Harga Bitcoin kembali berada di bawah tekanan pada perdagangan hari ini, Rabu (7/10/2026). Bitcoin terpantau turun 1,73% dalam 24 jam ke level US$84.115,51, setelah aksi jual tajam memicu gelombang likuidasi posisi long berleverage di pasar derivatif.
Tekanan tersebut membuat Bitcoin bergerak lebih lemah dibandingkan pasar kripto secara keseluruhan. Penurunan juga terjadi di tengah sentimen risk-off di pasar global, termasuk pergeseran aliran modal ke saham berbasis artificial intelligence (AI) dan berkurangnya ekspektasi terhadap pemangkasan suku bunga Federal Reserve dalam waktu dekat.
Analisa Harga Bitcoin Hari Ini: Likuidasi US$400 Juta Jadi Pemicu Utama

Mennurut laporan CoinMarketCap, salah satu faktor utama yang menekan harga Bitcoin adalah aksi likuidasi posisi long dalam jumlah besar.
Pada 6 Oktober, Bitcoin sempat turun lebih dari US$1.700 hanya dalam waktu sekitar 20 menit. Pergerakan tajam tersebut memicu likuidasi posisi long berleverage senilai sekitar US$394 juta dalam kurun waktu satu jam.
Likuidasi otomatis membuat posisi yang terkena margin call ditutup, sehingga menghasilkan tambahan tekanan jual di pasar. Kondisi ini kemudian mempercepat penurunan harga Bitcoin.
Fenomena tersebut menunjukkan bahwa posisi bullish di pasar sebelumnya relatif padat. Ketika harga mulai turun, penutupan posisi berleverage secara berantai memperbesar volatilitas.
Meski aksi likuidasi tersebut berpotensi membersihkan sebagian posisi spekulatif, tingginya open interest menunjukkan bahwa leverage masih cukup besar di pasar. Karena itu, lonjakan volume derivatif yang kembali disertai penurunan harga perlu diwaspadai sebagai potensi pemicu gelombang likuidasi berikutnya.
Bitcoin Ikut Tertekan Sentimen Makro
Selain faktor internal pasar kripto, pelemahan Bitcoin juga terjadi di tengah perubahan sentimen pada aset berisiko.
Modal investor mulai berotasi menuju saham-saham yang berkaitan dengan sektor AI, sementara data tenaga kerja yang relatif kuat membuat ekspektasi pemangkasan suku bunga Federal Reserve dalam waktu dekat ikut mereda.
Kondisi tersebut menjadi tekanan tambahan bagi Bitcoin yang saat ini masih sensitif terhadap perubahan likuiditas dan sentimen makro.
Korelasi Bitcoin dengan Russell 2000 ETF (IWM) tercatat sekitar 0,79, menunjukkan hubungan yang cukup kuat antara pergerakan Bitcoin dengan sentimen terhadap aset berisiko.
Dari sisi teknikal, Bitcoin juga telah bergerak di bawah rata-rata pergerakan sederhana (SMA) 7 hari dan 30 hari. Sementara itu, indikator Relative Strength Index (RSI) 14 berada di sekitar 29,45, yang menunjukkan kondisi oversold.
Kondisi oversold membuka peluang terjadinya technical rebound, tetapi belum cukup untuk mengonfirmasi perubahan tren selama Bitcoin masih berada di bawah level resistance penting.
Level US$84.000 Jadi Penentu Harga Bitcoin Hari Ini

Dalam jangka pendek, area US$84.000–US$84.252 menjadi zona support penting yang perlu diperhatikan investor.
Level US$84.252 merupakan area retracement Fibonacci 78,6%. Apabila Bitcoin mampu bertahan di atas level tersebut, peluang terjadinya pemulihan menuju resistance sekitar US$85.130 masih terbuka.
Sebaliknya, apabila Bitcoin kehilangan area US$84.000 secara meyakinkan, tekanan jual berpotensi kembali meningkat. Dalam skenario tersebut, harga Bitcoin berisiko bergerak menuju area psikologis US$80.000.
Dengan demikian, bias jangka pendek Bitcoin saat ini cenderung netral hingga bearish selama harga belum berhasil kembali menembus US$85.130.
CPI AS Jadi Katalis Berikutnya
Pasar kini juga mulai mengalihkan perhatian kepada data ekonomi Amerika Serikat berikutnya, terutama laporan Consumer Price Index (CPI) yang dijadwalkan menjadi salah satu katalis makro penting pada 14 Oktober.
Data inflasi tersebut dapat memberikan petunjuk mengenai arah kebijakan moneter Federal Reserve dan berpotensi memengaruhi pergerakan aset berisiko, termasuk Bitcoin.
Jika inflasi kembali menunjukkan tekanan yang lebih tinggi, ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter dapat semakin berkurang dan memberikan tekanan tambahan terhadap Bitcoin. Sebaliknya, data inflasi yang lebih rendah berpotensi memperbaiki sentimen terhadap aset berisiko.
Untuk saat ini, perhatian utama pasar berada pada kemampuan Bitcoin mempertahankan zona US$84.000–US$84.252. Bertahan di atas area tersebut dapat membuka ruang untuk rebound menuju US$85.130, sementara penembusan ke bawah berisiko membawa Bitcoin menguji kembali area US$80.000.
Bagi investor yang ingin memantau pergerakan dan trading Bitcoin, maupun aset kripto lainnya secara real-time, aplikasi FLOQ menyediakan data harga, grafik, serta berbagai aset digital yang dapat dipantau kapan saja. Selain itu, kamu juga dapat belajar lebih dalam mengenai aset kripto lainnya melalui FLOQ Academy agar dapat mengambil keputusan investasi yang lebih bijak.
Download aplikasi FLOQ di Play Store atau App Store. FLOQ merupakan aplikasi aset digital yang telah berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Dapatkan informasi pasar, edukasi crypto, serta akses trading aset digital dalam satu aplikasi.
Baca juga: TOKEN2049 Singapore 2026 Digelar, Hadirkan 25.000 Pelaku Industri Kripto dari 160 Negara



