Harga Bitcoin Hari Ini di US$81.915, Waspada Gelombang Likuidasi Ketiga!

Bitcoin

20 Oct 2026

4 menit

Ditulis oleh: Bianda Ludwianto

Pattern 1
Article

Harga Bitcoin hari ini bergerak di kisaran US$81.915 pada Selasa (20/10/2026), di tengah risiko gelombang likuidasi ketiga sepanjang Oktober. Meski arus keluar dana dari exchange-traded fund (ETF) Bitcoin spot Amerika Serikat mulai melambat, peningkatan posisi leverage di pasar derivatif membuat pergerakan BTC masih rentan terhadap tekanan jual.

Berdasarkan data pasar terbaru, Bitcoin (BTC) diperdagangkan di level US$81.915,81, naik 0,59% dalam 24 jam. Kapitalisasi pasar Bitcoin tercatat sekitar US$1,64 triliun, dengan volume perdagangan harian mencapai US$24,3 miliar.

Namun, kenaikan harga tersebut belum cukup untuk mengonfirmasi pemulihan tren. Analis Bitfinex memperingatkan bahwa posisi leverage yang kembali meningkat di tengah pelemahan harga dapat memicu likuidasi paksa apabila Bitcoin menembus level support penting.

Bitcoin Terancam Likuidasi Jika Turun di Bawah US$79.821

Dalam analisis pasar yang dikutip crypto.news pada Selasa (20/10/2026), analis Bitfinex menyoroti peningkatan open interest kontrak berjangka Bitcoin sebesar 4,3% pada periode 12–15 Oktober, meskipun harga BTC mengalami penurunan.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa eksposur pelaku pasar terhadap posisi derivatif kembali meningkat ketika harga belum menunjukkan pemulihan yang kuat. Jika pergerakan harga berlawanan dengan posisi yang diambil trader, tekanan dapat membesar akibat penutupan posisi secara paksa.

Bitfinex menempatkan US$79.821 sebagai level penting yang berpotensi memicu gelombang likuidasi berikutnya. Apabila Bitcoin menembus level tersebut, tekanan jual dapat berlanjut menuju rentang akumulasi US$77.600–US$80.400.

Sementara itu, level US$81.300 diperkirakan menjadi area tengah rentang perdagangan mingguan. Untuk skenario pemulihan, Bitcoin perlu kembali menembus US$84.400. Menurut Bitfinex, level tersebut juga penting karena dapat membawa rata-rata investor ETF Bitcoin kembali ke posisi impas.

Risiko koreksi turut dipengaruhi hubungan Bitcoin dengan pasar saham teknologi Amerika Serikat. Bitfinex mencatat korelasi Bitcoin dengan indeks Nasdaq-100 mencapai 0,78 dalam periode 20 hari. Dengan demikian, pelemahan saham teknologi berpotensi menambah tekanan terhadap BTC.

Arus Keluar ETF Bitcoin Melambat, tetapi Belum Berbalik Positif

Di sisi lain, tekanan dari investor institusional menunjukkan tanda-tanda mereda. Data Farside Investors mencatat ETF Bitcoin spot Amerika Serikat mengalami arus keluar bersih sebesar US$228,4 juta pada periode 12–16 Oktober 2026.

Angka tersebut turun 66,4% dibandingkan arus keluar sebesar US$678,9 juta pada pekan sebelumnya, yakni 5–9 Oktober 2026.

Meski demikian, perlambatan arus keluar belum berarti permintaan institusional telah pulih sepenuhnya. Arus dana masuk pada Selasa sebesar US$175,7 juta dan Kamis sebesar US$5,1 juta belum mampu mengimbangi penarikan dana pada tiga hari perdagangan lainnya. Arus keluar terbesar terjadi pada Rabu, mencapai US$261,4 juta.

Analis Bitfinex juga memperkirakan permintaan bersih Bitcoin selama 30 hari terakhir masih berada di sekitar minus 50.000 BTC. Angka tersebut mengindikasikan bahwa estimasi permintaan masih berada di bawah pasokan yang tersedia dalam periode pengamatan.

Jeff Ko, kepala analis ViaBTC, menilai penurunan arus keluar ETF dapat menjadi indikasi awal meredanya tekanan jual. Namun, kondisi tersebut belum cukup untuk memastikan bahwa Bitcoin akan memasuki tren kenaikan baru.

Sementara itu, Tim Sun, peneliti senior HashKey Group, menilai pelemahan aktivitas pembelian dengan leverage dan belum kuatnya alokasi dana jangka panjang menjadi faktor yang menghambat kenaikan Bitcoin.

Menurutnya, pasar berpotensi bergerak dalam rentang terbatas hingga kondisi keuangan membaik dan permintaan baru kembali meningkat.

Ketidakpastian Suku Bunga AS Membayangi Pergerakan BTC

Prospek Bitcoin juga dipengaruhi ketidakpastian arah kebijakan moneter Amerika Serikat. Tim Sun menilai keputusan suku bunga Federal Reserve (The Fed) dapat menjadi salah satu faktor yang memengaruhi volatilitas pasar kripto dalam beberapa waktu ke depan.

Pemulihan permintaan ETF Bitcoin, menurutnya, akan lebih terbantu apabila suku bunga riil dan biaya pendanaan menurun. Selain itu, peningkatan alokasi dari pengelola aset jangka panjang dan penasihat investasi juga dibutuhkan untuk menopang kenaikan yang lebih berkelanjutan.

Di tengah kondisi tersebut, Bitcoin masih menghadapi dua skenario utama. Jika mampu bertahan di atas area US$80.000 dan kembali menembus US$84.400, peluang pemulihan harga dapat terbuka. Sebaliknya, penurunan di bawah US$79.821 berpotensi meningkatkan risiko likuidasi dan membawa BTC menguji area US$77.600–US$80.400.

Dengan harga yang masih bergerak di sekitar US$81.915, pelaku pasar perlu mencermati perkembangan arus dana ETF, posisi leverage di pasar derivatif, serta sentimen makroekonomi Amerika Serikat.

Perlambatan arus keluar ETF menjadi sinyal yang relatif positif, tetapi belum cukup untuk menghapus risiko koreksi. Selama permintaan baru belum menguat dan posisi leverage terus bertambah, pergerakan Bitcoin masih berpotensi mengalami volatilitas tinggi.

Download aplikasi FLOQ di Play Store atau App Store. FLOQ merupakan aplikasi aset digital yang telah berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Dapatkan informasi pasar, edukasi crypto, serta akses trading aset digital dalam satu aplikasi.

Baca juga: FLOQ Circle x Filbert Hadir 22 Oktober, Bahas Strategi Trading dan Peluang Aset Tokenisasi

Disclaimer: Seluruh informasi yang disampaikan disusun oleh mitra industri dengan tujuan memberikan edukasi kepada pembaca. Kami menyarankan Anda untuk melakukan riset secara mandiri dan mempertimbangkan dengan matang sebelum melakukan transaksi.

Loading...
Blur 2

Belajar, Investasi, dan Tumbuh Bersama Kami

Jadilah bagian dari FLOQ. Mulai perjalanan investasimu dengan platform terpercaya dari hari pertama.

Google PlayApp Store
Blur 2Blur 2Device