Reksadana vs Aset Kripto: Apa Perbedaan Utamanya?

Investasi

12 Nov 2025

5 menit

Ditulis oleh: Super FLOQ

Pattern 1
Article

Hi Sahabat Floq, dalam dunia finansial modern yang semakin berkembang, terdapat berbagai pilihan instrumen yang bisa digunakan untuk menyimpan atau mengembangkan dana. Di antara berbagai pilihan aset investasi tersebut, reksadana sebagai instrumen investasi tradisional dan aset kripto sebagai instrumen investasi digital sering menjadi perbandingan yang menarik. Meskipun keduanya sama-sama digunakan dalam strategi pengelolaan portfolio dan keuangan, pendekatan, risiko, serta teknologi yang mendasarinya sangat berbeda.

Bagi para pemula atau investor yang masih mengevaluasi preferensi dan strategi masing-masing, memahami perbedaan fundamental antara reksadana dan kripto merupakan langkah awal yang sangat penting dalam menentukan keputusan investasi yang bijak. Artikel ini akan mengulas aspek-aspek utama dari keduanya dengan bahasa yang mudah dipahami namun tetap objektif.

Key Takeaways

  • Reksadana adalah instrumen investasi tradisional yang didasarkan pada kumpulan dana investor yang dikelola manajer investasi profesional, sedangkan Kripto adalah mata uang digital terdesentralisasi yang dijalankan oleh teknologi blockchain.
  • Reksadana relatif stabil karena diversifikasi ke berbagai underlying aset (seperti saham, deposito, surat utang). Kripto sangat volatil (High risk high return), menuntut kesiapan untuk cut loss dan risiko rugpull atau scam.
  • Reksadana diawasi ketat oleh OJK, menjamin kerangka hukum. Kripto membutuhkan keamanan mandiri (penjagaan private key) dan mengandung risiko tinggi.
  • Kripto menawarkan likuiditas 24/7 dan potensi instan redemption, sementara Reksadana membutuhkan waktu pencairan beberapa hari kerja.
  • Reksadana ideal untuk investor konservatif atau moderat yang mencari kemudahan. Kripto cocok untuk investor agresif yang memiliki toleransi risiko tinggi dan bersedia melakukan cut loss.

Pengertian Reksadana dan Aset Kripto

Reksadana merupakan instrumen investasi kolektif yang menghimpun kumpulan dana investor yang dikelola manajer investasi profesional. Dana yang terkumpul ini kemudian dialokasikan ke berbagai efek. Manajer investasi bertanggung jawab secara fiduciary untuk mengambil keputusan investasi terbaik berdasarkan prospektus reksadana. Karena pengelolaannya dilakukan oleh pihak yang memiliki keahlian di bidang keuangan, reksadana sering dipilih oleh investor pemula yang mencari kemudahan berinvestasi. Dana ini diinvestasikan ke berbagai underlying aset seperti deposito, surat utang, saham, atau instrumen pasar uang.

Di sisi lain, aset kripto adalah bentuk aset digital yang menggunakan teknologi blockchain sebagai sistem pencatatannya. Contoh kripto yang populer adalah Bitcoin, Ethereum, dan Solana. Kripto sering didefinisikan sebagai mata uang digital terdesentralisasi yang memungkinkan setiap transaksi tercatat dalam jaringan desentralisasi tanpa perlu lembaga perantara (trustless system). Ini menjadikan kripto sebagai bagian dari inovasi teknologi finansial yang berkembang pesat dalam dekade terakhir. Aset ini juga sering dikaitkan dengan proyek Web3, NFT, dan ekosistem keuangan terdesentralisasi (DeFi).

Karakteristik Investasi: Stabilitas vs Volatilitas

Ketika membandingkan reksadana dan kripto dari sisi karakteristik aset investasinya, terlihat jelas perbedaan dalam tingkat kestabilan harga. Reksadana cenderung lebih stabil karena isinya berupa portofolio yang terdiversifikasi. Nilai investasi di reksadana tidak terlalu fluktuatif karena prinsip diversifikasi yang melindungi nilai dari kejatuhan satu jenis aset saja.

Sebaliknya, kripto sangat dikenal karena pergerakan harga yang sangat fluktuatif. Nilai tukar kripto dapat berubah drastis dalam hitungan menit, tergantung pada banyak faktor seperti sentimen pasar global, pembaruan teknologi, hingga tweet tokoh berpengaruh. Karakteristik volatilitas pergerakan harga ini membuat kripto bersifat dinamis namun juga penuh ketidakpastian. Ketika pasar masuk fase bear market, harga aset kripto dapat turun jauh lebih dalam dan cepat dibandingkan pasar instrumen investasi tradisional.

Bagi sebagian orang, volatilitas ini memberikan ruang untuk strategi perdagangan jangka pendek. Dalam trading ini, dibutuhkan strategi yang ketat seperti cut loss untuk membatasi kerugian, sementara bagi yang lain, hal ini justru menjadi faktor penghambat karena membutuhkan kesiapan mental dan analisis pasar yang cukup intensif.

Aspek Regulasi dan Keamanan

Reksadana di Indonesia diatur secara resmi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK), yang berfungsi mengatur dan mengawasi seluruh aktivitas pasar modal. Proses ini menjamin bahwa aktivitas investasi berada dalam kerangka hukum yang jelas, dan investor memiliki mekanisme perlindungan yang baku.

Sementara itu, aset kripto masih dalam proses pengembangan regulasi di banyak negara. Meskipun terdapat daftar aset kripto legal yang boleh diperdagangkan di bawah pengawasan BAPPEBTI (sekarang OJK), perlindungan terhadap investor masih terbatas, terutama jika berkaitan dengan risiko teknis seperti smart contract yang cacat, atau penipuan seperti rugpull atau scam yang marak terjadi di ekosistem desentralisasi.

Aspek keamanan pada kripto pun berbeda. Pengguna harus menjaga private key mereka sendiri. Jika akses ke dompet digital hilang atau diretas, tidak ada institusi yang bisa membantu memulihkan aset tersebut. Oleh karena itu, keamanan di dunia kripto sangat bergantung pada kehati-hatian dan literasi teknologi dari masing-masing pengguna.

Likuiditas dan Jangka Waktu Investasi

Likuiditas menjadi salah satu faktor penting yang membedakan reksadana dan kripto. Likuiditas mengacu pada seberapa cepat suatu aset investasi bisa dicairkan menjadi uang tunai. Reksadana memiliki prosedur pencairan yang bisa memakan waktu beberapa hari kerja, tergantung pada jenis reksadananya. Misalnya, Reksadana pasar uang umumnya bisa dicairkan dalam waktu yang relatif singkat.

Di sisi lain, aset kripto diperdagangkan 24 jam nonstop di berbagai platform global. Ini memungkinkan pengguna untuk menjual atau membeli aset kapan pun dibutuhkan. Dalam kondisi normal, proses penarikan di bursa kripto bisa mendekati instan redemption (pencairan instan). Namun, meskipun likuiditasnya tinggi, harga jual bisa berubah sangat cepat.

Dari sisi jangka waktu, reksadana biasanya dirancang untuk tujuan jangka menengah hingga panjang, seperti perencanaan dana pensiun. Aset kripto bisa digunakan untuk jangka panjang (HODL), tetapi karena sifatnya yang volatil, banyak pengguna yang memanfaatkan kripto dalam strategi jangka pendek atau day trading.

Analisis Risiko dan Profil Investor

Setiap instrumen memiliki tingkat risiko sebuah instrumen investasi yang berbeda, dan tidak ada satu jenis investasi yang cocok untuk semua orang. Reksadana umumnya ditujukan untuk investor dengan profil risiko rendah hingga menengah. Jenis seperti Reksadana pendapatan tetap atau Reksadana pasar uang lebih disukai oleh mereka yang dikategorikan konservatif atau moderat yang menginginkan kestabilan.

Sebaliknya, kripto lebih cocok untuk investor dengan toleransi risiko tinggi. Dibutuhkan pengetahuan tentang cara kerja blockchain dan kemampuan untuk membaca tren pasar. Investor yang memilih aset kripto biasanya berada dalam kategori agresif dan lebih aktif dalam melakukan analisis sendiri.

Potensi Keuntungan dan Risiko Kerugian

Dalam konteks potensi keuntungan, reksadana menawarkan hasil yang lebih moderat dan terukur, tergantung pada jenis instrumen yang dipilih. Misalnya, Reksadana saham memiliki potensi pertumbuhan lebih tinggi dibandingkan jenis lain, namun tentu saja dengan risiko yang juga lebih besar.

Aset kripto, karena pergerakannya yang cepat dan tidak terduga, bisa menunjukkan kenaikan nilai yang tajam selama periode bull run, namun juga penurunan drastis dalam waktu singkat. Prinsip yang berlaku di sini adalah High risk high return. Karena itu, banyak analis keuangan menyarankan agar aset kripto hanya menjadi bagian kecil dari pengelolaan portfolio investasi secara keseluruhan, sebagai strategi diversifikasi risiko.

Aspek Pajak dan Biaya Investasi

Dalam hal perpajakan, reksadana di Indonesia dikenakan pajak secara tidak langsung (pajak sudah dikenakan pada level instrumen). Dalam biaya investasi reksadana, investor harus memperhatikan management fee dan custodian fee yang mengurangi potensi keuntungan.

Pemerintah Indonesia juga mulai menetapkan aturan pajak atas transaksi aset kripto. Sejak Mei 2022, transaksi jual beli kripto dikenakan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) serta Pajak Penghasilan (PPh). Selain pajak, biaya investasi di kripto biasanya berupa trading fee yang dibebankan oleh exchange dan gas fee (biaya jaringan) yang harus dibayar saat melakukan transfer di blockchain, yang besarannya bisa sangat fluktuatif.

Memahami Tujuan dan Kebutuhan Pribadi

Memilih antara reksadana atau aset kripto bukanlah perkara menentukan mana yang lebih baik secara mutlak, melainkan lebih kepada memahami mana yang paling sesuai dengan kebutuhan dan profil risiko masing-masing investor. Reksadana memberikan kemudahan, pengawasan ketat, serta kenyamanan bagi mereka yang menginginkan pendekatan pasif. Aset kripto menawarkan peluang yang besar di tengah perubahan teknologi, namun menuntut tingkat literasi dan kesiapan risiko yang lebih tinggi. Edukasi yang memadai dan pendekatan yang bijak akan menjadi kunci dalam menavigasi dunia investasi yang terus berkembang.

Disclaimer: Seluruh informasi yang disampaikan disusun oleh mitra industri dengan tujuan memberikan edukasi kepada pembaca. Kami menyarankan Anda untuk melakukan riset secara mandiri dan mempertimbangkan dengan matang sebelum melakukan transaksi.

Loading...
Blur 2

Belajar, Investasi, dan Tumbuh Bersama Kami

Jadilah bagian dari FLOQ. Mulai perjalanan investasimu dengan platform terpercaya dari hari pertama.

Google PlayApp Store
Blur 2Blur 2Device