Harga Bitcoin (BTC) hari ini, Kamis (15/10) kembali tertekan setelah data inflasi Amerika Serikat (AS) yang lebih tinggi dari perkiraan memicu kekhawatiran terhadap arah kebijakan suku bunga The Fed.
BTC turun di bawah US$82.000, membuat level psikologis US$80.000 menjadi perhatian utama pelaku pasar pada perdagangan Kamis (15/10).
Berdasarkan data CoinMarketCap pada pasangan BTC/USDT Binance, Bitcoin diperdagangkan di sekitar US$81.130 pada 15 Oktober, melemah 1,61% dari harga pembukaan harian US$83.169. BTC sempat menyentuh level tertinggi US$84.146 sebelum kembali turun mendekati level terendah harian US$81.588.
Pada timeframe mingguan, Bitcoin juga tercatat melemah 2,22% dari level pembukaan mingguan. Pergerakan ini menunjukkan bahwa BTC masih kesulitan mempertahankan posisinya di atas US$84.000 setelah mengalami penolakan di area tersebut.
Inflasi AS Memanas, Tekanan terhadap Bitcoin Meningkat
BREAKING: 🇺🇸 US CPI came in at 3.7%
— Bull Theory (@BullTheoryio) October 14, 2026
Expectations: 3.6%
Highest level in 4 months. pic.twitter.com/4tMQMl8Zal
Salah satu faktor utama yang membebani harga Bitcoin adalah laporan inflasi terbaru AS. Biro Statistik Tenaga Kerja AS (BLS) melaporkan inflasi tahunan mencapai 3,7% pada September 2026, lebih tinggi dibandingkan perkiraan ekonom sebesar 3,6% dan naik dari 3,4% pada Agustus.
Secara bulanan, indeks harga konsumen (CPI) meningkat 0,6%, dibandingkan kenaikan 0,4% pada bulan sebelumnya. Sementara itu, inflasi inti yang tidak memasukkan komponen makanan dan energi tercatat sebesar 2,6% secara tahunan dan 0,3% secara bulanan.
Kenaikan harga bensin sebesar 9,1% menjadi salah satu pendorong utama inflasi bulanan. Komponen tersebut menyumbang lebih dari separuh kenaikan CPI pada September.
Data inflasi yang lebih tinggi dari perkiraan meningkatkan kekhawatiran bahwa The Fed akan mempertahankan kebijakan moneter ketat lebih lama atau kembali menaikkan suku bunga. Setelah laporan dirilis, probabilitas kenaikan suku bunga pada pertemuan Oktober berdasarkan CME FedWatch dilaporkan meningkat ke kisaran 44%–49%, dari sekitar 22% sebelumnya.
Ekspektasi suku bunga yang lebih tinggi berpotensi memberikan tekanan terhadap aset berisiko, termasuk Bitcoin. Kondisi tersebut juga dapat meningkatkan daya tarik dolar AS dan instrumen pendapatan tetap, sehingga mengurangi minat investor terhadap aset yang memiliki volatilitas tinggi.
Dengan demikian, pergerakan Bitcoin dalam waktu dekat tidak hanya akan dipengaruhi oleh kondisi teknikal, tetapi juga perkembangan inflasi AS dan ekspektasi pasar terhadap kebijakan The Fed.
Analisis Harga Bitcoin Hari Ini: US$80.000 Jadi Level Kunci

Dari sisi teknikal, Bitcoin menghadapi tekanan setelah gagal mempertahankan momentum kenaikan di atas US$84.000. Meski demikian, indikator Supertrend pada grafik harian masih berada di bawah harga BTC, tepatnya di US$79.663,52.
Dengan harga Bitcoin di sekitar US$81.130, BTC masih berada sekitar 2,7% di atas garis Supertrend tersebut. Posisi ini menunjukkan bahwa indikator tersebut belum mengonfirmasi penembusan ke bawah level support yang ditunjukkannya.
Namun, indikator Aroon memberikan sinyal yang lebih berhati-hati. Aroon Down tercatat sebesar 57,14%, sedangkan Aroon Up berada di 14,29%. Selisih tersebut mengindikasikan bahwa titik terendah terbaru lebih dekat dibandingkan titik tertinggi dalam periode pengukuran, sehingga tekanan bearish masih perlu diperhatikan.
Dalam jangka pendek, area US$81.000 menjadi salah satu level yang dicermati. Jika tekanan jual berlanjut dan Bitcoin menembus level tersebut, harga berpotensi bergerak menuju US$80.300.

Level US$80.000 menjadi batas psikologis penting yang dapat menentukan arah pergerakan selanjutnya. Jika BTC mampu bertahan di atas area ini, peluang konsolidasi atau pemulihan harga masih terbuka. Sebaliknya, penembusan yang kuat ke bawah US$80.000 berpotensi memperbesar tekanan jual.
Trader Lennart Snyder sebelumnya mengidentifikasi US$81.400 dan US$80.300 sebagai target penurunan awal dalam skenario perdagangan bearish-nya. Ia juga menilai bahwa peluang untuk mengambil posisi beli akan lebih menarik apabila Bitcoin mampu menembus US$84.000 dengan momentum kuat atau mengalami penurunan di bawah US$80.000 sebelum menunjukkan peluang pemulihan yang lebih meyakinkan.
Dalam skenario bearish lanjutan, Snyder menetapkan area US$77.000 sebagai target penurunan berikutnya jika Bitcoin kehilangan support US$80.000.
Resistance US$84.000 Masih Membatasi Pemulihan BTC

Di sisi atas, area US$84.000 masih menjadi resistance penting yang perlu ditembus Bitcoin untuk memperbaiki momentum jangka pendek. Level tersebut sebelumnya menjadi area penolakan harga dan kembali membatasi upaya BTC untuk melanjutkan kenaikan.
Data likuidasi dari CoinGlass juga menunjukkan konsentrasi likuidasi potensial di sekitar US$84.400–US$84.700. Area ini berada di atas resistance US$84.000 dan berpotensi menjadi wilayah penting apabila Bitcoin berhasil memulihkan harga.
Sementara itu, konsentrasi likuidasi di sisi bawah terlihat di sekitar US$81.500, US$81.000, US$80.300–US$80.500, serta US$79.700–US$80.000. Area-area tersebut perlu diperhatikan karena pergerakan harga yang cepat dapat meningkatkan risiko likuidasi posisi leverage.
Pada grafik mingguan, indikator Murrey Math menempatkan US$75.000 sebagai level pivot kuat, sedangkan US$87.500 menjadi batas bawah dari rentang perdagangan yang ditandai indikator tersebut. Kedua level ini memberikan gambaran area yang lebih luas untuk memantau pergerakan Bitcoin, meskipun bukan jaminan bahwa harga akan bergerak menuju salah satunya.
Dengan demikian, Bitcoin saat ini menghadapi dua skenario utama. Pemulihan di atas US$84.000 dapat membantu memperbaiki momentum bullish, sedangkan penembusan support US$80.000 berpotensi membuka ruang penurunan menuju US$77.000.
Prospek Harga Bitcoin: Mampukah BTC Bertahan di Atas US$80.000?

Prospek harga Bitcoin pada 15 Oktober 2026 masih dibayangi ketidakpastian makroekonomi dan tekanan teknikal. Inflasi AS yang lebih tinggi dari perkiraan meningkatkan perhatian pasar terhadap kemungkinan kebijakan moneter yang lebih ketat, sementara indikator Aroon menunjukkan tekanan jual masih dominan dalam periode pengukuran terakhir.
Meski demikian, Supertrend harian yang masih berada di bawah harga BTC menunjukkan bahwa level tersebut belum ditembus. Karena itu, konfirmasi arah berikutnya akan bergantung pada respons harga di sekitar US$81.400 dan US$80.000, serta kemampuan BTC merebut kembali area US$84.000.
Investor dan trader perlu mencermati rilis data ekonomi AS berikutnya, perubahan ekspektasi suku bunga The Fed, serta pergerakan harga di level support dan resistance utama. Volatilitas juga berpotensi meningkat di sekitar area konsentrasi likuidasi.
Jika Bitcoin mampu mempertahankan support US$80.000, peluang stabilisasi harga masih terbuka. Namun, jika level tersebut ditembus secara meyakinkan, risiko koreksi lanjutan menuju US$77.000 perlu diantisipasi. Sebaliknya, kenaikan yang kuat di atas US$84.000 dapat menjadi sinyal awal perbaikan momentum, meskipun konfirmasi lanjutan tetap diperlukan.
Analisis ini merupakan gambaran kondisi pasar berdasarkan data dan indikator yang tersedia, bukan kepastian arah harga maupun rekomendasi investasi.
Bagi investor yang ingin memantau pergerakan dan trading Bitcoin, maupun aset kripto lainnya secara real-time, aplikasi FLOQ menyediakan data harga, grafik, serta berbagai aset digital yang dapat dipantau kapan saja. Selain itu, kamu juga dapat belajar lebih dalam mengenai aset kripto lainnya melalui FLOQ Academy agar dapat mengambil keputusan investasi yang lebih bijak.
Download aplikasi FLOQ di Play Store atau App Store. FLOQ merupakan aplikasi aset digital yang telah berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Dapatkan informasi pasar, edukasi crypto, serta akses trading aset digital dalam satu aplikasi.
Baca juga: Sinyal Kripto Minggu Ini: TIA hingga ONDO Punya Target Kenaikan Menarik



