investasinya.
Bagi investor yang ingin memantau pergerakan dan trading Bitcoin, maupun aset kripto lainnya secara real-time, aplikasi FLOQ menyediakan data harga, grafik, serta berbagai aset digital yang dapat dipantau kapan saja. Selain itu, kamu juga dapat belajar lebih dalam mengenai aset kripto lainnya melalui FLOQ Academy agar dapat mengambil keputusan investasi yang lebih bijak.
Download aplikasi FLOQ di Play Store atau App Store. FLOQ merupakan aplikasi aset digital yang telah berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Dapatkan informasi pasar, edukasi crypto, serta akses trading aset digital dalam satu aplikasi.
Baca juga: IHSG Rebound, Bitcoin Terkoreksi, Soroti Dinamika Pasar Saham dan Kripto



